<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406</id><updated>2011-07-07T16:19:23.978-07:00</updated><category term='USO'/><category term='TV Digital'/><category term='TV Lokal'/><category term='IPTV'/><category term='Mobile TV'/><category term='Radio Digital'/><category term='Launching TV Digital'/><category term='Soft Launching TV Digital'/><category term='Peraturan Menteri'/><category term='Set Top Box (STB)'/><category term='Ujicoba TV Digital'/><category term='Perkembangan Digital TV'/><category term='Konvergensi Multimedia'/><title type='text'>Digital TV Indonesia</title><subtitle type='html'>Digital TV Discussion Media</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-7794274220462312046</id><published>2009-11-20T08:42:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T08:44:39.166-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='USO'/><title type='text'>Tiada Gula, Semutpun Enggan Datang</title><content type='html'>Akselerasi pembangunan daerah tertinggal, khususnya pembangunan infrastruktur ICT (Information and Communication Technology), ditenggarai sangat berpengaruh bagi kemajuan pembangunan suatu bangsa. Banyak negara sedang berkonsentrasi memacu pembangunan bidang ini. Diyakini dapat menjadi satu solusi efektif bagi percepatan pembangunan daerah yang secara geografis sulit terjangkau infrastruktur  jaringan telekomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program USO (Universal Service Obligation) merupakan program pemerintah di bidang telekomunikasi yang bertujuan mempercepat akselerasi pembangunan daerah tertinggal. Program ini dibiayai oleh para penyelenggara telekomunikasi (penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi) yang beroperasi di Indonesia. Caranya dengan melakukan pembayaran kontribusi kewajiban pelayanan universal (KKPU) kepada pemerintah setiap triwulan, yang besarnya dihitung berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi setiap tahun buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor: 05 /PER/M.KOMINFO/2/2007, 28 PEBRUARI 2007, ditegaskan bahwa perhitungan pembayaran KKPU oleh penyelenggara telekomunikasi dilaksanakan berdasarkan perhitungan sendiri (self assessment) dengan menggunakan laporan keuangan yang ditandatangani oleh pejabat perusahaan yang berwenang. Pembayaran kepada pemerintah dilakukan melalui Kas BTIP, PPK-BLU (Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan, Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum) melalui rekening Kepala BTIP Ditjen Postel pada Bank Pemerintah.  Peraturan ini merupakan penyempurnaan dari peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor : 15 /PER/M.KOMINFO/9/2005  tanggal 30 September 2005 dimana KPPU wajib dipenuhi oleh penyelenggara telekomunikasi sebesar 0,75% dari pendapatan kotor per tahun buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemacu pertumbuhan ekonomi&lt;br /&gt;Program ini dipercaya akan menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya prasarana dan sarana telekomunikasi di daerah tertinggal yang akan memacu pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Berdasarkan survey yang dilakukan ITU (International Telecommunications Union) 1% pembangunan infrastruktur telekomunikasi akan men-generate pertumbuhan ekonomi sebesar 3%. Diharapkan melalui pembangunan telekomunikasi sebagai infrastruktur dasar, akan memacu pertumbuhan industri baru di daerah yang dibangun seperti industri pariwisata, pertanian, perikanan, industri rakyat menegah kecil, industri/jasa telekomunikasi seperti warung telekomunikasi, warung internet, layanan kesehatan jarak jauh (tele medicine), layanan belajar jarak jauh (distance learning), dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini program USO merupakan program yang cukup mendapat prioritas dan perhatian di sebagain besar negara di dunia, karena diyakini dapat menjadi satu solusi efektif jaringan telekomunikasi. Lebih tepatnya untuk melakukan pembangunan di daerah yang secara bisnis kurang menguntungkan bila dibangun sarana telekomunikasi. Sementara ada sebagian warga negara yang biasanya memiliki kemampuan ekonomi yang relatif rendah tinggal dan beraktifitas di daerah tersebut, yang secara langsung maupun tidak langsung tetap membutuhkan sarana komunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara Inggris sudah menerapkan USO sejak beberapa tahun lalu. Ofcom (office of communications) yang merupakan lembaga regulasi telekomunikasi dan penyiaran di Inggris mendifinisikan bahwa Universal Service adalah menyediakan jaringan telekomunikasi yang aman dan dapat menjamin layanan basic fixed line tersedia dengan harga yang terjangkau bagi semua warga negara Inggris. Pertimbangan keadilan sosial dan kebutuhan ekonomi merupakan dua pertimbangan bagi penyelenggaraan USO. Program yang diimplementasikan melalui Universal Service Providers (USPs) yaitu dua operator telekomunikasi BT (British Telecom) dan Kingston Communications ini menyediakan layanan untuk membantu customer warga negara Inggris yang tidak mampu dan yang tinggal di daerah remote dan rural, dimana kurang menguntungkan secara bisnis bagi operator, bila harus membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan yang diberikan berupa special tariff schemes bagi customer-customer yang memiliki pendapatan rendah, koneksi pada fixed network, termasuk functional internet access, reasonable geographic access pada beberapa telepon umum, dan beberapa layanan tambahan bagi para customer yang memiliki cacat tubuh termasuk layanan text relay bagi warga yang membutuhkan. Disamping itu program ini memberikan nilai tambah dengan memberikan keuntungan bagi seluruh warga negara Inggris memperoleh akses jaringan telekomunikasi yang lebih mudah dan luas, yang memungkinkan melakukan kontak atau memperoleh kontak dari lebih banyak orang. Telekomunikasi yang murah juga diyakini akan memacu pertumbuhan ekonomi di Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tender Lelang Desa Pinter USO&lt;br /&gt;Saat ini pemerintah Indonesia melalui Depkominfo sedang merampungkan tender Lelang Desa Pinter atau pengadaan fasilitas Internet di kecamatan yang dananya diambil dari pungutan USO. Melalui BTIP (Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan) Ditjen Postel, pemerintah sudah membentuk Panitia Pengadaan Penyediaan Jasa Akses Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan KPU (Kewajiban Pelayanan Universal) / USO. Beberapa perusahaan penyelenggara telekomunikasi seperti Telkom, Indosat, Telkomsel, Excelcomindo, Bakrie Telkom dan beberapa operator VSAT (Very Small Aperture Terminal) seperti Aplikanusa Lintas Arta, Citra Sari Makmur, AJN Solusindo, dll terlihat ikut berpartisipasi dalam tender USO tersebut. Saat ini KPU/USO memiliki total dana anggaran yang cukup besar dan sudah memperoleh persetujuan dari menteri keuangan untuk dapat diimplementasikan secara multiyears. Paket kegiatan yang dilelangkan untuk total 38.471 desa akan terbagi ke dalam 11 blok geografis dari seluruh propinsi di Indonesia, yang disebut WPUT (Wilayah Pelayanan Universal Telekomunikasi) mulai dari Blok WPUT I yaitu propinsi NAD, Sumatera Utara dan Sumatera Barat sampai dengan WPUT XI yaitu propinsio Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Jumlah desa yang telah diolah dan teridentifikasi sebagai data WPUT tersebut bersumber dari Data Potensi Desa (Podes) tahun 2005 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Data hasil Pencocokan dan Penelitian (Coklit) dengan para penyelenggara telekomunikasi dan Data wilayah yang diusulkan oleh Pemerintah Daerah (Propinsi/Kabupaten/Kota) Tahun 2005 sampai dengan tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terwujudnya Masyarakat Informasi&lt;br /&gt;Program mulia ini memiliki tujuan jangka pendek, untuk memacu terwujudnya desa berdering pada tahun 2009/2010 sebanyak 38.471 desa di seluruh Indonesia. Jangka menengah yaitu terwujudnya desa berbasis internet (desa pintar) pada tahun 2015 dengan mengimplementasikan pelayanan akses informasi di seluruh kecamatan. Dan tujuan jangka panjang, terwujudnya masyarakat informasi (information society) pada tahun 2025 melalui penyelenggaraan pemusatan pelatihan, pemanfaatan akses informasi, penyelenggaraan TV broadcast (aggregated broadcast) dan Digital Broadcast berbasis kebutuhan masyarakat dan pelayanan informasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak berharap program USO ini akan sukses dan dapat memacu tumbuh dan berkembangnya perekonomian di daerah yang saat ini masih diktegorikan daerah tertinggal sehingga semakin kecil jurang ketertinggalan tingkat kehidupan antar daerah di seluruh Indonesia. Saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mampu memanfaatkan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Data Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT tahun 2005, mengenai tingkat aksesibilitas informasi di Indonesia, angka akses ke Informasi sudah berkisar antara 40-50 juta saluran yang berasalal dari berbagai media akses seperti telepon tetap, telepon seluler, televisi, radio serta dari media wireless lainnya. Saat ini istilah tingkat penetrasi pengguna telepon sudah bukan menjadi indikator utama pengguna TIK namun sudah bergeser ke accessibility numbers. Bahkan lembaga seperti International Telecommunication Union (ITU) dan badan regulator dunia lainnya sudah menggunakan istilah accessibility numbers untuk menggambarkan seberapa tinggi masyarakat di suatu negara bisa mendapatkan akses informasi. Akses ke sumber informasi juga bisa bisa melalui beberapa jalur seperti melalui Internet, jaringan Satelit, TV Kabel, broadband wireless (WiFi, WiMax), TV Digital dll. Apalagi saat ini beberapa jalur tersebut sudah mulai menyatu sejalan dengan perkembangan infrastruktur konvergensi Telekomunikasi, Penyiaran dan Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk daerah di luar kota besar kondisinya masih sangat jauh dari memadai dalam ketersediaan akses informasinya. Kondisi inilah yang sering disebut dengan kesenjangan akses (informasi) digital atau lebih dikenal dengan istilah digital devide. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tercermin dalam peringkat DOI (digital opportunity index) Indonesia tahun 2006 yang masih sangat rendah. Menurut data yang dibuat oleh ITU, peringkat Indonesia berada di posisi ke-105 jauh di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Philipina. DOI merupakan salah satu indikator perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada suatu negara, yang diukur berdasarkan pada 3 kategori yaitu peluang (opportunity), Infrastruktur (infrastructure) dan Utilitas (utilization). Tentu saja peringkat tersebut masih dapat ditingkatkan bila ada kerjasama yang berkesinambungan antara pemerintah pusat dan daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan sumber daya manusia dan seluruh potensi yang ada harus ditingkatkan. Hal ini agar perkembangan TIK di indonesia tidak terkonsentrasi di kota-kota besar saja, di pulau Jawa dan beberapa kota propinsi di luar Jawa, yang konon secara bisnis sangat menguntungkan karena merupakan lumbung “gula” yang sangat manis. Bila pemerintah tidak pandai untuk segera mengakselerasi pembangunan infrastruktur di pedesaan ini, maka “semut” pun enggan datang ke sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-7794274220462312046?