Tampilkan postingan dengan label Soft Launching TV Digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soft Launching TV Digital. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2009

Peresmian Uji Coba Lapangan Siaran Digital Untuk Penerimaan Bergerak (Mobile TV)

Jakarta, 3 Agustus 2009

Siaran Pers No. 164/PIH/KOMINFO/8/2009

Setelah sukses dengan peresmian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung SCTV Jakarta dalam rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 2009 yang lalu terhadap uji coba lapangan penyelenggaraan siaran televisi digital untuk penerimaan tetap free to air (yang dilakukan oleh PT Konsorsium Televisi Digital Indonesia dan Konsorsium LPP TVRI – PT Telkom) sebagai kelanjutan soft launching yang telah diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tanggal 13 Agustus 2008 di Gedung TVRI Jakarta, maka Menteri Kominfo Mohammad Nuh pada tanggal 3 Agustus 2009 ini baru saja meresmikan uji coba lapangan siaran digital untuk penerimaan televisi bergerak (Mobile TV) yang dilakukan oleh Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom – Telkomsel – Indonusa.

Kewenangan beberapa konsorsium yang berhak melakukan uji coba tersebut adalah sesuai dengan Pengumuman Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi No. 563/DJSKDI/KOMINFO/11/2008 tentang Penyelenggara Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital , dimana disebutkan, bahwa yang menjadi penyelenggara uji coba lapangan penyelenggaraan siaran televisi digital adalah sebagai berikut: untuk penyelenggara uji coba penerimaan tetap free to air adalah PT Konsorsium Televisi Digital Indonesia dan Konsorsium LPP TVRI – PT Telkom; sedangkan untuk penyelenggara uji coba televisi bergerak (Mobile TV) dengan tehnologi DVB-H adalah Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom – Telkomsel – Indonusa.

Pengumuman tersebut berpedoman pada Peraturan Menteri Kominfo No. 27/P/M.KOMINFO/8/2008 tentang Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital, sehingga konsorsium yang melaksanakan uji coba lapangan siaran digital untuk penerimaan bergerak (Mobile TV) adalah Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa. Khusus untuk Konsorsium Tren Mobile TV ini telah mulai melaksanakan uji coba pada bulan Maret 2009 dengan menggunakan sistem OMABICASS dengan pemancar yang terpasang di gedung Menara Kebon Sirih dan dapat menjangkau wilayah Jakarta Pusat. Kanal yang digunakan oleh Tren Mobile TV dalam uji coba adalah pada kanal 24 UHF.

Jumlah program yang disiarkan oleh Tren Mobile TV adalah sebanyak 10 program yaitu TVRI, RCTI, TPI, Global TV, MNC News, CNN, Al Jazeera, Bloomberg, MNC Music dan MNC Entertainment. Perangkat penerima siaran DVB-H yang akan didistribusikan kepada perwakilan masyarakat (yang ditunjuk oleh Departemen kominfo) dalam rangka uji coba Tren Mobile YV ini adalah sebanyak 50 handset berupa handphone merk Nokia seri N77. Guna untuk mendukung kualitas penerimaannya, Tren Mobile TV telah menandatangani Nota Kese dengan BPPT untuk melakukan pengukuran kuat dan kualitas sinyal siaran Tren Mobile TV.

Sedangkan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa telah mulai melaksanakan uji coba sejak tanggal 20 April 2009 yang menggunakan 2 unit pemancar dengan sistem OSF. Pemancar dengan daya pancar 400 Watt dipasang di Gedung Kementerian Negara BUMN dan 1 kWatt dioperasikan di Gedung Kantor Telkom JI. Gatot Subroto, Jakarta . Kedua pemancar tersebut dapat menjangkau wilayah Jakarta Pusat dan sebagian Jakarta Selatan. Kanal yang digunakan oleh Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa dalam uji coba adalah pada kanal 26 UHF dengan menggunakan Single Frekuensi Network (SFN) karena menggunakan dua pemancar.

Jumlah program yang disiarkan oleh Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa dari kanal 26 sebanyak 8 program yaitu 5 program yang free berupa Tech Sport, CNN, Tres TV, Spacetoon, dan TV Edukasi, dan 3 program yang diacak (scrambled) berupa program dari National Geographic, National Adventure, dan MGM Sport. Perangkat penerima siaran DVB-H yang akan didistribusikan kepada perwakilan masyarakat dalam rangka uji coba adalah sebanyak 50 unit alat penerima yang sebagian berupa handphone Samsung dan sebagian berupa receiver merk Quantum.

Tujuan utama uji coba lapangan siaran digital untuk penerimaan bergerak (mobile TV) ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan teknis dan nonteknis, yang kemudian akan dievaluasi untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi model bisnis yang sesuai. Target penyusunan regulasi dan implementasi penyelenggaraan siaran digital untuk penerimaan bergerak (mobile TV) adalah akhir bulan Maret 2010. Hanya saja, berbeda dengan pelaksanaan peresmian uji coba tanggal 20 Mei 2009 tersebut, maka pada peresmian uji coba ini sekalian dilakukan penyerahan unit alat penerima. Sedangkan pada peresmian terdahulu, penyerahan secara simbolis alat penerima berupa set up box (STB) dilakukan pada tanggal 26 Juni 2009 oleh Dirjen SKDI Freddy Tulung yang mewakili Menteri Kominfo.

—————–

Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Kominfo (Gatot S. Dewa Broto, HP: 0811898504, Email: gatot_b@postel.go.id , Tel/Fax: 021.3504024).

Mari Beralih ke Digital Mobile TV

77505
TV digital pertama di Indonesia, 47LH50YD, resmi beredar 9 Juni lalu setelah lolos pengujian BPPT.
Senin, 3 Agustus 2009 | 20:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com
— Tren perkembangan televisi nampaknya akan segera beralih dari siaran analog menjadi digital. Dengan menggunakan media, seperti telepon genggam, personal digital assistance (PDA), maupun notebook, penonton akan ditawarkan tayangan televisi digital dengan kualitas yang lebih baik.


Hal ini dimungkinkan dengan mulai diujicobakannya siaran televisi digital untuk penerimaan bergerak (mobile TV) oleh Departemen Komunikasi dan Informasi, pada Senin (3/8). Uji coba ini merupakan kelanjutan setelah sebelumnya, pada Mei 2009, Depkominfo meluncurkan uji coba untuk siaran digital penerimaan televisi tetap.