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/7794274220462312046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=7794274220462312046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7794274220462312046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7794274220462312046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/11/tiada-gula-semutpun-enggan-datang.html' title='Tiada Gula, Semutpun Enggan Datang'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-4781801174505114096</id><published>2009-11-01T18:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T18:26:15.646-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mobile TV'/><title type='text'>Mobile TV, Solusi Multitasking Manusia Modern</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 680460288 22 0 262145 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520082689 -1073717157 41 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 680460288 22 0 262145 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:SimSun; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:ZH-CN;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cuser%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 680460288 22 0 262145 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-520082689 -1073717157 41 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 680460288 22 0 262145 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:SimSun; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:ZH-CN;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mobile TV diperlukan oleh manusia modern, untuk mendobrak batas ruang dan waktu dalam keterbatasan pola menonton TV yang sudah terjadi selama puluhan tahun. Konten multimedianya sangat dibutuhkan untuk meng-update informasi terkini. Jamak diketahui bahwa sudah tidak jamannya lagi memiliki hanya satu televisi di rumah misalnya, karena tentu sudah tidak dapat memenuhi keinginan untuk mengisi kehidupan yang lebih berwarna, &lt;i style=""&gt;new digital lifestyle&lt;/i&gt; sebagai penawar dahaga dalam kehausan menikmati layanan hiburan multimedia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Merujuk kepada &lt;i style=""&gt;Informa Telecoms &amp;amp; Media,&lt;/i&gt; Layanan &lt;i style=""&gt;mobile multimedia&lt;/i&gt; ini akan terus mengalami pertumbuhan pesat sejalan dengan pertumbuhan pengguna &lt;i style=""&gt;mobile phone&lt;/i&gt; yang meningkat tajam dari 2.6 milyar pada tahun 2006, menjadi sekitar 4.9 milyar pada tahun 2012. Hal ini akan menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyedia layanan &lt;i style=""&gt;mobile TV&lt;/i&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Solusi mobile TV membantu tidak hanya untuk bisa menonton siaran TV saja, lebih jauh dapat meningkatkan personality dan interaksi dua arah untuk menikmati layanan multimedia, sesuai dengan apa yang menjadi keinginan kita. Hal ini dimungkinkan karena ada saluran &lt;i style=""&gt;return channel &lt;/i&gt;yang disediakan dalam mobile TV network ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dipahami beberapa cara untuk dapat menikmati layanan &lt;i style=""&gt;mobile multimedia&lt;/i&gt;, pertama melalui layanan berbasis &lt;i style=""&gt;cellular network&lt;/i&gt; yang merupakan layanan pengiriman data dua arah. Cara kedua melalui jaringan &lt;i style=""&gt;mobile broadcasting&lt;/i&gt; yang menggunakan &lt;i style=""&gt;one way dedicated broadcast network&lt;/i&gt;. Cara lainnya adalah kombinasi keduanya menggunakan jaringan yang sudah &lt;i style=""&gt;convergent&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Layanan berbasis Cellular Network&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Layanan berbasis &lt;i style=""&gt;cellular network&lt;/i&gt; saat ini sudah dapat dinikmati oleh para pelanggan telepon seluler di Indonesia, khususnya yang memiliki handset berkemampuan video call 3G. Layanan ini berbasis jaringan &lt;i style=""&gt;High Speed Packet Access&lt;/i&gt; (HSPA). Jaringan &lt;i style=""&gt;mobile telephony protocols&lt;/i&gt; ini dikenal mampu meningkatkan performa laju kecepatan pengiriman data pada jaringan UMTS (&lt;i style=""&gt;Universal Mobile Tellecommunication System&lt;/i&gt;). Dikenal ada beberapa &lt;i style=""&gt;release&lt;/i&gt; teknologi yang bertujuan untuk melakukan &lt;i style=""&gt;enhancements&lt;/i&gt; kecepatan transfer datanya, yang sudah digunakan dalam standard &lt;i style=""&gt;air interface&lt;/i&gt; WCDMA (&lt;i style=""&gt;Wideband Code Division Multiple Access&lt;/i&gt;) ini, yaitu HSDPA, HSUPA, HSPA+ dan DC-HSPA.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Beberapa operator seluler di Indonesia telah mampu memberikan layanan multimedia berbasis 3G ini, antara lain i-TV nya Indosat (LiveTV) yang saat ini dapat memberikan layanan saluran multi channel SCTV, TransTV, Indosiar, JakTV dan O-Channel. Disamping itu Dunia 3G Telkomsel juga dapat memberikan layanan mobile TV berbasis 3G dengan berbagai channel TV antara lain MetroTV, SCTV, Indosiar, O-Channel, SpaceToon, Bali TV, Makasar TV, CNBC dan Video Portal. Layanan akses siaran ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat dinikmati dengan tarif berbayar antara Rp. 1.000 sampai Rp. 1.650 per 30 detik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sementara XL memberikan tarif yang cukup kompetitif, bila dipilih paket berlangganan TV Internasional (BBC, Aljazeera, Trace TV dan Soundtrack channel) akan dikenakan biaya akses bulanan sebesar Rp. 30,000 saja dan bila berlangganan paket SCTV (SCTV dan O-Channel) cukup membayar Rp. 20.000 sebulan dan untuk menonton siaran Indosiar, sampai saat ini masih belum dikenankan biaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tambahan layanan VAS (&lt;i style=""&gt;Value Added Services&lt;/i&gt;) berupa &lt;i style=""&gt;multimedia content&lt;/i&gt; inilah yang memberikan nilai tambah bisnis Telekomunikasi untuk berkompetisi lebih jauh dalam memperoleh tambahan &lt;i style=""&gt;income&lt;/i&gt; bisnisnya. Diyakini, semakin besar “pipa” saluran data dapat disediakan, semakin besar pula peluang memberikan layanan multimedia yang semakin murah, variatif dan interaktif kepada pelanggannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Disamping layanan berbasis cellular network di atas, terdapat layanan multimedia berbasis &lt;i style=""&gt;Mobile Broadcasting. &lt;/i&gt;Layanan berbasis teknologi digital ini menggunakan &lt;i style=""&gt;one way dedicated broadcast network&lt;/i&gt;. Ciri utama layanan ini antara lain menggunakan layar relatif lebih kecil (&lt;i style=""&gt;small screen&lt;/i&gt;), perangkat penerima bersifat mobile (&lt;i style=""&gt;mobile device&lt;/i&gt;), sangat concern terhadap penghematan power daya listrik (&lt;i style=""&gt;power efficient&lt;/i&gt;), lebih personal dan interaktif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Layanan berbasis Mobile Broadcasting (Mobile TV)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dikenal beberapa standar, yaitu DVB-H (&lt;i style=""&gt;Digital Video Broadcasting-Handheld&lt;/i&gt;), yang merupakan standar berbasis teknologi dari Eropa, DMB (&lt;i style=""&gt;Digital Multimedia Broadcasting&lt;/i&gt;), yang dikembangkan di Korea, One seg-ISDB (&lt;i style=""&gt;Integrated Services Digital Broadcasting&lt;/i&gt;) merupakan standar yang telah dikembangkan di Jepang dan Media FLO dari USA.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Layanan DVB-H yang merupakan &lt;i style=""&gt;superset&lt;/i&gt; dari DVB-T, dan awalnya dikenal dengan standard ETSI EN 302 304 ini sejak bulan Maret 2008 lalu telah di &lt;i style=""&gt;endorsed&lt;/i&gt; oleh Uni Eropa sebagai &lt;i style=""&gt;prefered technology&lt;/i&gt; untuk layanan &lt;i style=""&gt;terrestrial mobile broadcasting&lt;/i&gt;. Teknologi ini dikenal menggunakan teknik &lt;i style=""&gt;Orthogonal Frequency Division Multiplexing &lt;/i&gt;(OFDM) dengan sistem modulasi OFDM-4K dengan sistem video kompresi MPEG4 AVC atau SMPTE VC1, dengan 2 mode yaitu 2K dan 4k yang didesign memiliki kemampuan khusus untuk menangani efek doppler. Berbeda dengan DVB-T, system ini dilengkapi dengan beberapa fitur tambahan berupa teknologi &lt;i style=""&gt;time slicing &lt;/i&gt;untuk mereduksi daya listrik,&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;sehingga sangat cocok untuk melakukan penghematan battery. DVB-H ini didesign untuk bekerja pada beberapa band frequency, antara lain VHF-band III (170-230 MHz), UHF-Band IV/V (470-862 MHz) dan L-band (1.452-1.492 GHz).&lt;span style=""&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;DVB-H dapat memberikan solusi &lt;i style=""&gt;downstream channel&lt;/i&gt; dengan kecepatan &lt;i style=""&gt;data rate&lt;/i&gt; yang tinggi. Hal ini dapat dicapai melalui network DVB-H sendiri atau memanfaatkan jaringan telekomunikasi berbasis 3G. Saat ini perangkat penerimanya (&lt;i style=""&gt;hand held&lt;/i&gt;) sudah sangat mudah ditemukan di pasar dengan harga sangat kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Standar T-DMB yang dikembangkan di Korea Selatan merupakan modifikasi aplikasi sistem radio DAB (&lt;i style=""&gt;Digital Audio Broadcasting&lt;/i&gt;) pada band VHF (7 MHz) dan L-Band. Standar ini menggunakan MPEG-4 part 10 (H.264) untuk pemrosesan Video dan MPEG-4 part 3 BSAC atau HE-AAC V2 untuk pemrosesan audionya. Audio dan video kemudian di&lt;i style=""&gt;encapsulate&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada MPEG-2 Transport Stream (TS). Pada TS ini dilakukan pemrosesan &lt;i style=""&gt;convolitional interleaving&lt;/i&gt; yang kemudian dilakukan proses transmisi pada mode DAB.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DMB yang mengantongi ETSI standard (TS 102 427 dan TS 102 428) ini menggunakan modulasi OFDM-DQPSK untuk meminimalisasi gangguan &lt;i style=""&gt;fading&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;shadowing&lt;/i&gt; (gambar berbayang). Berdasarkan ujicoba di Korea Selatan, teknologi ini mampu diaplikasikan di kendaraan dan masih mampu mengirimkan signal TV dan radio tanpa gangguan, walau disiarkan dalam kecepatan sekitar 120km/jam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;DAB dipilih karena telah teruji keandalannya, di samping karena efisien dalam penggunaan frekuensi dan besaran bit-rate yang cukup untuk siaran TV digital.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Satu kanal VHF (7MHz) dapat dibagi dalam empat blok. Masing-masing blok dapat digunakan untuk satu program siaran TV mobile DMB. Siaran DMB ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, namun masih harus menunggu kebijakan pemerintah, karena TVRI saat ini masih menguasai kanal frequency di band VHF.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Standar mobile TV lainnya yaitu One seg-ISDB-T, menggunakan BST-OFDM (&lt;i style=""&gt;Band Segmented Transmission - OFDM&lt;/i&gt;) sebagai sistem transmisinya. Mempunyai dua jenis transmisi dengan bandwidth masing-masing&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;5.6 MHz&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;429 kHz&lt;/i&gt;. Bandwidth &lt;i style=""&gt;5.6 Mhz&lt;/i&gt; disegmentasi sebanyak 13 segmen dinamai &lt;i style=""&gt;Wideband ISDB-T&lt;/i&gt; dan 1 sampai 3 segmen sebagai &lt;i style=""&gt;Narrowband ISDB-T&lt;/i&gt; dengan lebar per-segmennya &lt;i style=""&gt;429 kHz&lt;/i&gt;, untuk program-program audio dan atau data. Dua jenis transmisi tersebut memanfaatkan secara bersama parameter-parameter lainnya seperti pembentukan format &lt;i style=""&gt;encoding, multiplexing &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;interval carrier&lt;/i&gt; dari OFDM, serta penyusunan konfigurasi frame. Sistem ini dilengkapi dengan &lt;i style=""&gt;time interleave&lt;/i&gt; yang membuat lebih tahan menghadapi gangguan &lt;i style=""&gt;multipath, impulse noise&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;fading&lt;/i&gt; sehingga sangat cocok sebagai aplikasi &lt;i style=""&gt;mobile reception&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Disamping itu, MediaFLO yang dikembangkan oleh Qualcomm, melakukan pendekatan dengan metoda &lt;i style=""&gt;one-to-many broadcast&lt;/i&gt;, sehingga sangat effisien dalam melakukan pengiriman &lt;i style=""&gt;content&lt;/i&gt; multimedia kepada pengguna yang tidak terbatas jumlahnya. Sistem ini menggunakan high-quality video (QVGA) dan audio, (MPEG-4 HE-AAC3) dan IP data streams. Untuk melakukan fungsi kontrol yang bertujuan mensupport fungsi &lt;i style=""&gt;interactivity&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;user authorization&lt;/i&gt;, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;diperlukan sebuah jaringan selular berbasis 3G.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Teknologi berbasis OFDM yang menggunakan modulasi QPSK atau 16 QAM ini secara secara teori mampu mengirimkan 28-32 &lt;i style=""&gt;channel&lt;/i&gt; program dalam bandwidth 8 MHz dengan hasil baik. Secara sederhana mampu mengirim video, audio dan data sekaligus ke perangkat penerima berupa &lt;i style=""&gt;mobile devices &lt;/i&gt;berbasis CDMA chipset technology, sehingga dapat dipergunakan oleh &lt;i style=""&gt;mobile operators&lt;/i&gt; dan atau &lt;i style=""&gt;multi-channel operators&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Multi-benefit Bagi Operator dan Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagi &lt;i style=""&gt;mobile operators&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;solusi ini memberikan banyak manfaat tambahan antara lain dapat meningkatkan ARPU (&lt;i style=""&gt;average revenue per user&lt;/i&gt;), memberikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;competitive advantage&lt;/i&gt; dengan menawarkan program TV streaming, mampu melakukan pengiriman &lt;i style=""&gt;content&lt;/i&gt; secara massal dengan hanya memerlukan jumlah transmitter yang tidak terlalu banyak, disamping mampu menyediakan layanan aplikasi interaktif dan &lt;i style=""&gt;real-time data extending.&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagi &lt;i style=""&gt;multi-channel operators &lt;/i&gt;layanan ini juga mampu memberikan beberapa keuntungan antara lain dapat mengirim sekaligus program nasional dan regional dalam satu kanal RF, yang memungkinkan &lt;i style=""&gt;regional content&lt;/i&gt; hanya dapat dinikmati oleh penonton tertentu. Fasilitas &lt;i style=""&gt;interactivity&lt;/i&gt; mampu menyediakan &lt;i style=""&gt;cross-channel marketing oportunity&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang memungkinkan peluang lebih tinggi bagi interaksi antar pemirsa TV. Sistem ini juga mampu menyediakan &lt;i style=""&gt;consumer usage information&lt;/i&gt; yang dapat meningkatkan revenue dari pemasang iklan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Masyarakat dapat memperoleh manfaat antara lain kemudahan mengakses konten multimedia di manapun berada, disela aktivitasnya. Konten menjadi lebih bervariasi, baik kualitas maupun kuantitasnya. Disamping itu kemampuan &lt;i style=""&gt;interactivity&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;personality&lt;/i&gt; nya membuat mayarakat semakin memperoleh kemudahan, kebebasan dan keterbukaan informasi. Masyarakat dapat memperoleh pilihan beragam terhadap konten-konten yang menarik, inovatif dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Konten yang disiarkan dalam solusi inipun lebih bersifat multimedia. Masyarakat memiliki peluang lebih banyak untuk dapat berkreasi secara innovatif dalam membuat kreasi konten multimedia yang jauh lebih beragam dibanding konten pada TV konvensional. Konten siaran dapat ditampilkan lebih “hidup”, “berwarna” dan “mengena”. Lebih jauh dapat mengajak pemirsa untuk berinteraksi secara langsung terhadap konten siaran yang disajikan. Dalam sinetron misalnya, pemirsa dapat memperoleh kesempatan menentukan alur dan ending ceriteranya, melalui fasilitas pooling yang disediakan. Begitu pula, program-program pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah, dapat disajikan dengan langsung mendapat response dari pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Peluang inilah yang mampu meningkatkan digital dividen bagi masyarakat, sekaligus dapat memompa akselerasi peningkatan strata ekonomi masyarakat. Hal ini terjadi karena kemudahan, kebebasan dan keterbukaan informasi yang diberikan dapat menumbuhkan dan mempercepat pembangunan karakter bangsa serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat, mengingat akses masyarakat terhadap TV merupakan salah satu yang terbesar dibanding akses terhadap media lainnya. Pemerintah melalui departemen terkait dapat memanfaatkan peluang ini untuk menyapa dan menyampaikan program programnya kepada pemirsa di seluruh pelosok tanah air.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Beberapa solusi yang sudah dibahas tersebut dapat menggambarkan bahwa telah terjadi konvergensi antar teknologi teknologi internet (IT), Telekomunikasi dan penyiaran (&lt;i style=""&gt;broadcasting&lt;/i&gt;). Ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu “pipa” media transmisi. Operator seluler yang selama ini hanya berkonsentrasi mengirim &lt;i style=""&gt;content&lt;/i&gt; berupa &lt;i style=""&gt;voice&lt;/i&gt; (suara), &lt;i style=""&gt;data&lt;/i&gt; (teks SMS, pesan multimedia, gambar) dan video beresolusi rendah, saat ini telah mulai mampu berperan sebagai &lt;i style=""&gt;network provider,&lt;/i&gt; yaitu antara lain menjadi penyedia saluran transmisi bagi industri penyiaran TV, baik TV siaran terrestrial, TV berlangganan (pay TV) maupun 3G dan bahkan dalam waktu dekat akan mampu menyediakan layanan IPTV (Internet Protocol TV), yang dapat menyediakan saluran transmisi bagi siaran video beresolusi tinggi.&lt;span style=""&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Implementasi layanan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengikuti jejak negara lain seperti Australia, Finlandia, Perancis, Germany, Italy,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;UK, USA, dll yang telah menggelar infrastruktur mobile TV sejak tahun 2006 lalu, dan beberapa negara di Asia seperti Singapore dan Malaysia yang telah menggelar jaringan ujicoba DVB-H sejak beberapa tahun lalu, di Indonesia ujicoba siaran mobile TV ini secara resmi telah dimulai sejak akhir tahun 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dibawah payung peraturan Menkominfo No. 27/P/M.KOMINFO/8/2008, pemerintah telah memutuskan bahwa penyelenggara ujicoba siaran TV digital untuk TV bergerak (Mobile TV) dilakukan oleh penyelenggara yang masing-masing berbentuk konsorsium. Telah diputuskan bahwa Konsorsium PT. Tren Mobile dan Konsorsium lainnya yaitu PT. Telkom, PT. Telkomsel dan PT. Indonusa Telemedia (Telkomvision) dapat menyelenggarakan ujicoba siaran mobile TV berbasis standar DVB-H. Ujicoba ini menggunakan kanal 24 dan 26 UHF, dengan durasi siaran sekurang-kurangnya 12 (dua belas) jam sehari, dalam kurun waktu 9 (sembilan) bulan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selama 9 bulan diharapkan dapat dilakukan ujicoba model penyelenggaraan, karakteristik propagasi dan jangkauan layanan siaran, Kemampuan pengoperasian secara &lt;i style=""&gt;Single Frequency Network&lt;/i&gt; (SFN), Program siaran (content) termasuk layanan data dan dilakukan pengamatan terhadap kesiapan dan minat masyarakat terhadap siaran TV Digital ini. Keberhasilan ujicoba ini akan dijadikan referensi dalam penyusunan regulasi implementasi sistem penyiaran digital dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penyelenggara penyiaran TV Digital oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Keberhasilannya tentu sangat tergantung oleh keseriusan stakeholder dan dukungan pemerintah dalam mengembangkan bisnis &lt;i style=""&gt;mobile multimedia&lt;/i&gt; ini. Tidak lain adalah untuk menjawab tuntutan kebutuhan manusia modern, yang dalam waktu hampir bersamaan harus melaksanakan aktivitas beragam, aktivitas yang menuntut kecepatan, ketepatan, kreatifitas, kualitas dan performa sangat tinggi. Untuk itulah solusi-solusi teknologi modern diperlukan, merupakan solusi yang berbasis teknologi digital. Tentu merupakan salah satu kebutuhan manusia modern, yang memiliki mobilitas tinggi, karena terkait dengan semakin &lt;i style=""&gt;multitasking&lt;/i&gt; nya pola kehidupan nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, pemerhati konvergensi Teknologi dan Penyiaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-4781801174505114096?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/4781801174505114096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=4781801174505114096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4781801174505114096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4781801174505114096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/11/mobile-tv-solusi-multitasking-manusia.html' title='Mobile TV, Solusi Multitasking Manusia Modern'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2091260848667510443</id><published>2009-08-05T23:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T23:41:47.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ujicoba TV Digital'/><title type='text'>Urgensi Konvergensi Jelang Era TV Digital</title><content type='html'>&lt;div id="related" style="padding-top: 20px;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selasa, 4 Agustus 2009, 09:55 WIB&lt;br /&gt;Muhammad Firman, Muhammad Chandrataruna&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VIVAnews&lt;/strong&gt; - Masa ujicoba siaran TV digital, meliputi free to air TV dan mobile TV, menjadi milestone baru baik di dunia telekomunikasi dan penyiaran. Sementara ini, kedua sektor masih berjalan dengan masing-masing regulasinya. Namun, pemerintah menilai perlu adanya pengkajian Undang-Undang konvergensi telekomunikasi dan penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, lembaga regulasi telekomunikasi dan penyiaran masih berjalan sendiri-sendiri, yakni Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk sektor telekomunikasi dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk sektor penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, Menkominfo Mohammad Nuh sendiri mengaku belum ada rencana untuk menyatukan kedua badan tersebut menyambut era TV digital di Tanah Air. “Memang akan ada tumpang tindih. Karena itu, kedua lembaga perlu duduk bersama untuk mendiskusikan hal ini,” ucapnya di sela Peresmian Ujicoba Lapangan Mobile TV di Gedung Depkominfo, Medan Merdeka Barat, 3 Agustus 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah di tempat yang sama, konvergensi tersebut dinilai Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konvergensi belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Kedua badan masih berada di bawah payung hukum masing-masing. Kami (BRTI) mengikuti UU Telekomunikasi sementara KPI berpegang pada UU Penyiaran. Tapi, saya rasa arahnya akan ke sana seiring berkembangnya TV digital,” kata Basuki, yang juga menjabat sebagai Ketua BRTI.&lt;/p&gt; &lt;span id="text_closed"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;VIVAnews &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2091260848667510443?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2091260848667510443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2091260848667510443' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2091260848667510443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2091260848667510443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/08/urgensi-konvergensi-jelang-era-tv.html' title='Urgensi Konvergensi Jelang Era TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-8127033965523501447</id><published>2009-08-04T23:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T23:21:16.222-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Peresmian Uji Coba Lapangan Siaran Digital Untuk Penerimaan Bergerak (Mobile TV)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jakarta, 3 Agustus 2009&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.depkominfo.go.id/2009/05/20/siaran-pers-no-118pihkominfo52009-tentang-peresmian-penyediaan-akses-telefon-pedesaan-dan-uji-coba-tv-digital-serta-penggalakan-kembali-program-aci-aku-cinta-indonesia-oleh-presiden-ri-susilo-b/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.depkominfo.go.id/2009/05/20/siaran-pers-no-118pihkominfo52009-tentang-peresmian-penyediaan-akses-telefon-pedesaan-dan-uji-coba-tv-digital-serta-penggalakan-kembali-program-aci-aku-cinta-indonesia-oleh-presiden-ri-susilo-b/"&gt;&lt;span class="title"&gt;Siaran Pers No. 164/PIH/KOMINFO/8/2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.depkominfo.go.id/2009/05/20/siaran-pers-no-118pihkominfo52009-tentang-peresmian-penyediaan-akses-telefon-pedesaan-dan-uji-coba-tv-digital-serta-penggalakan-kembali-program-aci-aku-cinta-indonesia-oleh-presiden-ri-susilo-b/"&gt;Setelah sukses dengan peresmian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung SCTV&lt;/a&gt; Jakarta dalam rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 2009 yang lalu terhadap uji coba lapangan penyelenggaraan siaran televisi digital untuk penerimaan tetap &lt;em&gt;free to air &lt;/em&gt;(yang dilakukan oleh PT Konsorsium Televisi Digital Indonesia dan Konsorsium LPP TVRI – PT Telkom) sebagai kelanjutan &lt;em&gt;soft launching &lt;/em&gt;yang telah diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tanggal 13 Agustus 2008 di Gedung TVRI Jakarta, maka Menteri Kominfo Mohammad Nuh pada tanggal 3 Agustus 2009 ini baru saja meresmikan uji coba lapangan siaran digital untuk penerimaan televisi bergerak (Mobile TV) yang dilakukan oleh Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom – Telkomsel – Indonusa.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kewenangan beberapa konsorsium yang berhak melakukan uji coba tersebut adalah sesuai dengan &lt;a href="http://www.depkominfo.go.id/2009/08/03/Documents%20and%20Settings/PPI/Application%20Data/Macromedia/Dreamweaver%20MX%202004/OfficeImageTemp/scan.1.jpg"&gt;Pengumuman Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi No. 563/DJSKDI/KOMINFO/11/2008 tentang Penyelenggara Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital &lt;/a&gt;, dimana disebutkan, bahwa yang menjadi penyelenggara uji coba lapangan penyelenggaraan siaran televisi digital adalah sebagai berikut: untuk penyelenggara uji coba penerimaan tetap free to air adalah PT Konsorsium Televisi Digital Indonesia dan Konsorsium LPP TVRI – PT Telkom; sedangkan untuk penyelenggara uji coba televisi bergerak (Mobile TV) dengan tehnologi DVB-H adalah Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom – Telkomsel – Indonusa.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pengumuman tersebut berpedoman pada Peraturan Menteri Kominfo No. 27/P/M.KOMINFO/8/2008 tentang Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital, sehingga konsorsium yang melaksanakan uji coba lapangan siaran digital untuk penerimaan bergerak (Mobile TV) adalah Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa. Khusus untuk Konsorsium Tren Mobile TV ini telah mulai melaksanakan uji coba pada bulan Maret 2009 dengan menggunakan sistem OMABICASS dengan pemancar yang terpasang di gedung Menara Kebon Sirih dan dapat menjangkau wilayah Jakarta Pusat. Kanal yang digunakan oleh Tren Mobile TV dalam uji coba adalah pada kanal 24 UHF.