Peluncuran uji coba ini diharapkan akan mengawali era baru bagi masyarakat Indonesia dalam menonton pada televisi bergerak. "Teknologi siaran televisi digital diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa kemudahan-kemudahan bagi masyarakat," kata Menteri Komunikasi dan Informasi Mohammad Nuh dalam sambutannya pada peluncuran uji coba tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Menkominfo secara simbolik menyerahkan handset berupa telepon genggam penerima siaran televisi digital kepada Agni Pratistha dan Annisa Septi sebagai duta Digital Mobile TV.

Menurut Annisa, siaran televisi digital ini akan memberikan sebuah kenyamanan baru dalam menikmati hiburan bagi orang-orang yang aktif dan dinamis seperti dirinya. "Sebagai mahasiswi dengan aktivitas yang cukup padat, siaran ini dapat memberikan hiburan dengan kualitas terbaik di tengah kesibukan saya," ujar mahasiswi pada Universitas Trisakti ini.

Jika sebelumnya masyarakat biasa disuguhi tayangan dengan siaran analog yang kualitasnya bergantung pada frekuensi siaran. Maka, dengan siaran televisi digital, penonton akan disuguhi tayangan dengan kualitas gambar yang prima dan tajam karena tidak lagi bergantung pada frekuensi pemancar.

Penonton juga akan dimanjakan dengan kualitas gambar yang stabil, sekalipun berada dalam kendaraan yang melaju kencang. Kualitas ini dimungkinkan dengan adanya teknologi pada siaran televisi digital yang melakukan konvergensi antara gambar (video), data (internet), dan suara (voice).

Untuk sementara ini, masyarakat dapat menikmati siaran uji coba yang diselenggarakan oleh dua konsorsium yang ditunjuk oleh Depkominfo, yakni Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa.

Tren Mobile TV merupakan konsorsium dari MNC Group, RCTI, Global TV, TPI, dan Infokom Elektrindo. Pada siarannya, Tren Mobile TV menyajikan 11 kanal, antara lain siaran TVRI, RCTI, TPI, Global TV, Aljazeera, CNN, dan sebagainya.

Adapun Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa menawarkan delapan saluran, anatara lain MGM, National Geographic Channel, Tensports, CNN, TVRI, dan lainnya.

Walau demikian, meski menawarkan kualitas dan kenyamanan baru dalam menonton televisi, siaran digital kedua konsorsium tersebut saat ini baru dapat dinikmati oleh sebagian warga Jakarta. Dengan menggunakan sistem OMBICASS pada kanal 24 UHF dengan pemancar yang terpasang di Menara Kebon Sirih, saat ini siaran Tren Mobile TV baru menjangkau wilayah Jakarta Pusat.

Adapun siaran Telkom-Telkomsel-Indonusa akan menjangkau wilayah Jakarta Pusat dan sebagian Jakarta Selatan. Siaran yang menggunakan dua pemancar pada Gedung Kementerian Negara BUMN dan Gedung Kantor Telkom Jalan Gatot Subroto ini dapat disaksikan pada kanal 26 UHF dengan menggunakan single-frequency network (SFN).

Menurut Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi (SKDI) Depkominfo Freddy Tulung, adanya siaran digital pada televisi bergerak ini diharapkan semakin menumbuhkan dunia industri kreatif Indonesia. "Semoga dengan uji coba pada siaran digital mobile TV ini akan semakin mengembangkan dunia industri, terutama industri kreatif di Indonesia," pungkas Freddy. Tertarik untuk mulai beralih ke TV digital?

Jumat, 19 Juni 2009

Meraup Duit Tambahan dari Layanan Bernilai Tambah

52647
ilustrasi
Kamis, 18 Juni 2009 | 18:15 WIB

Oleh Dian Pitaloka Saraswati

PEKAN lalu para pengguna telepon seluler (ponsel) di Jakarta dan kota-kota satelitnya membanjiri Indonesia Celluler Show (ICS) 2009 di Jakarta Convention Centre Senayan Jakarta. Berbagai fitur, layanan, dan produk baru muncul di pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut.

Para operator ponsel menawarkan beragam layanan bernilai tambah alias value added services (VAS), berupa teks, gambar, video, maupun games. VAS menjadi tambang duit karena tarifnya masih tinggi, yakni antara Rp 1.000-Rp 2.000 per konten. Jelas tarif setinggi itu lebih menggiurkan ketimbang tarif yang mereka pungut dari bisnis pesan singkat alias SMS.

Para operator tak cuma menjual VAS secara ketengan, tetapi juga secara langganan. Tarif yang mereka pancang beragam. Langganan ring back tones, sekadar contoh, bertarif antara Rp 5.000-Rp 6.000 per lagu untuk masa langganan selama satu bulan.

Makin laris, makin kecil

Ada dua alasan sehingga tarif VAS begitu mahal. Pertama, layanan tambahan itu membutuhkan investasi besar. Kedua, VAS melibatkan pihak ketiga, yakni content provider. Pendapatan yang terkumpul dari pelanggan harus mereka bagi dengan penyedia muatan layanan. Operator ponsel yang mapan seperti Indosat, Excelcomindo (XL), dan Telkomsel menggandeng sampai sekitar 85 content provider.

Saat ini tersedia sekitar 120 macam layanan VAS. Penambahan konten acap mengikuti tren atau peristiwa tertentu, seperti musim liburan sekolah, Natal, Lebaran, atau tahun baru.
Kontribusi VAS terhadap penerimaan operator memang tak terlalu signifikan, hanya antara 5% sampai 8% dari total pendapatan operator.

"Namun growth-nya bisa lebih dari 30% per tahun," kata VP VAS and New Services Exelcominda. I Made Harta Wijaya. Tahun lalu, pendapatan XL dari VAS mencapai Rp 658 miliar. Tahun ini XL menargetkan pertuinbuhan VAS 45%.

Imutnya kontribusi VAS juga terjadi di Indosat. Tahun lalu VAS hanya menyumbang sekitar 6% total pendapatan operator yang mayoritas sahamnya dimiliki Qatar Telecom itu. "Namun pertumbuhan pendapatan VAS sekitar 25% per tahun," kata Grup Head Gaming dan Content Indosat Judhy N. Adhitianto.

Oh, iya, porsi bagi hasil untuk operator juga tak mutlak. Semakin laris suatu konten, kian sedikit bagian yang dinikmati oleh operator. "Share kami tinggal 35%, jika pemasukan konten melampaui Rp 200 juta per bulan," kata Judhy.