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Jumlah program yang disiarkan oleh Tren Mobile TV adalah sebanyak 10 program yaitu TVRI, RCTI, TPI, Global TV, MNC News, CNN, Al Jazeera, Bloomberg, MNC Music dan MNC Entertainment. Perangkat penerima siaran DVB-H yang akan didistribusikan kepada perwakilan masyarakat (yang ditunjuk oleh Departemen kominfo) dalam rangka uji coba Tren Mobile YV ini adalah sebanyak 50 handset berupa handphone merk Nokia seri N77. Guna untuk mendukung kualitas penerimaannya, Tren Mobile TV telah menandatangani Nota Kese dengan BPPT untuk melakukan pengukuran kuat dan kualitas sinyal siaran Tren Mobile TV.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Sedangkan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa telah mulai melaksanakan uji coba sejak tanggal 20 April 2009 yang menggunakan 2 unit pemancar dengan sistem OSF. Pemancar dengan daya pancar 400 Watt dipasang di Gedung Kementerian Negara BUMN dan 1 kWatt dioperasikan di Gedung Kantor Telkom JI. Gatot Subroto, Jakarta . Kedua pemancar tersebut dapat menjangkau wilayah Jakarta Pusat dan sebagian Jakarta Selatan. Kanal yang digunakan oleh Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa dalam uji coba adalah pada kanal 26 UHF dengan menggunakan Single Frekuensi Network (SFN) karena menggunakan dua pemancar.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Jumlah program yang disiarkan oleh Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa dari kanal 26 sebanyak 8 program yaitu 5 program yang free berupa Tech Sport, CNN, Tres TV, Spacetoon, dan TV Edukasi, dan 3 program yang diacak (scrambled) berupa program dari National Geographic, National Adventure, dan MGM Sport. Perangkat penerima siaran DVB-H yang akan didistribusikan kepada perwakilan masyarakat dalam rangka uji coba adalah sebanyak 50 unit alat penerima yang sebagian berupa handphone Samsung dan sebagian berupa receiver merk Quantum.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Tujuan utama uji coba lapangan siaran digital untuk penerimaan bergerak (mobile TV) ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan teknis dan nonteknis, yang kemudian akan dievaluasi untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi model bisnis yang sesuai. Target penyusunan regulasi dan implementasi penyelenggaraan siaran digital untuk penerimaan bergerak (mobile TV) adalah akhir bulan Maret 2010. Hanya saja, berbeda dengan pelaksanaan peresmian uji coba tanggal 20 Mei 2009 tersebut, maka pada peresmian uji coba ini sekalian dilakukan penyerahan unit alat penerima. Sedangkan pada peresmian terdahulu, &lt;a href="http://www.depkominfo.go.id/2009/06/26/siaran-pers-no-140pihkominfo62009-tentang-penyerahan-set-top-box-bagi-masyarakat-dalam-rangka-penyiaran-televisi-digital/"&gt;penyerahan secara simbolis alat penerima berupa set up box (STB) dilakukan pada tanggal 26 Juni 2009&lt;/a&gt; oleh Dirjen SKDI Freddy Tulung yang mewakili Menteri Kominfo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;—————–&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Kominfo (Gatot S. Dewa Broto, HP: 0811898504, Email: &lt;a href="mailto:gatot_b@postel.go.id"&gt;gatot_b@postel.go.id &lt;/a&gt;, Tel/Fax: 021.3504024).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-8127033965523501447?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/8127033965523501447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=8127033965523501447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8127033965523501447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8127033965523501447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/08/peresmian-uji-coba-lapangan-siaran.html' title='Peresmian Uji Coba Lapangan Siaran Digital Untuk Penerimaan Bergerak (Mobile TV)'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-997531350778239867</id><published>2009-08-04T21:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T23:27:21.055-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Mari Beralih ke Digital Mobile TV</title><content type='html'>&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;77505&lt;/span&gt;               &lt;div class="isiartikel"&gt;     &lt;div style="margin-right: 10px; width: 300px; float: left;"&gt;                      &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;              &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;             &lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/16/0452404p.jpg" width="298" border="0" /&gt;             &lt;/div&gt;                                           &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/08/03/20180862/mari.beralih.ke.digital.mobile.tv#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;KOMPAS/AW SUBARKAH&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                     &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;TV digital pertama di Indonesia, 47LH50YD, resmi beredar 9 Juni lalu setelah lolos pengujian BPPT.&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;                                                                                    &lt;!--- video --&gt;                                                  &lt;div id="boxterkait" style="width: 280px;"&gt;             &lt;!---              &lt;div style="padding:10px;"&gt;             &lt;ul id="vidlist"&gt;             &lt;li class="isiartikel"&gt;&lt;a href="#"&gt;&lt;b&gt;Images: &lt;/b&gt;Per September lalu pemerintah menaikkan pungutan ekspor&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;             &lt;/ul&gt;             &lt;/div&gt;             &lt;div style="border-bottom:1px solid #CCC;"&gt;&lt;/div&gt;             &lt;div style="padding:10px;"&gt;             &lt;ul id="vidlist"&gt;             &lt;li class="isiartikel"&gt;&lt;a href="#"&gt;&lt;b&gt;Video:&lt;/b&gt; Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;             &lt;/ul&gt;             &lt;/div&gt;              &lt;div style="border-bottom:1px solid #CCC;"&gt;&lt;/div&gt;             --&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;span class="tanggalitem"&gt;&lt;/span&gt;Senin, 3 Agustus 2009 | 20:18 WIB&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; — Tren perkembangan televisi nampaknya akan segera beralih dari siaran analog menjadi digital. Dengan menggunakan media, seperti telepon genggam, &lt;em&gt;personal digital assistance&lt;/em&gt; (PDA), maupun &lt;em&gt;notebook&lt;/em&gt;, penonton akan  ditawarkan tayangan televisi digital dengan kualitas yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dimungkinkan dengan mulai diujicobakannya siaran televisi digital untuk penerimaan bergerak (mobile TV) oleh Departemen Komunikasi dan Informasi, pada Senin (3/8). Uji coba ini merupakan kelanjutan setelah sebelumnya, pada Mei 2009, Depkominfo meluncurkan uji coba untuk siaran digital penerimaan televisi tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluncuran uji coba ini diharapkan akan mengawali era baru bagi masyarakat Indonesia dalam menonton pada televisi bergerak. "Teknologi siaran televisi digital diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa kemudahan-kemudahan bagi masyarakat," kata Menteri Komunikasi dan Informasi Mohammad Nuh dalam sambutannya pada peluncuran uji coba tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan tersebut Menkominfo secara simbolik menyerahkan &lt;em&gt;handset &lt;/em&gt;berupa telepon genggam penerima siaran televisi digital kepada Agni Pratistha dan Annisa Septi sebagai duta Digital Mobile TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Annisa, siaran televisi digital ini akan memberikan sebuah kenyamanan baru dalam menikmati hiburan bagi orang-orang yang aktif dan dinamis seperti dirinya. "Sebagai mahasiswi dengan aktivitas yang cukup padat, siaran ini dapat memberikan hiburan dengan kualitas terbaik di tengah kesibukan saya," ujar mahasiswi pada Universitas Trisakti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebelumnya masyarakat biasa disuguhi tayangan dengan siaran analog yang kualitasnya bergantung pada frekuensi siaran. Maka, dengan siaran televisi digital, penonton akan disuguhi tayangan dengan kualitas gambar yang prima dan tajam karena tidak lagi bergantung pada frekuensi pemancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton juga akan dimanjakan dengan kualitas gambar yang stabil, sekalipun berada dalam kendaraan yang melaju kencang. Kualitas ini dimungkinkan dengan adanya teknologi pada siaran televisi digital yang melakukan konvergensi antara gambar (video), data (internet), dan suara (voice).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara ini, masyarakat dapat menikmati siaran uji coba yang diselenggarakan oleh dua konsorsium yang ditunjuk oleh Depkominfo, yakni Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren Mobile TV merupakan konsorsium dari MNC Group, RCTI, Global TV, TPI, dan Infokom Elektrindo. Pada siarannya, Tren Mobile TV menyajikan 11 kanal, antara lain siaran TVRI, RCTI, TPI, Global TV, Aljazeera, CNN, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa menawarkan delapan saluran, anatara lain MGM, National Geographic Channel, Tensports, CNN, TVRI, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, meski menawarkan kualitas dan kenyamanan baru dalam menonton televisi, siaran digital kedua konsorsium tersebut saat ini baru dapat dinikmati oleh sebagian warga Jakarta. Dengan menggunakan sistem OMBICASS pada kanal 24 UHF dengan pemancar yang terpasang di Menara Kebon Sirih, saat ini siaran Tren Mobile TV baru menjangkau wilayah Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun siaran Telkom-Telkomsel-Indonusa akan menjangkau wilayah Jakarta Pusat dan sebagian Jakarta Selatan. Siaran yang menggunakan dua pemancar pada Gedung Kementerian Negara BUMN dan Gedung Kantor Telkom Jalan Gatot Subroto ini dapat disaksikan pada kanal 26 UHF dengan menggunakan &lt;em&gt;single-frequency network&lt;/em&gt; (SFN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi (SKDI) Depkominfo Freddy Tulung, adanya siaran digital pada televisi bergerak ini diharapkan semakin menumbuhkan dunia industri kreatif Indonesia. "Semoga dengan uji coba pada siaran &lt;em&gt;digital mobile&lt;/em&gt; TV ini akan semakin mengembangkan dunia industri, terutama industri kreatif di Indonesia," pungkas Freddy. Tertarik untuk mulai beralih ke TV digital?&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-997531350778239867?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/997531350778239867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=997531350778239867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/997531350778239867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/997531350778239867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/08/mari-beralih-ke-digital-mobile-tv.html' title='Mari Beralih ke Digital Mobile TV'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-4725101219901302208</id><published>2009-07-31T00:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T22:53:04.815-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Set Top Box (STB)'/><title type='text'>TV Digital Polytron</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jum'at, 31 Juli 2009 | 00:44 WIB&lt;/span&gt;          &lt;img style="width: 213px; height: 217px;" src="http://image.tempointeraktif.com/?id=14913" alt="" align="left" /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;TEMPO &lt;em&gt;Interaktif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; -Era televisi digital semakin dekat. Beberapa produsen elektronik terkemuka mulai menyiapkan produk andalan. Salah satunya adalah PT Hartono Istana Teknologi, produsen elektronik dengan merek Polytron yang meluncurkan Dignity: televisi dengan sistem penerimaan digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Kadarusman, Public Relations &amp;amp; Marketing Event Manager Polytron menjelaskan bahwa Dignity merupakan televisi jenis 2 in 1. Artinya, dapat menerima siaran analog maupun digital. “Ini merupakan yang pertama di Indonesia,” kata Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dignity tampil dengan desain yang elegan. Bahkan, Polytron mengklaim bahwa produk ini merupakan televisi digital pertama di Indonesia yang disiapkan untuk menerima siaran televisi digital yang resmi diujicoba di kawasan Jabotabek 20 Mei silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dignity, menurut Santo Kadarusman, memiliki kelebihan dalam hal kualitas gambar lebih bersih dan tidak berbintik (noise), tidak berbayang (ghost), suara sejernih kualitas Compact Disc yang dapat ditangkap dari siaran digital, fasilitas lainnya adalah EPG (electronic program guide) yang memungkinkan melihat program acara TV dalam seminggu ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serta dilengkapi teknologi tinggi dan fitur-fitur unik yang dimilikinya dengan bentuknya yang indah, perpaduan antara seni dan teknologi," kata Santo dalam rilis resmi Polytron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dignity sudah hadir di pasaran sejak Juni 2009 dan tersedia dengan ukuran 29 inch dengan harga Rp 2,8 juta dan 21 inch dengan harga sekitar Rp 1,7 juta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-4725101219901302208?