Maklum, agar bisa melampaui Rp 200 juta per bulan, content provider harus mengeluarkan dana tidak sedikit. Mereka harus membayar lisensi, biaya promosi, dan biaya. "Khusus untuk konten eksklusif, biasanya jatah operator besar karena promosi kami yang pegang," kata Judhy.

Memang ada operator yang memproduksi konten sendiri, tanpa keterlibatan pihak ketiga. Ambil contoh, "3" yang menawarkan VAS berupa fotofoto pemain klub papan atas Liga Inggris Manchester United. "Tarif konten produksi sendiri memang berbeda," ujar Patricia Tedjasendjadja GM Pemasaran VAS Hutchison Charoen Phokpand, operator "3".

Menurut Patricia, ada beberapa faktor yang membuat bisnis VAS tumbuh semakin pesat dibanding layanan lain. Pertama, harga handset makin murah seiring tarif pulsa yang juga kian merata telah menyebabkan jumlah pelanggan meningkat pesat. Kedua, semakin banyak artis atau public figure lain bersedia menjadi narasumber konten. Ketiga, banyaknya akses untuk membeli konten.

Ada Teks, Musik, Games, hingga Siaran TV Digital

Dari sisi komersial, layanan bernilai tambah (VAS) bermuatan teks yang mencantumkan kegiatan artis, ramalan, dan pesan-pesan inspiratif menduduki peringkat pertama. Urutan berikutnya dihuni layanan ringbaek tone (RBT) dan games.

"RBT dan text content saling bersaing," kata VP VAS and New Services Exelcomindo I Made Harta Wijaya.

Menurut General Manager Pemasaran VAS Hutchison Charoen Phokpand Patricia Tedjasendjadja, pelanggan menggemari konten teks dan RBT karena beberapa hal. Pertama, tidak memerlukan jenis handset tertentu. Kedua, mayoritas pelanggan menyukai musik dan ada dukungan dari industri rekaman (label). Ketiga, menggunakan mekanisme berlangganan.
Selain RBT, teks, dan games, nyaris tidak ada inovasi baru dalam layanan VAS.

Kendati begitu, operator berupaya mendatangkan hal-hal baru. Ambil contoh, "3" memberikan layanan konten Manchester United berupa logo dan foto pemain dengan tarif hanya Rp 300 per konten. Lebih murah daripada tarif VAS lain yang bertarif di atas Rp 1.000 per konten.

Sementara operator seperti Indosat memilih memperbarui tampilan VAS di layar ponsel. Operator seluler terbesar kedua ini juga berupaya membenahi layanan VAS dengan meluncurkan TV digital. Layanan TV digital tersebut bernama Digital Video Broadcasting - Handheld (DVB-H) atawa siaran TV digital yang dapat dinikmati langsung dari layar ponsel.

Siaran TV digital tersebut saat ini. bisa dinikmati secara gratis hingga akhir Desember 2009. Layanan tersebut diakses dari berbagai jenis ponsel, tapi dengan tipe tertentu. Seperti Nokia, I,G, Samsung, Philips, Gigabyte (G-smart), Sagem dan ZTE.

Siaran TV digital ini juga dapat dinikmati melalui jaringan hotspot atau WiFi IndosatNet di ber-bagai lokasi umum. Seperti di mal, restoran dan pertokoan. Bagi Anda pengguna handset yang sudah memiliki aplikasi DVB-H, silakan mencari frekuensi TV gigital tersebut di kanal 24 UHF. Sedangkan bagi Anda pengguna notebook atau handset yang memiliki akses WiFi, cakup aktifkan WiFi ketika selang berada di lokasi hotspot Indosatnet. Setelah terhubung, pelanggan tinggal melakukan koneksi ke hotspot tersebut.

Keunggulan siaran TV digital terletak pada kualitas gambar dan suara yang tajam dan jernih, berbeda dengan TV analog yang gampang terputus. "Kami berharap masyarakat dapat mengakses informasi Siaran TV, di mana saja dan kapan saja melalui ponsel dengan kualitas gambar dan suara yang jauh lebih baik," ungkap Suharso, Group Head Value Added Service Marketing Indosat. Siaran TV ini masih gratis.

Sumber: KONTAN

Jumat, 12 Juni 2009

Layanan TV Lewat Ponsel Diuji Coba

Jumat, 12 Juni 2009 | 04:00 WIB

Jakarta, Kompas - Konsorsium Tren Mobile TV bekerja sama dengan Indosat, Kamis (11/6), mulai menguji coba layanan penyiaran televisi digital lewat telepon seluler. Jangkauan siaran TV digital yang menggunakan sistem DVB-H (digital video broadcasting–handheld) ini meliputi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Hal ini disampaikan Direktur Infokom Elektrindo Susilo H Sumarsono, salah satu anggota konsorsium tersebut, dalam acara peluncuran uji coba layanan itu di Indonesia Cellular Show di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis. Dalam uji coba DVB-H ini selain Tren Mobil TV juga dilakukan oleh konsorsium Telkom.

Untuk penyiaran DVB-H telah terpasang menara (tower) di Kebon Sirih berkapasitas 500 W yang akan ditingkatkan menjadi 1,2 kW. Pada tahap komersial tahun 2010 akan terbangun beberapa tiang pemancar lainnya, yaitu di Kebon Jeruk dan Sentul, serta daerah antara Bekasi dan Cikarang.

”Tren Mobile TV menyediakan 10 kanal siaran yang dapat dinikmati masyarakat melalui layanan TV digital pada ponsel,” kata Susilo menjelaskan.

Uji coba itu, kata Suharso W Sulistyo, Group Head Value Added Service Marketing Indosat, akan dilakukan hingga akhir tahun ini, bukan hanya aspek stabilitas teknis, tetapi juga proses bisnis, registrasi, dan pembayaran.

Akses layanan siaran TV digital ini dapat dilakukan antara lain oleh pengguna telepon genggam yang didukung layanan DVB-H seperti N-77 dan N-96. Untuk itu perlu dilakukan pengaktifan aplikasi DVB-H pada sarana tersebut.

Selain itu, layanan ini dapat diakses pengguna laptop yang dilengkapi sistem WiFi. Dengan sistem itu dapat dilakukan pelacakan hotspot Indosatnet.