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/4725101219901302208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=4725101219901302208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4725101219901302208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4725101219901302208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/07/tv-digital-polytron.html' title='TV Digital Polytron'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-4114045551913896631</id><published>2009-07-17T21:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T22:47:01.832-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Set Top Box (STB)'/><title type='text'>Polytron Produksi Set Top Box dan TV Digital</title><content type='html'>&lt;img src="file:///C:/Users/user/AppData/Local/Temp/moz-screenshot-1.jpg" alt="" /&gt;  &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/Stqe00YsbZI/AAAAAAAAAEs/_NtBsjCL4hE/s1600-h/TV+Digital+Polytron.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 175px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/Stqe00YsbZI/AAAAAAAAAEs/_NtBsjCL4hE/s320/TV+Digital+Polytron.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393798133982195090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siaran televisi digital pertama kali diterima dengan Set Top Box Polytron dan TV Digital Polytron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Untuk &lt;/strong&gt;memastikan kesiapan PT Hartono Istana Teknologi dalam memproduksi Polytron Set Top Box tersebut, pertengahan Februari kemarin, Alex Kumara dan Supeno Lembang Direktur KTDI serta Sunaryo mewakili pemerintah telah meninjau ke pabrik PT Hartono Istana Teknologi dan melihat secara langsung produksi Set Top Box Polytron DVB.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-4114045551913896631?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/4114045551913896631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=4114045551913896631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4114045551913896631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4114045551913896631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/07/polytron-produksi-set-top-box-dan-tv.html' title='Polytron Produksi Set Top Box dan TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/Stqe00YsbZI/AAAAAAAAAEs/_NtBsjCL4hE/s72-c/TV+Digital+Polytron.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-732997929462754888</id><published>2009-06-19T22:45:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T22:43:09.890-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Meraup Duit Tambahan dari Layanan Bernilai Tambah</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;52647&lt;/span&gt;          &lt;div class="judulheadline"&gt;     &lt;div class="isiartikel"&gt;     &lt;div style="margin-right: 10px; width: 300px; float: left;"&gt;                      &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;              &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;             &lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/04/03/1700469p.jpg" width="298" border="0" /&gt;             &lt;/div&gt;                                           &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/06/18/18151412/Meraup.Duit.Tambahan.dari.Layanan.Bernilai.Tambah#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;SHUTTERSTOCK&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                     &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;ilustrasi&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;                                                                                    &lt;!--- video --&gt;                                              &lt;div style="padding-left: 10px; padding-right: 10px;"&gt;                  &lt;/div&gt;              &lt;/div&gt;Kamis, 18 Juni 2009 | 18:15 WIB&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;&lt;span class="tanggalitem"&gt;&lt;/span&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh Dian Pitaloka Saraswati&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PEKAN lalu para pengguna telepon seluler (ponsel) di Jakarta dan kota-kota satelitnya membanjiri Indonesia Celluler Show (ICS) 2009 di Jakarta Convention Centre Senayan Jakarta. Berbagai fitur, layanan, dan produk baru muncul di pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para operator ponsel menawarkan beragam layanan bernilai tambah alias &lt;em&gt;value added services&lt;/em&gt; (VAS), berupa teks, gambar, video, maupun games. VAS menjadi tambang duit karena tarifnya masih tinggi, yakni antara Rp 1.000-Rp 2.000 per konten. Jelas tarif setinggi itu lebih menggiurkan ketimbang tarif yang mereka pungut dari bisnis pesan singkat alias SMS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para operator tak cuma menjual VAS secara ketengan, tetapi juga secara langganan. Tarif yang mereka pancang beragam. Langganan &lt;em&gt;ring back tones&lt;/em&gt;, sekadar contoh, bertarif antara Rp 5.000-Rp 6.000 per lagu untuk masa langganan selama satu bulan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Makin laris, makin kecil&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada dua alasan sehingga tarif VAS begitu mahal. Pertama, layanan tambahan itu membutuhkan investasi besar. Kedua, VAS melibatkan pihak ketiga, yakni content provider. Pendapatan yang terkumpul dari pelanggan harus mereka bagi dengan penyedia muatan layanan. Operator ponsel yang mapan seperti Indosat, Excelcomindo (XL), dan Telkomsel menggandeng sampai sekitar 85 content provider.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini tersedia sekitar 120 macam layanan VAS. Penambahan konten acap mengikuti tren atau peristiwa tertentu, seperti musim liburan sekolah, Natal, Lebaran, atau tahun baru.&lt;br /&gt;Kontribusi VAS terhadap penerimaan operator memang tak terlalu signifikan, hanya antara 5% sampai 8% dari total pendapatan operator.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Namun &lt;em&gt;growth&lt;/em&gt;-nya bisa lebih dari 30% per tahun," kata VP VAS and New Services Exelcominda. I Made Harta Wijaya. Tahun lalu, pendapatan XL dari VAS mencapai Rp 658 miliar. Tahun ini XL menargetkan pertuinbuhan VAS 45%.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Imutnya kontribusi VAS juga terjadi di Indosat. Tahun lalu VAS hanya menyumbang sekitar 6% total pendapatan operator yang mayoritas sahamnya dimiliki Qatar Telecom itu. "Namun pertumbuhan pendapatan VAS sekitar 25% per tahun," kata Grup Head Gaming dan Content Indosat Judhy N. Adhitianto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oh, iya, porsi bagi hasil untuk operator juga tak mutlak. Semakin laris suatu konten, kian sedikit bagian yang dinikmati oleh operator. "&lt;em&gt;Share&lt;/em&gt; kami tinggal 35%, jika pemasukan konten melampaui Rp 200 juta per bulan," kata Judhy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maklum, agar bisa melampaui Rp 200 juta per bulan, content provider harus mengeluarkan dana tidak sedikit. Mereka harus membayar lisensi, biaya promosi, dan biaya. "Khusus untuk konten eksklusif, biasanya jatah operator besar karena promosi kami yang pegang," kata Judhy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memang ada operator yang memproduksi konten sendiri, tanpa keterlibatan pihak ketiga. Ambil contoh, "3" yang menawarkan VAS berupa fotofoto pemain klub papan atas Liga Inggris Manchester United. "Tarif konten produksi sendiri memang berbeda," ujar Patricia Tedjasendjadja GM Pemasaran VAS Hutchison Charoen Phokpand, operator "3".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Patricia, ada beberapa faktor yang membuat bisnis VAS tumbuh semakin pesat dibanding layanan lain. Pertama, harga handset makin murah seiring tarif pulsa yang juga kian merata telah menyebabkan jumlah pelanggan meningkat pesat. Kedua, semakin banyak artis atau &lt;em&gt;public figure&lt;/em&gt; lain bersedia menjadi narasumber konten. Ketiga, banyaknya akses untuk membeli konten.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ada Teks, Musik, Games, hingga Siaran TV Digital&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sisi komersial, layanan bernilai tambah (VAS) bermuatan teks yang mencantumkan kegiatan artis, ramalan, dan pesan-pesan inspiratif menduduki peringkat pertama. Urutan berikutnya dihuni layanan ringbaek tone (RBT) dan games.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"RBT dan text content saling bersaing," kata VP VAS and New Services Exelcomindo I Made Harta Wijaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut General Manager Pemasaran VAS Hutchison Charoen Phokpand Patricia Tedjasendjadja, pelanggan menggemari konten teks dan RBT karena beberapa hal. Pertama, tidak memerlukan jenis handset tertentu. Kedua, mayoritas pelanggan menyukai musik dan ada dukungan dari industri rekaman (label). Ketiga, menggunakan mekanisme berlangganan.&lt;br /&gt;Selain RBT, teks, dan games, nyaris tidak ada inovasi baru dalam layanan VAS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kendati begitu, operator berupaya mendatangkan hal-hal baru. Ambil contoh, "3" memberikan layanan konten Manchester United berupa logo dan foto pemain dengan tarif hanya Rp 300 per konten. Lebih murah daripada tarif VAS lain yang bertarif di atas Rp 1.000 per konten.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara operator seperti Indosat memilih memperbarui tampilan VAS di layar ponsel. Operator seluler terbesar kedua ini juga berupaya membenahi layanan VAS dengan meluncurkan TV digital. Layanan TV digital tersebut bernama Digital Video Broadcasting - Handheld (DVB-H) atawa siaran TV digital yang dapat dinikmati langsung dari layar ponsel.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siaran TV digital tersebut saat ini. bisa dinikmati secara gratis hingga akhir Desember 2009. Layanan tersebut diakses dari berbagai jenis ponsel, tapi dengan tipe tertentu. Seperti Nokia, I,G, Samsung, Philips, Gigabyte (G-smart), Sagem dan ZTE.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siaran TV digital ini juga dapat dinikmati melalui jaringan hotspot atau WiFi IndosatNet di ber-bagai lokasi umum. Seperti di mal, restoran dan pertokoan. Bagi Anda pengguna handset yang sudah memiliki aplikasi DVB-H, silakan mencari frekuensi TV gigital tersebut di kanal 24 UHF. Sedangkan bagi Anda pengguna notebook atau handset yang memiliki akses WiFi, cakup aktifkan WiFi ketika selang berada di lokasi hotspot Indosatnet. Setelah terhubung, pelanggan tinggal melakukan koneksi ke hotspot tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keunggulan siaran TV digital terletak pada kualitas gambar dan suara yang tajam dan jernih, berbeda dengan TV analog yang gampang terputus. "Kami berharap masyarakat dapat mengakses informasi Siaran TV, di mana saja dan kapan saja melalui ponsel dengan kualitas gambar dan suara yang jauh lebih baik," ungkap Suharso, Group Head Value Added Service Marketing Indosat. Siaran TV ini masih gratis.&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;Sumber: KONTAN&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-732997929462754888?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/732997929462754888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=732997929462754888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/732997929462754888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/732997929462754888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/06/meraup-duit-tambahan-dari-layanan.html' title='Meraup Duit Tambahan dari Layanan Bernilai Tambah'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2352028571795798705</id><published>2009-06-12T22:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T22:40:31.958-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Layanan TV Lewat Ponsel Diuji Coba</title><content type='html'>&lt;!-- end headline --&gt;&lt;!