Menurut Marketing and Programming Director Oke Vision Irwanto Hadikusuma, layanan melalui WiFi menggunakan sistem DVB-H merupakan yang pertama di dunia. (YUN)

Indosat Hadirkan Layanan Siaran TV Digital di Ponsel

Kamis, 11 Juni 2009


PT Indosat Tbk dan Konsorsium Tren Mobile TV menggratiskan layanan siaran TV digital pertama berstandar digital video broadcasting handheld pertama di Indonesia. Suharso, Group Head Value Added Service Marketing Indosat, menuturkan melalui layanan tersebut masyarakat sudah dapat mengakses informasi dari siaran TV di mana saja dan kapan saja melalui ponsel.

"Siaran TV digital ini dapat dinikmati secara gratis hingga akhir Desember 2009," ujarnya. Menurut dia, siaran tersebut dapat diakses oleh berbagai jenis ponsel dengan jenis dan tipe tertentu dari merek Nokia, LG, Samsung, Philips, Gigabyte (G-smart), Sagem, dan ZTE.

Kerja sama tersebut mengandalkan jaringan frekuensi radio kanal 24 ultra high frequency dan melalui jaringan hotspot atau Wi-fi IndosatNet di berbagai lokasi umum seperti di mal, restoran, dan pertokoan.

Konsorsium Tren Mobile TV telah memancarkan 10 saluran siaran televisi bergerak digital yang dapat diterima peranti handset khusus menyusul rencana peresmian uji coba layanan mobile TV pada Juni.

Haris Jauhari, Pemrogram & Media Relations Konsorsium Tren Mobile TV, menuturkan siaran tersebut sudah berjalan dengan 10 saluran, yaitu TPI, RCTI, Global TV, MNC News, MNC Entertainment, MNC Music, TVRI, Aljazeera, Bloomberg, dan CNN.

Menurut Haris, layanan tersebut digratiskan bersamaan dengan pelaksanaan uji coba di bilangan Kebon Sirih wilayah Jakarta Pusat menggunakan pemancar berdaya 500 watt (digital) yang ke depannya akan ditingkatkan menjadi antara 1,2 kilowatt dan 3 kilowatt. "Pada saatnya ini menjadi 5 kilowatt untuk dapat menjangkau Jabodetabek," jelasnya kepada Bisnis.

Konsorsium merumuskan model bisnis layanan tersebut, termasuk memperhitungkan keunggulan kompetitifnya dan menguji teknisnya.

Keunggulan dari siaran TV digital ini terdapat pada kualitas gambar dan suara yang lebih tajam dan jernih, apabila dibandingkan dengan siaran TV berbasis analog.

Akses layanan siaran TV digital ini dapat dilakukan antara lain oleh pengguna handset yang didukung layanan DVB-H seperti N77 atau N96 cukup dengan cara mengaktifkan aplikasi DVB-H dari handset dan otomatis handset akan melakukan searching frekuensi mobile TV.

Adapun, untuk pengguna laptop atau handset yang didukung Wi-Fi cukup dengan cara mengaktifkan fitur tersebut dan melakukan searching hotspot IndosatNet kemudian melakukan koneksi ke hotspot tersebut.

Sumber: Bisnis Indonesia

Indosat Hadirkan Siaran Digital di Ponsel

Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Jakarta - Indosat bekerja sama dengan Konsorsium Tren Mobile TV memperkenalkan layanan baru berupa DVB-H (Digital Video Broadcasting – Handheld), yaitu layanan siaran TV digital yang dapat dinikmati langsung dari layar ponsel.

Siaran TV digital yang saat ini dapat dinikmati secara gratis hingga akhir Desember 2009, dapat diakses oleh berbagai jenis ponsel dengan jenis dan tipe tertentu dari merk Nokia, LG, Samsung, Philips, Gigabyte (G-smart), Sagem dan ZTE.

Selain dapat dinikmati melalui jaringan frekuensi radio kanal 24 (Ultra High Frequency), siaran tv digital ini juga dapat dinikmati melalui jaringan Hotspot/Wi-fi IndosatNet di berbagai lokasi umum seperti di mal, restoran dan pertokoan.

Keunggulan dari siaran TV digital ini terdapat pada kualitas gambar dan suara yg lebih tajam dan jernih, jika dibandingkan dengan siaran TV berbasis analog.

"Dengan inovasi ini kami mengharapkan masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dari siaran TV di mana saja dan kapan saja melalui ponsel mereka, dengan kualitas gambar dan suara yang jauh lebih baik," ungkap Suharso, Group Head Value Added Service Marketing Indosat, Selasa (9/6/2009).

Akses layanan siaran TV Digital ini dapat dilakukan antara lain oleh pengguna handset yang didukung layanan DVB-H (seperti N77 atau N96) cukup dengan cara mengaktifkan aplikasi DVB-H dari handset dan otomatis handset akan melakukan searching frekuensi mobile TV.

Sedangkan untuk pengguna Laptop atau handset yang support WIFI, cukup dengan cara mengaktifkan WIFI-nya dan melakukan searching hotspot Indosatnet kemudian melakukan koneksi ke hotspot tersebut.

Tren Mobile TV telah menyediakan 10 channel yang dapat dinikmati oleh masyarakat melalui layanan TV digital ini.

( rou / faw )

Indosat Luncurkan Layanan TV Digital

Kamis, 11 Juni 2009 | 20:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Indosat meluncurkan layanan siaran televisi digital yang bisa diakses melalui ponsel maupun koneksi wifi hari ini, Kamis (11/6) di Jakarta Convention Center. Indosat menggandeng Konsorsium Tren Mobile TV dan memulai siaran uji coba sejak Maret lalu.

Group head value added service marketing Indosat Suharso W. Sulistyo mengatakan dengan layanan ini pelanggan bisa mengakses siaran televisi digital kapan saja dan di mana saja lewat ponsel. "Dengan kualitas gambar dan suara yang lebih baik," katanya. Tetapi tentu saja ponsel yang digunakan harus memiliki kemampuan atau fitur menangkap siaran televisi digital.

Sementara itu juru bicara konsorsium Tren Mobile TV, Susilo H. Sumarsono mengatakan mereka bekerjasama dengan Indosat dan IM2 untuk mengkonversi siaran televisi digital ke jaringan nirkabel wifi. "Jadi selain menggunakan ponsel anda bisa mengakses televisi digital lewat laptop dengan memanfaatkan koneksi wifi-nya Indosat," ujarnya.

Jika mengakses lewat ponsel, kata Susilo pengguna cukup menyalakan fitur televisi digital lalu menjalankan menu search chanel. Tetapi ponsel yang mendukung baru beberapa saja yaitu: Samsung SGH P910, Nokia N77, Nokia N92 dan ZTE N7100. Jika mengakses lewat laptop pengguna tinggal mengatur alamat IP khusus yang digunakan untuk mengakses layanan ini.

Pelanggan bisa memanfaatkan layanan ini secara gratis sampai akhir tahun nanti. "Sekarang ada 10 chanel yang tersedia," kata Susilo. Chanel tersebut adalah CNN, Global TV, TVRI, RCTI, TPI, Al Jazeera, MNC News, MNC Music, MNC Entertainment, Infokom dan menyusul Cartoon Network.

Tetapi karena baru dalam masa uji coba jangkauan wilayah yang bisa menikmati televisi digital Indosat juga terbatas. "Saat ini tower pemancarnya ada di Kebon Sirih. Jadi wilayah yang bisa menerima dalam radius lima kilometer dari Kebon Sirih," kata Sumarsono. Rencananya, lanjutnya di seluruh Jakarta nantinya akan dibangun tiga tower sebagai pemancar siaran televisi digital.

"Satu tower lagi di Joglo dan satu lagi di area antara Bekasi dan Cikarang," kata Sumarsono.

Soal kualitas memang dipastikan televisi digital mampu mengirimkan gambar yang jauh lebih baik, dibandingkan televisi analog maupun streaming video lewat internet. Namun soal harga, Sumarsono juga mengatakan bakal lebih murah daripada televisi berbayar. Apalagi siaran televisi ini tidak menggunakan jalur seluler sehingga tidak akan menyerap pulsa.

"Model bisnisnya memang belum ditentukan karena pemerintah juga belum menentukan kapan secara remsi ini diluncurkan," ujarnya. Namun Sumarsono memperkirakan bakal ada model-model paket yang ditawarkan seperti yang saat ini dijalankan oleh televisi berbayar. Dan menurutnya biaya langganan tidak akan lebih dari Rp 100 ribu per bulan.

KARTIKA CANDRA

Jumat, 09 Januari 2009

Kesiapan Industri Penyiaran dalam Implementasi TV Digital

Bernardus Satriyo Dharmanto

Lokomotif migrasi penyiaran TV dan Radio dari Analog ke Digital telah dijalankan oleh pemerintah sejak dilakukan soft launching siaran TV digital oleh TVRI tanggal 13 Agustus 2008 lalu. Hal ini telah membuat para pelaku industri penyiaran harus berbenah menghadapi perubahan-peruhan yang terjadi. Paling tidak ada beberapa perubahan yang harus dihadapi, antara lain perubahan regulasi, alokasi frekuensi, model bisnis dan perubahan teknologi yang digunakan. Semuanya memberikan konsekuensi yang beragam bagi para stakeholder industri ini.

Tidak dipungkiri bahwa sekilas tampak pemerintahlah yang paling banyak memperoleh digital deviden dari migrasi ini, yaitu semakin banyaknya alokasi frekuensi yang dapat “dijual” kepada para pelaku bisnis penyiaran TV. Sementara para pelaku bisnis dari kalangan swasta seolah harus puas menghadapi digital consequent nya, tanpa bisa berbuat banyak demi menjaga kesempatan untuk tetap berbisnis di bidang ini. Namun bila lebih jauh dipelajari, sebenarnya proses migrasi ini dapat memberikan deviden bagi seluruh stakeholder. Hal ini sangat tergantung dari kesiapan masing-masing pihak dalam menyikapinya.

Selain pemerintah, beberapa pihak telah melakukan persiapan menghadapi migrasi ini. Para pelaku industri penyiaran, dalam hal ini industri radio dan televisilah yang paling banyak terlihat melakukan persiapan. Industri penyiaran TV telah melakukan ujicoba siaran digital melalui pembentukan konsorsium TV digital yang khusus disiapkan untuk menyesuaikan diri dengan model bisnis TV digital. Ini juga mengawali satu era dimana Diversity of Ownership telah dapat mulai diposisikan kembali secara proposional, walau belum optimal.

Disamping itu, kesiapan industri elektronik nasional dalam era penyiaran digital ini perlu diperhatikan, karena sejak awal banyak pihak telah memberikan warning bahwa migrasi ke digital ini jangan sampai hanya mampu memposisikan kita sebagai bangsa pemakai saja, kita berkeinginan sejak awal bahwa industri nasional kita dapat memberikan warna dan berperan aktif dalam migrasi ini.

Industri Set Top Box (STB)

Dibutuhkan kerja sama banyak pihak misalnya antar lembaga riset nasional seperti BPPT, LIPI, PUSPIPTEK dan lembaga riset perguruan tinggi untuk mendukung industri elektronika dalam negeri, agar mampu menghasilkan produk-produk industri yang dapat mendukung migrasi ini. Juga dibutuhkan kebijakan keberpihakan pemerintah untuk memberikan dukungan, sehingga industri kita benar-benar siap untuk ikut berperan serta dalam migrasi ini.

Pemerintah dapat mendorong pelaku industri dalam negeri untuk mengembangkan dan mendesain STB khas Indonesia, misalnya yang dilengkapi menu berbahasa Indonesia, memiliki EPG (Electronic Program Guide) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan masyarakat Indonesia, mempunyai fitur aplikasi khusus untuk kebutuhan peringatan dini akan datangnya bahaya bencana yang dikenal dengan nama EWS (Early Warning System), serta perangkat STB yang akan beredar di Indonesia tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah SNI (Standar nasional Indonesia) agar dapat menjamin perlindungan terhadap konsumen.

Standardisasi nasional STB ini diperlukan agar pasar kita tidak dibanjiri oleh STB buatan luar negeri, yang mungkin jauh lebih murah dibandingkan dengan STB nasional. Salah satu bentuk proteksi kepada konsumen agar tidak menggunakan STB berharga murah namun berkualitas relatif rendah adalah dengan memberlakukan standardisasi STB Indonesia dengan mengharuskan label SNI. Selain itu, perlu dipertimbangkan kerja sama dengan pihak operator TV penyiaran agar hanya STB nasional saja yang bisa menangkap siaran televisi digital terestrial di Indonesia. Pola perlindungan konsumen semacam ini sudah dilakukan oleh beberapa negara.