-- isi berita --&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jumat, 12 Juni 2009 | 04:00 WIB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Jakarta, Kompas&lt;bell&gt;&lt;/bell&gt; - Konsorsium Tren Mobile TV bekerja sama dengan Indosat, Kamis (11/6), mulai menguji coba layanan penyiaran televisi digital lewat telepon seluler. Jangkauan siaran TV digital yang menggunakan sistem DVB-H (&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;digital video broadcasting–handheld) ini meliputi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal ini disampaikan Direktur Infokom Elektrindo Susilo H Sumarsono, salah satu anggota konsorsium tersebut, dalam acara peluncuran uji coba layanan itu di Indonesia Cellular Show di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis. Dalam uji coba DVB-H ini selain Tren Mobil TV juga dilakukan oleh konsorsium Telkom.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk penyiaran DVB-H telah terpasang menara (&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;tower) di Kebon Sirih berkapasitas 500 W yang akan ditingkatkan menjadi 1,2 kW. Pada tahap komersial tahun 2010 akan terbangun beberapa tiang pemancar lainnya, yaitu di Kebon Jeruk dan Sentul, serta daerah antara Bekasi dan Cikarang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tren Mobile TV menyediakan 10 kanal siaran yang dapat dinikmati masyarakat melalui layanan TV digital pada ponsel,” kata Susilo menjelaskan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Uji coba itu, kata Suharso W Sulistyo, Group Head Value Added Service Marketing Indosat, akan dilakukan hingga akhir tahun ini, bukan hanya aspek stabilitas teknis, tetapi juga proses bisnis, registrasi, dan pembayaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akses layanan siaran TV digital ini dapat dilakukan antara lain oleh pengguna telepon genggam yang didukung layanan DVB-H seperti N-77 dan N-96. Untuk itu perlu dilakukan pengaktifan aplikasi DVB-H pada sarana tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, layanan ini dapat diakses pengguna laptop yang dilengkapi sistem WiFi. Dengan sistem itu dapat dilakukan pelacakan &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;hotspot Indosatnet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Marketing and Programming Director Oke Vision Irwanto Hadikusuma, layanan melalui WiFi menggunakan sistem DVB-H merupakan yang pertama di dunia. &lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;(YUN)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2352028571795798705?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2352028571795798705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2352028571795798705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2352028571795798705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2352028571795798705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/06/layanan-tv-lewat-ponsel-diuji-coba.html' title='Layanan TV Lewat Ponsel Diuji Coba'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-6364262053906868634</id><published>2009-06-12T22:20:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T22:36:59.203-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Indosat Hadirkan Layanan Siaran TV Digital di Ponsel</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span class="hed"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="searchtext"&gt;Kamis, 11 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;        &lt;img src="http://www.studiohp.com//photos/z.gif" border="0" /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;/div&gt;       &lt;span class="searchtext"&gt; PT Indosat Tbk dan Konsorsium Tren Mobile TV menggratiskan layanan siaran TV digital pertama berstandar digital video broadcasting handheld pertama di Indonesia. Suharso, Group Head Value Added Service Marketing Indosat, menuturkan melalui layanan tersebut masyarakat sudah dapat mengakses informasi dari siaran TV di mana saja dan kapan saja melalui ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siaran TV digital ini dapat dinikmati secara gratis hingga akhir Desember 2009," ujarnya. Menurut dia, siaran tersebut dapat diakses oleh berbagai jenis ponsel dengan jenis dan tipe tertentu dari merek Nokia, LG, Samsung, Philips, Gigabyte (G-smart), Sagem, dan ZTE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja sama tersebut mengandalkan jaringan frekuensi radio kanal 24 ultra high frequency dan melalui jaringan hotspot atau Wi-fi IndosatNet di berbagai lokasi umum seperti di mal, restoran, dan pertokoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsorsium Tren Mobile TV telah memancarkan 10 saluran siaran televisi bergerak digital yang dapat diterima peranti handset khusus menyusul rencana peresmian uji coba layanan mobile TV pada Juni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haris Jauhari, Pemrogram &amp;amp; Media Relations Konsorsium Tren Mobile TV, menuturkan siaran tersebut sudah berjalan dengan 10 saluran, yaitu TPI, RCTI, Global TV, MNC News, MNC Entertainment, MNC Music, TVRI, Aljazeera, Bloomberg, dan CNN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Haris, layanan tersebut digratiskan bersamaan dengan pelaksanaan uji coba di bilangan Kebon Sirih wilayah Jakarta Pusat menggunakan pemancar berdaya 500 watt (digital) yang ke depannya akan ditingkatkan menjadi antara 1,2 kilowatt dan 3 kilowatt. "Pada saatnya ini menjadi 5 kilowatt untuk dapat menjangkau Jabodetabek," jelasnya kepada Bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsorsium merumuskan model bisnis layanan tersebut, termasuk memperhitungkan keunggulan kompetitifnya dan menguji teknisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dari siaran TV digital ini terdapat pada kualitas gambar dan suara yang lebih tajam dan jernih, apabila dibandingkan dengan siaran TV berbasis analog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses layanan siaran TV digital ini dapat dilakukan antara lain oleh pengguna handset yang didukung layanan DVB-H seperti N77 atau N96 cukup dengan cara mengaktifkan aplikasi DVB-H dari handset dan otomatis handset akan melakukan searching frekuensi mobile TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun, untuk pengguna laptop atau handset yang didukung Wi-Fi cukup dengan cara mengaktifkan fitur tersebut dan melakukan searching hotspot IndosatNet kemudian melakukan koneksi ke hotspot tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Bisnis Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-6364262053906868634?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/6364262053906868634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=6364262053906868634' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6364262053906868634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6364262053906868634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/06/indosat-hadirkan-layanan-siaran-tv.html' title='Indosat Hadirkan Layanan Siaran TV Digital di Ponsel'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2152446878616514563</id><published>2009-06-12T22:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T22:12:58.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Indosat Hadirkan Siaran Digital di Ponsel</title><content type='html'>&lt;p class="isi_artikel"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="reporter"&gt;&lt;strong&gt;Achmad Rouzni Noor II&lt;/strong&gt; - detikinet   &lt;/span&gt;            &lt;/p&gt;   &lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; - Indosat bekerja sama dengan Konsorsium Tren Mobile TV memperkenalkan layanan baru berupa DVB-H (Digital Video Broadcasting – Handheld), yaitu layanan siaran TV digital yang dapat dinikmati langsung dari layar ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran TV digital yang saat ini dapat dinikmati secara gratis hingga akhir Desember 2009, dapat diakses oleh berbagai jenis ponsel dengan jenis dan tipe tertentu dari merk Nokia, LG, Samsung, Philips, Gigabyte (G-smart), Sagem dan ZTE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dapat dinikmati melalui jaringan frekuensi radio kanal 24 (Ultra High Frequency), siaran tv digital ini juga dapat dinikmati melalui jaringan Hotspot/Wi-fi IndosatNet di berbagai lokasi umum seperti di mal, restoran dan pertokoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dari siaran TV digital ini terdapat pada kualitas gambar dan suara yg lebih tajam dan jernih, jika dibandingkan dengan siaran TV berbasis analog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan inovasi ini kami mengharapkan masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dari siaran TV di mana saja dan kapan saja melalui ponsel mereka, dengan kualitas gambar dan suara yang jauh lebih baik," ungkap Suharso, Group Head Value Added Service Marketing Indosat, Selasa (9/6/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses layanan siaran TV Digital ini dapat dilakukan antara lain oleh pengguna handset yang didukung layanan DVB-H (seperti N77 atau N96) cukup dengan cara mengaktifkan aplikasi DVB-H dari handset dan otomatis handset akan melakukan searching frekuensi mobile TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk pengguna Laptop atau handset yang support WIFI, cukup dengan cara mengaktifkan WIFI-nya dan melakukan searching hotspot Indosatnet kemudian melakukan koneksi ke hotspot tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren Mobile TV telah menyediakan 10 channel yang dapat dinikmati oleh masyarakat melalui layanan TV digital ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;  ( rou / faw ) &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2152446878616514563?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2152446878616514563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2152446878616514563' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2152446878616514563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2152446878616514563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/06/indosat-hadirkan-siaran-digital-di.html' title='Indosat Hadirkan Siaran Digital di Ponsel'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2436047106965484700</id><published>2009-06-12T20:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T22:56:48.434-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Indosat Luncurkan Layanan TV Digital</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqR8HpLGqI/AAAAAAAAAEk/oH-pyvZSY3k/s1600-h/Logo+Indosat.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 182px; height: 68px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqR8HpLGqI/AAAAAAAAAEk/oH-pyvZSY3k/s320/Logo+Indosat.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393783965759511202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kamis, 11 Juni 2009 | 20:42 WIB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;     &lt;p class="isi_artikel"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;strong&gt;TEMPO &lt;em&gt;Interaktif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;: Indosat meluncurkan layanan siaran televisi digital yang bisa diakses melalui ponsel maupun koneksi wifi hari ini, Kamis (11/6) di Jakarta Convention Center. Indosat menggandeng Konsorsium Tren Mobile TV dan memulai siaran uji coba sejak Maret lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group head value added service marketing Indosat Suharso W. Sulistyo mengatakan dengan layanan ini pelanggan bisa mengakses siaran televisi digital kapan saja dan di mana saja lewat ponsel. "Dengan kualitas gambar dan suara yang lebih baik," katanya. Tetapi tentu saja ponsel yang digunakan harus memiliki kemampuan atau fitur menangkap siaran televisi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu juru bicara konsorsium Tren Mobile TV, Susilo H. Sumarsono mengatakan mereka bekerjasama dengan Indosat dan IM2 untuk mengkonversi siaran televisi digital ke jaringan nirkabel wifi. "Jadi selain menggunakan ponsel anda bisa mengakses televisi digital lewat laptop dengan memanfaatkan koneksi wifi-nya Indosat," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengakses lewat ponsel, kata Susilo pengguna cukup menyalakan fitur televisi digital lalu menjalankan menu search chanel. Tetapi ponsel yang mendukung baru beberapa saja yaitu: Samsung SGH P910, Nokia N77, Nokia N92 dan ZTE N7100. Jika mengakses lewat laptop pengguna tinggal mengatur alamat IP khusus yang digunakan untuk mengakses layanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggan bisa memanfaatkan layanan ini secara gratis sampai akhir tahun nanti. "Sekarang ada 10 chanel yang tersedia," kata Susilo. Chanel tersebut adalah CNN, Global TV, TVRI, RCTI, TPI, Al Jazeera, MNC News, MNC Music, MNC Entertainment, Infokom dan menyusul Cartoon Network.