Standar STB ASEAN

Gagasan untuk membuat satu standar STB secara regional juga telah dibicarakan di negara-negara anggota ASEAN melalui forum yang telah dibentuk bernama ADB (ASEAN Digital Broadcasting), yang beranggotakan para pejabat di lingkungan MIC (Minister of Information and Communication) di kawasan ASEAN, dimana Indonesia merupakan salah satu anggota yang aktif menjadi pemimpinya. Tanggal 16-17 November 2008 lalu bahkan Indonesia telah berhasil menyelenggarakan pertemuan ADB ini di Bali, sebagai tindak lanjut pertemuan ADB pada 19 Juni 2008 di Singapura. Hanya saja, saat ini belum terjadi kesepakatan final penentuan standar transmisi TV digital di ASEAN ini. Akan tetapi, ide satu standar STB ASEAN tampaknya harus bisa segera terealisasi.

Saat ini begitu mudah diketemukan STB dengan harga murah di pasar internasional atau pasar online, seperti produk yang berasal dari China, Taiwan dan India. Harganya hanya berkisar USD20-30, tergantung feature yang ditawarkan. Dengan memberi peluang sebesar mungkin kepada industri domestik dalam mengembangkan dan memproduksi STB, diharapkan dapat dihasilkan STB yang walau harganya sedikit lebih mahal namun tetap terjangkau masyarakat kita. Yang jauh lebih penting adalah kualitasnya agar dapat dipertanggung jawabkan dan after sales servicenya juga dapat terjamin. Pertimbangan penentuan harga STB ini tentu berdasarkan jumlah pemirsa televisi di Indonesia yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pemirsa TV di negara lain.

Diketahui bahwa salah satu cara untuk menekan harga STB, antara lain, dengan meminimalkan fiturnya. Hal itu karena sistem penyiaran TV digital memungkinkan memberikan banyak layanan yang bisa diakses oleh pemirsanya, dengan menggunakan STB yang sesuai (compatible). Makin banyak fitur yang dapat dinikmati, maka berkonsekuensi pada harga STB yang akan makin mahal.
Sejak awal tahun lalu, pemerintah telah membentuk tiga WG (working group) implementasi TV Digital yaitu WG Regulasi TV Digital, WG Master Plan Frequency dan WG Teknologi Peralatan. WG yang disebut terakhit itulah yang memiliki tugas pokok untuk melakukan persiapan implementasi migrasi analog ke digital, dengan membuat spesifikasi teknik peralatan pemancar dan alat bantu penerima siaran digital, penyusunan basic specifications set-top box (STB), melakukan koordinasi dengan perusahaan elektronika nasional untuk pembuatan alat bantu penerima siaran digital, dan berkoordinasi dengan pihak industri mengenai kesiapan penyediaan STB. Saat ini telah diusulkan dan hampir disahkan spesifikasi STB antara lain adalah MPEG2 - SDTV, EPG terbatas, No Facility Dolby dan Affordable price per unit.

Untuk kesiapan STB, beberapa industri dalam negeri telah menyatakan kesiapan untuk bersama-sama menyediakan sejumlah STB bagi para broadcasters dalam ujicoba siaran TV Digital, yaitu 1500 untuk KTDI dan 500 untuk konsorsium TVRI dan PT. Telkom. Detail bisnis model pelaksanaan penyediaan STB sedang didiskusikan diantara boadcaster dan industri STB.

Perangkat siaran TV Digital

Disamping STB di sisi penerimanya, sistem siaran TV Digital memerlukan beberapa perangkat di sisi transmisinya. Perangkat Encoder berfungsi untuk mengolah sinyal Audio dan Video analog menjadi signal Transport Stream berformat ASI (Asynchronous Serial Interface). Biasanya diperlukan beberapa encoder sekaligus agar sinyal yang ditransmisikan memiliki kapasaitas multi program siaran. Signal ASI keluaran beberapa encoder tersebut kemudian dimultiplex menggunakan perangkat Multiplexer untuk diperoleh signal multi program Transport stream. Signal ini kemudian didistibusikan dan dimodulasi untuk kemudian dipancarkan secara terrestrial menggunakan DVB-T Transmitter kepada pelanggan. Ada beberapa merek encoder yang beredar antara lain Tandberg, Scopus, Tiernan, Harmony, dll. Perangkat DVB-T Trasmitter yang terkenal antara lain R&S, Thales, Electronica, UBS, dll.

Disamping itu mutlak diperlukan perangkat DVB-T Monitoring system, untuk menjaga QoS (Quality of Service) siaran TV Digital. Karena sifat signal TV digital adalah bersifat non linear, dimana disamping kita harus menjaga signal strength pada level tertentu, juga diperlukan monitoring signal quality agar siaran tetap dapat diterima oleh pelanggan dengan kualitas prima. Perangkat QoS ini menjadi mandatori atau mutlak diperlukan dalam jaringan TV Digital. Beberapa merk perangkat QoS monitoring yang terkenal antara lain Pixelmetrix, R&S dan Textronix.

Ujicoba Siaran TV Digital

Telah dilakukan ujicoba skala laboratorium Set Top Box yang dikembangkan oleh industri STB dalam negeri seperti PT. INTI, Polytron bekerjasama dengan PTIK-BPPT. Pihak BPPT bersama PT. LEN melalui program Insentif Ristek 2008 saat ini juga sedang melakukan riset tentang pengintegrasian digital-exciter dari luar negeri dengan Power Amplifier milik PT. LEN sebesar 250 watts dan berhasil diuji coba di tanggal 13 Agustus 2008. Signal hasil integrasi ini telah diukur menggunakan alat ukur Pixelmetrix dengan hasil memuaskan.

Telah dilakukan ujicoba-terbatas Pemancar DVB-T dan STB khusus untuk bulan Agustus-Nopember 2008. Ujicoba ini atas kerjasama beberapa perusahaan seperti TVRI, Telkom, BPPT, PT. LEN, Pixelmetrix, dll, setelah dilakukan softlaunching oleh bapak Wakil presiden 13 Agustus 2008 lalu. Penetapan uji coba Lokasi Pemancar di lokasi TVRI-Senayan.

Uji coba Siaran TV Digital akan segera dimulai bulan Januari 2009 ini, baik untuk siaran free-to-air berbasis standard DVB-T maupun untuk siaran mobile-TV yang berbasis open standard. Ujicoba ini akan dilaksanakan oleh konsosrsium penyelenggara infrastruktur.

Penyelenggara infrastruktur penyiaran digital adalah pihak yang memiliki fungsi multiplexing dan Fungsi pemancaran. Multiplexing bertindak menyediakan jasa distribusi bandwidth (slot) dalam 1 kanal frekuensi untuk digunakan oleh bermacam– macam jenis program siaran sehingga efisien dan optimal. Fungsi pemancaran : Membangun infrastruktur pemancar penyiaran digital sesuai aturan – aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah (Depkominfo), mulai dari antena pemancar, menara, saluran penghubung dari terminal output content, hingga komponen – komponen infrastruktur lainnya sehingga pentransmisian program siaran digital berjalan dengan baik dan tidak mengalami gangguan.

Pada penyiaran digital penerimaan tetap free-to-air, diusulkan agar penyelenggara infrastruktur untuk TV digital DVB-T adalah juga penyelenggara infrastruktur radio digital T-DAB. Dengan demikian, pada 1 wilayah layanan hanya akan ada 1 menara pemancar utama yang digunakan secara bersama oleh semua penyelenggara infrastruktur penyiaran digital di wilayah tersebut, ditambah dengan menara – menara tambahan di daerah – daerah yang kualitas penerimaannya kurang baik serta menara – menara yang bertindak sebagai gap filler.

Untuk melakukan kedua fungsi tersebut dengan baik, maka penyelenggara infrastruktur diberikan izin penggunaan frekuensi yang sifatnya berbatas waktu (tidak untuk dimiliki selamanya) dan direncanakan akan berupa ijin pita frequency.

Menurut dokumen yang dikeluarkan Kominfo, persyaratan penyelenggara infrastruktur antara lain telah memiliki infrastruktur eksisting di lapangan, berupa menara pemancar, leased line (Fiber optic, Microwave link, satelit, dll) dengan kapasitas pentransmisian dan jangkauan yang memadai untuk menampung sejumlah slot dari kanal yang diberikan haknya di wilayah yang akan dilayani. Persyaratan lainnya adalah mampu menyediakan link bagi kebutuhan penyelenggaraan penyiaran berjaringan dengan memiliki atau bekerjasama dengan penyelenggara infrastruktur telekomunikasi lainnya.

Konsorsium Siaran TV Digital

Pemerintah telah menetapkan 4 ( empat) konsorsium Lembaga penyiaran sebagai penyelenggara ujicoba, yaitu 2 penyelenggara siaran free-to-air DVB-T dan 2 lainnya penyelenggara untuk siaran mobile TV (DVB-H). Penyelenggara siaran free-to-air DVB-T terdiri dari konsorsium TVRI dan PT. Telkom dan Konsorsium TV Digital Indonesia (KTDI), yeng beranggotakan 6 (enam) TV Swasta Nasional yaitu SCTV, Antv, TVOne, Trans TV, Trans 7 dan Metro TV.

Disamping itu ada 2 penyelenggara untuk siaran mobile TV (DVB-H) yaitu Konsorsium PT. Tren Mobile / MNC yang beranggotakan RCTI, TPI dan Global TV dan Konsorsium antara PT. Telkom, PT.Telkomsel dan PT Indonusa Telemedia (Telkomvision).

Lingkup Ujicoba siaran TV Digital meliputi antara lain model penyelenggaraan, Karakteristik propagasi dan jangkauan layanan siaran, Kualitas gambar dan suara, Kemampuan penerimaan dalam bentuk pelayanan fixed, portable, atau mobile, Kemampuan untuk dioperasikan dengan sistem jaringan Single Frequency Network (SFN), Program siaran (konten) termasuk layanan data, dan Kesiapan serta minat masyarakat terhadap siaran televisi digital.

Uji Coba Siaran Televisi Digital mobile TV diselenggarakan dengan menggunakan sistem standar terbuka (open standard). Dengan Semua Lokasi untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital adalah lingkup area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Alokasi frekuensi radio untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air, disediakan sebanyak 4 (empat) kanal frekuensi radio, yaitu kanal 40, 42, 44 dan 46 UHF. Sedangkan Alokasi frekuensi radio untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital mobile TV menggunakan 2 (dua) kanal frekuensi radio yaitu kanal 24 dan 26 UHF dengan standar yang berbeda.

Dalam rangka monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital, Menteri membentuk tim yang terdiri dari Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Perindustrian, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan unsur lain yang dipandang perlu untuk melakukan penilaian atas pelaksanaan Uji Coba Siaran Televisi Digital dan nantinya bertugas memberikan laporan kepada Menteri.

Uji Coba Siaran Televisi Digital bertujuan untuk mengkaji setiap aspek teknis dan non-teknis berupa performansi perangkat dan sistem, model penyelenggaraan siaran televisi digital, dan fitur layanan televisi digital yang diharapkan masyarakat.

Untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air: Menyediakan alat bantu penerima siaran televisi digital (set top box) MPEG-2 yang memenuhi ketentuan teknis dengan fitur yang mampu memberikan layanan data dengan menu Bahasa Indonesia, informasi ramalan cuaca, keadaan lalu lintas, keuangan, peringatan dini bencana alam, berita, dan dapat dilengkapi dengan sarana pengukuran rating TV. STB yang digunakan harus dapat menerima siaran televisi digital dari semua penyelenggara Uji Coba Siaran Televisi Digital free-to-air.

Dalam menyelenggarakan Uji Coba Siaran Televisi Digital, penyelenggara Uji Coba Siaran Televisi Digital harus memenuhi ketentuan antara lain menggunakan frekuensi radio sesuai dengan peruntukkannya, menayangkan iklan dan running text (tulisan bergerak) yang bersifat promosi siaran digital kepada masyarakat, isi siaran dalam penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital bersifat edukatif, hiburan, dan berita.

Durasi Uji Coba Siaran Televisi Digital berlangsung sekurang-kurangnya 12 (dua belas) jam per hari. Untuk pengukuran penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air, didistribusikan sekurang-kurangnya 500 (lima ratus) unit set top box kepada masyarakat tanpa dipungut biaya, dengan mempertimbangkan lokasi, kondisi sosial-ekonomi, dan kelompok usia di wilayah jangkauan Uji Coba Siaran Televisi Digital.