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karena baru dalam masa uji coba jangkauan wilayah yang bisa menikmati televisi digital Indosat juga terbatas. "Saat ini tower pemancarnya ada di Kebon Sirih. Jadi wilayah yang bisa menerima dalam radius lima kilometer dari Kebon Sirih," kata Sumarsono. Rencananya, lanjutnya di seluruh Jakarta nantinya akan dibangun tiga tower sebagai pemancar siaran televisi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu tower lagi di Joglo dan satu lagi di area antara Bekasi dan Cikarang," kata Sumarsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kualitas memang dipastikan televisi digital mampu mengirimkan gambar yang jauh lebih baik, dibandingkan televisi analog maupun streaming video lewat internet. Namun soal harga, Sumarsono juga mengatakan bakal lebih murah daripada televisi berbayar. Apalagi siaran televisi ini tidak menggunakan jalur seluler sehingga tidak akan menyerap pulsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Model bisnisnya memang belum ditentukan karena pemerintah juga belum menentukan kapan secara remsi ini diluncurkan," ujarnya. Namun Sumarsono memperkirakan bakal ada model-model paket yang ditawarkan seperti yang saat ini dijalankan oleh televisi berbayar. Dan menurutnya biaya langganan tidak akan lebih dari Rp 100 ribu per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARTIKA CANDRA&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2436047106965484700?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2436047106965484700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2436047106965484700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2436047106965484700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2436047106965484700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/06/indosat-luncurkan-layanan-tv-digital.html' title='Indosat Luncurkan Layanan TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqR8HpLGqI/AAAAAAAAAEk/oH-pyvZSY3k/s72-c/Logo+Indosat.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2806460619561690412</id><published>2009-06-10T17:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-17T20:41:43.242-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Launching TV Digital'/><title type='text'>LAUNCHING PROGRAM TV DIGITAL INDONESIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqNW4zkUoI/AAAAAAAAAEU/BVf0sygsNhs/s1600-h/TV+Digital+Bppt+tvri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqNW4zkUoI/AAAAAAAAAEU/BVf0sygsNhs/s320/TV+Digital+Bppt+tvri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393778928074904194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dunia penyiaran televisi di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1962 dimana TVRI menyiarkan secara langsung Asean Games ke-IV dari Gelora Bung Karno, Jakarta. Sementara itu untuk era siaran TV Digital di Indonesia telah dimulai sejak 13 Agustus 2008, ditandai dengan peluncuran uji coba siaran TV Digital TVRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keuntungan dari penggunaan siaran digital ini memungkinkan penggunaan jaringan kanal tunggal (&lt;em&gt;single frequency network&lt;/em&gt;) tanpa adanya interferensi yaitu gangguan tumbukan sinyal dari siaran radio atau TV lainnya. Hasilnya keluaran gambar dan suara lebih stabil dan jernih. Selain itu pemanfaatan akan lebih efektif dan efisien karena satu kanal dapat dipergunakan untuk enam sampai delapan program”, demikian disampaikan oleh Fredy Tulung, Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) , Depkominfo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqNngMPmiI/AAAAAAAAAEc/9K6SxYda3oI/s1600-h/Launching+Tv+Digital+Bppt+Tvri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqNngMPmiI/AAAAAAAAAEc/9K6SxYda3oI/s320/Launching+Tv+Digital+Bppt+Tvri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393779213525293602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menurut Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK), BPPT, Tatang A. Taufik, sejak tahun 2007 BPPT telah melakukan pengkajian mengenai peralatan, evaluasi program untuk TV digital, dan penetapan ketentuan teknis. “Proses migrasi dari TV analog menuju TV digital membutuhkan waktu yang cukup panjang, karena harus menyiapkan &lt;em&gt;set top box&lt;/em&gt; yang dapat dijangkau oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu saat ini BPPT masih melakukan kajian untuk pengembangan fitur-fitur yang mempunyai spesialis konten seperti contohnya untuk pembelajaran dan peringatan dinii bahaya. Ditegaskan dalam kesempatan ini bahwa BPPT tidak melakukan proses produksi, tetapi hanya mengembangkan &lt;em&gt;prototype&lt;/em&gt; yang kemudian diproduksi oleh industri dalam negeri” ungkap Tatang dalam pernyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara ini diserahkan pula laporan hasil evaluasi LG LCD TV 47LH50YD dari BPPT kepada LG. Diharapkan pada tahun 2015 Indonesia telah berhasil bermigrasi dari siaran TV analog menuju siaran TV Digital. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak baik itu pemerintah maupun pihak industri dan juga masyarakat.(RF/Humas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Sourche: http://www.bppt.go.id/component/content/article/55-teknologi-informasi-komunikasi-dan-kendali/176-dialog-launching-program-tv-digital-indonesia-di-studio-7-tvri-senayan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2806460619561690412?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2806460619561690412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2806460619561690412' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2806460619561690412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2806460619561690412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/06/launching-program-tv-digital-indonesia.html' title='LAUNCHING PROGRAM TV DIGITAL INDONESIA'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/StqNW4zkUoI/AAAAAAAAAEU/BVf0sygsNhs/s72-c/TV+Digital+Bppt+tvri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-8143794172216792199</id><published>2009-05-21T00:38:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T00:47:13.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Peluncuran TV Digital</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Gatot S. Dewa Broto, &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Jakarta, 20 Mei 2009).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 20 Mei 2009 ini telah menghadiri puncak peringatan Hari Kebangkitan Nasional, yang untuk tahun 2009 ini dilakukan di kantor pusat Studio SCTV, yang terletak di Senayan City, Jakarta. Acara peringatan ini (yang berlangsung dari jam 13.20 s/d. 15.30 WIB) selain dihadiri oleh Ketua MPR, sejumlah Menteri, puluhan direksi BUMN maupun kalangan swasta dan juga menampilkan secara footage terhadap pernyataan kebangsaan oleh Johana Sunarti AH Nasution, Gus Dur, Emil Salim, Anis Baswedan dan WS Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini dikemas secara atraktif dan diwarnai dengan penampilan beberapa selebritis seperti group band Coklat dengan lagu populernya “Bendera”, penyanyi Niji dengan lagu “Laskar Pelangi” dan juga penyanyi Bunga Citra Lestari. Acara ini memadukan unsur historis yang melatar-belakangi kesadaran berbangsa melalui Hari Kebangkitan Nasional, juga unsur patriotik melalui lagu-lagu populer saat ini yang patriotik dan penggalakan kembali penggunaan produk dalam negeri dalam konteks ACI (Aku Cinta Indonesia), unsur integratif nasional dan internasional dalam bentuk dialog interaktif antara Presiden RI dengan beberapa warga masyarakat yang berada di tempat-tempat terpencil melalui fasilitas telefon pedesaan dan yang di luar negeri juga sekalipun yaitu yang berada di KBRI di Tokyo dan KBRI di Den Haag serta juga unsur unjuk kemampuan dalam pengembangan tehnologi televisi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2009 ini lebih sederhana jika dibandingkan dengan peringatan serupa pada tahun 2008 ketika tepat 1 abad peringatan Hari Kebangkitan Nasional, namun esensi rangkaian acaranya jauh lebih konkret sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini, sebagaimana dilaporkan dalam sambutan pengantarnya oleh Menteri Kominfo Mohammad Nuh sebagai koordinator peringatan Hari Kebangkitan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti misalnya ketika Presiden RI meresmikan uji coba televisi digital, maka sejak saat itupula Indonesia telah berusaha mensejajarkan dirinya sebagai salah salah satu bangsa di dunia yang sudah serius dan intensif dalam menuju program digitalisasi televisi pada masa mendatang sebagaimana juga sudah dilakukan uji cobanya oleh beberapa negara maju lainnya meskipun batas akhir realisasinya masih membutuhkan waktu beberapa tahun. Terjadinya perkembangan teknologi penyiaran televisi di dunia yang beralih dari sistem penyiaran analog ke digital memberikan tantangan bagi Indonesia untuk berusaha menyesuaikan dengan perkembangan teknologi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan migrasi sistem penyiaran analog ke digital, selain sudah dirintis sejak tahun 2007 melalui adanya Penetapan Standar Penyiaran Digital Terrestrial untuk Telivisi Tidak Bergerak di Indonesia. Ditetapkan dengan Permenkominfo No.07/P/M.KOMINFO/3/2007 tanggal 21 Maret 2007, juga yang cukup penting adalah berupa soft launching uji coba Siaran Televisi Digital di Indonesia oleh Wakil Presiden RI Yusuf Kalla di studio TVRI di Senayan – Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2008. &lt;a href="http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=1100"&gt;Momentum uji coba televisi digital di TVRI dan kini di SCTV tersebut&lt;/a&gt; jelas akan menjadi lokomotif bagi perubahan yang cukup signifikan di bidang penyiaran televisi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai informasi, saat ini sedang dilakukan uji coba lapangan penyelenggaraan siaran TV digital. Sudah ditetapkan 4 Konsorsium untuk menyelenggarakan ujicoba lapangan: 2 konsorsium sebagai penyelenggara uji coba untuk free-to-air , yaitu PT. Konsorsium Televisi Digital Indonesia dan Konsorsium LPP TVRI – PT. Telkom serta 2 penyelenggara uji coba untuk Mobile TV , yaitu Konsorsium Tren Mobile TV dan Konsorsium Telkom-Telkomsel-Indonusa. Uji coba tersebut bertujuan untuk Mengkaji aspek teknisi dan non teknis dalam penyelenggaraan siaran televisi digital sebagai persiapan migrasi penyiaran analog ke digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan itu tidak hanya penting bagi penyedia konten dan infrastruktur penyiaran, tetapi juga bagi masyarakat, yang dalam catatan Departemen Kominfo telah terdapat sekitar 40 juta unit televisi yang ditonton lebih dari 200 juta orang di seluruh Indonesia. Teknologi TV digital dipilih karena punya banyak kelebihan dibandingkan dengan analog. Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan ( recovery ) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman/transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error ( error correction code ) tertentu. Kelebihan lainnya adalah efisiensi di banyak hal, antara lain pada spektrum frekuensi (efisiensi bandwidth), efisiensi dalam network transmission , transmission power , maupun consumption power . Di samping itu, TV digital menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak ( multipath ). Pada sistem analog, efek lintasan jamak menimbulkan echo yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan). Kelebihan lainnya adalah ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile), misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud konkret lain yang diketengahkan dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2009 ini adalah saat Presiden RI melakukan video conference dengan beberapa tokoh masyarakat di 4 lokasi terpecil, yaitu di Desa Ubrub, Kecamatan Web, Kabupaten Kerom, Provinsi Papua; Desa Adaut, Kecamatan Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku; Desa Sekatak Puji, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur; dan Desa Ranupati, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang cukup menarik pada acara ini adalah karena beberapa Duta Besar atau yang mewakili turut diundang termasuk yang dari Australia, Malaysia dan PNG dalam acara video conference ini, karena letak 3 lokasi video conference tepat berhadap-hadapan dengan perbatasan bersama PNG (di Desa Ubrub), Australia (di Desa Adaut) dan Malysia (di Desa Sekatak Puji).