Bernardus Satriyo Dharmanto, pemerhati penyiaran dan konvergensi multimedia

Sabtu, 13 Desember 2008

Uji Coba Siaran TV Digital Dimulai di Jabodetabek

Kompas Tekno, Jumat, 8 Agustus 2008 18:16 WIB

JAKARTA, JUMAT - Uji coba siaran televisi digital di Indonesia akan dimulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) pada 13 Agustus nanti. Hal itu dikatakan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Mohamad Nuh dalan jumpa pers penjelasan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No 27/P/M.Kominfo/8/2008 tentang Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital di Gedung Depkominfo, Jakarta, Jumat (8/8).
"Masyarakat yang mau menerima siaran digital ini harus dilengkapi dengan alat penerima tambahan yakni set top box pada pesawat televisinya," kata Menkominfo.

Ia menjelaskan set top box ini adalah alat yang akan mengubah sinyal analog ke sinyal digital, maka pemerintah akan membagikan alat ini gratis sebagai uji coba dan bentuk sosialisasi awal.
"Setahu saya pesawat televisi yang diproduksi setelah 2004, sudah dilengkapi dengan penerima sinyal digital, jadi alat ini dipakai untuk pesawat televisi yang dikeluarkan sebelum tahun tersebut," kata M.Nuh.

Sedangkan menurut Dirjen Sarana Komunikasi dan Desiminasi Informasi Freddy H Tulung, saat ini masih berlangsung proses tender untuk penawaran penyedia set top box yang akan dibagikan gratis 800-900 buah.

"Tapi pembagian ini hanya untuk 6-9 bulan masa uji coba, setelah itu ke depannya akan kita dorong tumbuhnya industri set top box dalam negeri yang menyediakan fitur seperti Early Warning System (EWS), pencatat rating, dsb," jelasnya.
Set top box yang akan dibagikan, dibuat di Indonesia dengan bahan-bahan dari dalam negeri yang memuat fitur seperti alarm otomatis tanda bencana (EWS) dan telah siap diujicobakan.Teknologi yang digunakan dalam migrasi dari analog ke digital menggunakan standar broadcast Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) dengan alat penerima (codec) standar MPEG-2.

"Teknologi MPEG sudah ada versi 4, tapi dengan alasan ekonomis, kita pilih MPEG-2," tutur Freddy.Ia menjelaskan dalam uji coba nanti, pemerintah akan melakukan dua siaran tv digital dengan penerimaan tetap (free to air) untuk empat kanal frekuensi yakni 40, 42, 44 dan 46 UHF.

"Uji coba free to air, pemerintah telah menetapkan sistem standar DVB-T, sedang untuk mobile TV akan menggunakan dua kanal yakni 24,26 UHF dengan menerapkan open standard," kata Freddy.

MYS

Roadmap Migrasi ke TV Digital 10 Tahun

Kompas Tekno, Jumat, 8 Agustus 2008 18:27 WIB

JAKARTA, JUMAT - Roadmap yang telah disusun oleh pemerintah terkait kebijakan migrasi dari TV analog ke digital akan diberlakukan sekitar 10 tahun ke depan setelah semua infrastruktur siap termasuk stakeholder yang terlibat. Hal itu dikatakan Dirjen Sistem Komunikasi dan Diseminasi Informasi Freddy H Tulung saat jumpa pers di kantor Depkominfo, Jakarta, Jumat (8/8).

Tahap pertama roadmap ini, dikatakan Freddy, akan dilakukan pada 2008-2012 untuk penghentian lisensi baru untuk TV analog dan mendorong penyelenggara infrastruktur TV digital. Pada 2013-2017 akan dilakukan penghentian siaran analog di sejumlah kota-kota besar dan intensifikasi siaran televisi digital.Sedangkan pada 2018, direncanakan seluruh tv analog tidak lagi beroperasi.

"Saya kira waktu 8-10 tahun sudah cukup, tapi kalau dukungan dari stakeholder kuat, saya yakin tidak sampai 7-8 tahun sudah siap," katanya.
Sedangkan untuk uji coba yang akan dilangsungkan 13 Agustus nanti, menurut Freddy, Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang akan menyelenggarakan siaran yakni TVRI dan RRI dengan network provider PT Telkom.

"Kita sudah bicarakan dengan Telkom mengenai persiapannya, untuk LPS (Lembaga Penyiaran Swasta) akan berbentuk konsorsium, tapi saat ini menurut stakeholder TV swasta masih melakukan konsolidasi internal untuk konsorsium tersebut," kata Freddy.

MYS

Wapres: TV Digital, Teknologi Lebih Baik...

Kompas TV, Rabu, 13 Agustus 2008, 20.35 WIB

Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan peluncuran siaran TV digital di stasiun TVRI, Jakarta, Rabu (13/8). Peluncuran siaran TV digital ini merupakan tonggak awal dimulainya sistem penyiaran digital di Indonesia.

Sistem TV digital sendiri memiliki keunggulan diantaranya, memiliki kualitas penerimaan yang lebih baik dan satu kanal frekuensi bisa digunakan untuk menyiarkan lebih dari satu program siaran TV.

Dalam kesempatan itu, JK juga menekankan agar stasiun TV dapat memberikan tayangan pendidikan dan hiburan yang sehat. Dengan adanya siaran TV digital diharapkan kedepannya Indonesia bisa semakin maju dalam hal pemberian informasi.

Rep/Kam:Alam Penulis:Syarif VO:Maya Editor Video:Dinda

Menkominfo Giatkan TV Digital

Kompas TV, Kamis, 14 Agustus 2008, 13.48 WIB

Era TV digital segera dimulai di Indonesia. Dimana, TV digital nantinya akan memberikan kualitas yang menonjol dalam menerima kualitas frekuensi dan kanal dibandingkan dengan TV analog.

Menteri Komunikasi dan Informasi M. Nuh menyatakan sistem teknologi TV digital memberikan keuntungan dalam penggunaan kanal dan frekuensi yang lebih efesien dan optimal.Pada analog TV, satu kanal hanya untuk satu siaran, dengan TV digital satu kanal bisa untuk empat siaran TV. Dan, bila siaran TV digital telah diimplementasikan, Nuh juga menyatakan pemerintah akan mengkhususkan satu kanal untuk siaran pendidikan, pelayanan publik yang non komersial.

Depkominfo sendiri telah mengeluarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 07/P/M.KOMINFO/3/2007 tanggal 21 Maret 2007 tentang Standar Penyiaran Digital Terestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia.

Reporter/Kameramen:Alam l Penulis: Syariful l VO:Maya l Editor Video:Ucup