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bukan saat ini saja Presiden RI melakukan video conference dengan masyarakat di daerah-daerah terluar, sebagaimana yang pernah &lt;a href="http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=1030"&gt;secara sukses dilakukan pada tanggal 16 Agustus 2008 dari Wisma Negara ke 4 lokasi daerah terpencil&lt;/a&gt;, yang tersebar di Nangroe Aceh Darissalam, Maluku, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Secara kebetulan saja, baik untuk acara video conference tanggal 16 Agustus 2008 dan 20 Mei 2009 ini sama-sama dilakukan operasionalisasinya oleh PT Telkomsel, karena jika pada video conference bulan Agustus 2008 lalu PT Telkomsel mengambil inisiatif melalui program Merah Putih, sedangkan untuk bulan Mei 2009 ini adalah gabungan antara PT Telkomsel yang sudah ditetapkan sebagai pemenang lelang USO (Universal Service Obligation / akses telefon pedesaan) dan juga sudah menanda-tangani kontraknya untuk beberapa wilayah Indonesia (terkecuali Sulawesi, Maluku dan Papua yang masih ditender ulang saat ini) dengan kapasitas PT Telkomsel dalam melanjutkan program Merah Putih. Ini perlu dijelaskan, karena 2 lokasi video conference yaitu di Maluku dan Papua belum tersentuh pekerjaan USO yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui,&lt;a href="http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=1165"&gt; Departemen Kominfo melalui program USO sedang mempercepat program pembangunan penyediaan jasa akses telekomunikasi dan informatika perdesaan &lt;/a&gt;dalam menyediakan layanan “voice service” yang lebih dikenal dengan Program Desa Berdering di 31.824 desa dan internet (Desa Pinter) di 4.300 kecamatan di seluruh Indonesia yang akan diselesaikan sampai dengan tahun 2010. Sebanyak 24.015 telepon desa dan 69 internet desa di 22 provinsi akan diselesaikan pada tahun 2009, selanjutnya pada tahun 2010 akan diselesaikan 7.773 telepon desa dan 31 internet desa di 10 provinsi. Basis teknologi yang digunakan pada telepon desa dan internet desa adalah teknologi yang memiliki “life time” jangka panjang dan dapat dikembangkan untuk layanan yang lebih “advance” pada saatnya nanti. Dengan adanya program USO ini Departemen Kominfo diharapkan dapat segera memenuhi target Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang RPJM Nasional. Dengan harapan seluruh fasilitas telekomunikasi dimaksud sepenuhnya dapat sebagai sarana yang dapat membantu pemberdayaan masyarakat desa setempat yang digunakan secara berbayar dan agar dapat dimanfaatakn secara baik, sehingga layanan telekomunikasi berkesinambungan serta menciptakan “multiplier effect” disegala bidang sehingga kemakmuran seluruh pelosok Indonesia dapat dinikmati secara merata hingga sampai ke desa-desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbekal komitmen Indonesia untuk terus mengikuti perkembangan tehnologi informasi terkini dan yang aksesibel di daerah-daerah pelosok Indonesia, melalui peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini Presiden RI kembali mengingatkan publik tentang pentingnya penggunan produk dalam negeri dengan jargon ACI (Aku Cinta Indonesia). Memang program ACI ini sudah dicanangkan secara khusus oleh Presiden RI pada saat Peresmian Pameran INACRAFT pada tanggal 22 April 2009, sehingga yang berlangsung di SCTV ini adalah penggalakan kembali slogan ACI dengan tujuan untuk mengingatkan kembali seluruh masyarakat, bahwa melalui semangat peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini ini diharapkan dapat mendorong bagi peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Secara keseluruhan, acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Studio SCTV ini berlangsung dengan sukses dan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan tempat peringatan acara ini di SCTV sama sekali tidak ada pertimbangan tertentu dari Departemen Kominfo, karena semata-mata karena SCTV adalah salah satu bagian dari &lt;a href="http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=1100"&gt;Konsorsium Televisi Digital Indonesia&lt;/a&gt; (yang secara keseluruhan beranggotakan SCTV, TransTV, Trans7, MetroTV, ANTV dan TVOne), juga karena pada saat yang bersamaan stasiun televisi tersebut meyakan HUT salah satu program unggulannya: Liputan 6 SCTV.&lt;br /&gt;—————&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo (Gatot S. Dewa Broto, HP: 0811898504, Email: &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;a href="mailto:gatot_b@postel.go.id"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;gatot_b@postel.go.id, &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tel/Fax: 021.3504024).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-8143794172216792199?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/8143794172216792199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=8143794172216792199' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8143794172216792199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8143794172216792199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/05/peluncuran-tv-digital.html' title='Peluncuran TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2766878988205117237</id><published>2009-05-18T22:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-21T00:38:41.768-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Meraup Digital Devidend Siaran TV Digital</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaung siaran TV digital yang sudah terdengar sejak beberapa waktu lalu, semakin nyaring sejak pemerintah secara resmi melakukan soft launching siaran TV digital di studio TVRI pada tanggal 13 Agustus 2008 lalu dan akan disusul dengan Grand Launching yang akan dilakukan tanggal 20 Mei 2009 di Jakarta. Hal ini telah memicu para pelaku industri penyiaran untuk berbenah menghadapi perubahan-peruhan yang terjadi. Paling tidak ada beberapa perubahan yang harus dihadapi, antara lain perubahan regulasi, alokasi frekuensi, perubahan teknologi dan model bisnis yang digunakan. Semuanya memberikan konsekuensi beragam bagi para stakeholder industri TV ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa sekilas tampak pemerintahlah yang paling banyak memperoleh digital devidend dari migrasi ini, yaitu semakin banyaknya alokasi frekuensi yang dapat “dijual” kepada para pelaku bisnis penyiaran TV, yang semakin banyak mendatangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berupa BHP (Biaya Hak Penggunaan) frequency. Bahkan dengan teknologi digital ini, PNBP dapat diperoleh bukan hanya dari penyelenggara network provider, melainkan juga bisa dari penyedia content provider.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara para pelaku bisnis dari kalangan swasta seolah harus puas menghadapi digital consequent nya, harus terus melakukan investasi perangkat dan human resource baru, tanpa bisa berbuat banyak demi menjaga kesempatan untuk tetap berbisnis di bidang ini. Namun bila lebih jauh dipelajari, sebenarnya proses migrasi ini dapat memberikan deviden bagi seluruh stakeholder. Hal ini sangat tergantung dari kesiapan masing-masing pihak dalam menyikapinya dan ikut terlibat didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pemerintah, beberapa pihak telah melakukan persiapan menghadapi migrasi ini. Para pelaku industri penyiaran, dalam hal ini industri radio dan televisilah yang paling banyak terlihat melakukannya. Industri penyiaran TV telah melakukan ujicoba siaran digital melalui pembentukan konsorsium TV digital yang khusus disiapkan untuk menyesuaikan diri dengan model bisnis TV digital. Ini juga mengawali satu era dimana Diversity of Ownership telah dapat di recovery dan mulai diposisikan kembali secara proposional, untuk mencapai model bisnis siaran TV yang lebih optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan Regulasi&lt;br /&gt;Di bidang regulasi, secara resmi pemerintah Indonesia telah memutuskan teknologi DVB-T (Digital Video Broadcasting – Terrestrial) sebagai standar TV Digital penerimaan tetap di Indonesia. Teknologi ini dipilih karena terbukti memberikan banyak kelebihan dibanding teknologi lainnya. Kelebihan yang paling nyata adalah kemampuannya untuk melakukan effisiensi dalam pemakaian frequency. Karena teknologi ini mampu memultipleks beberapa program sekaligus, di mana paling tidak enam program siaran dapat "dimasukkan" sekaligus ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas cukup baik. Ibarat satu lahan, yang tadinya hanya dapat dipergunakan untuk membangun satu gedung, dengan teknologi ini mampu dibangun enam gedung sekaligus tanpa perlu menambah lahan yang ada, dengan kualitas bangunan lebih baik dan daya tampung jauh lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasinya, akan memberikan peluang lebih banyak untuk menempatkan siaran TV di kanal UHF (Ultra High Frequency) yang saat ini sudah penuh sesak dipergunakan, dan bahkan hampir tidak tersisa sama sekali. Dengan teknologi DVB-T ini, semakin banyak siaran TV (digital) dapat ditampung, yang dapat menurunkan kebutuhan alokasi frequency jauh dibawah yang diperlukan saat ini. Dalam hal ini akan terjadi efisiensi penggunaan frequency sehingga pemerintah memiliki kesempatan untuk melakukan re-alokasi dan penataan ulang frequency di kanal UHF, yang berkorelasi positif pada peluang untuk dapat dipergunakannya sebagian kanal frequency yang tersisa untuk aplikasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan Teknologi&lt;br /&gt;Di sisi teknologi jelas terdapat perubahan yang signifikan, yaitu ketahanan sinyal terhadap efek interferensi, derau dan fading dan kemudahannya untuk dilakukan proses identifikasi dan perbaikan (correction) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman / transmisi. Sehingga di era TV digital ini, masyarakat akan memperoleh digital deviden berupa gambar dan suara yang lebih stabil, halus dan resolusi lebih tajam. Tidak akan ditemui lagi gambar yang bergoyang, berbintik, gambar ganda, warna hilang, suara noise di speaker, dll yang membuat tidak nyaman pemirsa dalam menikmati siaran TV. Disamping itu akan diperoleh efisiensi di banyak hal antara lain efisiensi dalam Network Transmission, efisiensi Transmission Power dan Consumption Power. Efisiensi consumtion power inilah yang secara tidak langsung akan berdampak luas bagi efisiensi konsumsi listrik nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV Digital memerlukan perubahan &amp;amp; penambahan beberapa perangkat di sisi transmisinya, yang akan disediakan oleh operator TV digital. Perangkat Encoder berfungsi untuk mengolah sinyal Audio dan Video analog menjadi signal Transport Stream berformat ASI (Asynchronous Serial Interface). Biasanya diperlukan beberapa encoder sekaligus agar sinyal yang ditransmisikan memiliki kapasaitas multi program siaran. Signal ASI keluaran beberapa encoder tersebut kemudian dimultiplex menggunakan perangkat Multiplexer untuk diperoleh signal multi program Transport stream. Signal ini kemudian didistribusikan dan dimodulasi untuk kemudian dipancarkan secara terrestrial menggunakan DVB-T Transmitter kepada pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu mutlak diperlukan perangkat DVB-T Monitoring system, untuk menjaga QoS (Quality of Service) siaran TV Digital. Karena signal TV digital adalah bersifat non linear, dimana disamping kita harus menjaga signal strength pada level tertentu, juga diperlukan monitoring signal quality agar siaran tetap dapat diterima oleh pelanggan dengan kualitas prima. Sehingga perangkat QoS ini menjadi mandatori atau mutlak diperlukan dalam jaringan TV Digital. Beberapa merek perangkat QoS monitoring yang terkenal antara lain Pixelmetrix, R&amp;amp;S dan Textronix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi penerima, agar masyarakat dapat menerima siaran TV digital, diperlukan perangkat STB (set top box) yang berfungsi merubah sinyal TV digital agar bisa diterima perangkat TV existing yang saat ini dimiliki masyarakat. Secara teknis perangkat STB ini sudah mampu diproduksi di dalam negeri. STB adalah perangkat yang mutlak diperlukan untuk menangkap siaran TV digital. Perangkat ini berfungsi untuk menerima dan mengolah signal digital yang dipancarkan oleh operator TV digital, kemudian mengkonversinya menjadi sinyal Audio &amp;amp; Video untuk dapat diterima oleh pesawat penerima TV analog yang ada saat ini. Tanpa STB, masyarakat tidak akan dapat menangkap lagi siaran TV yang nantinya akan dirubah ke digital dalam proses migrasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujicoba Siaran TV Digital&lt;br /&gt;Sejak bulan Agustus 2008 telah dilakukan ujicoba siaran DVB-T. Ujicoba ini atas kerjasama beberapa perusahaan seperti TVRI, PT. Telkom, RRI, BPPT, PT. LEN, Pixelmetrix, dan beberapa perusahaan lainnya, setelah dilakukan softlaunching oleh bapak Wakil presiden pada 13 Agustus 2008 lalu. Dalam hal ini siaran TV digital dipancarkan dari lokasi TVRI-Senayan, yang dapat diterima menggunakan pesawat penerima yang dilengkapi dengan STB dalam radius 5-10 km dari Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji coba Siaran TV Digital lainnya juga sudah dimulai sejak bulan Januari 2009 lalu, baik untuk siaran free-to-air berbasis standard DVB-T maupun untuk siaran mobile-TV yang berbasis open standard. Ujicoba ini dilaksanakan oleh konsorsium penyelenggara infrastruktur jaringan penyiaran TV digital. Melalui Peraturan menteri (permen) nomor: 27/P/M.KOMINFO/8/2008, pemerintah telah menetapkan 4 (empat) konsorsium Lembaga penyiaran sebagai penyelenggara ujicoba siaran TV digital, yaitu 2 penyelenggara siaran free-to-air DVB-T dan 2 lainnya penyelenggara untuk siaran mobile TV (DVB-H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggara siaran free-to-air DVB-T terdiri dari konsorsium TVRI dengan PT. Telkom dan Konsorsium TV Digital Indonesia (KTDI), yang beranggotakan 6 (enam) TV Swasta Nasional yaitu SCTV, Antv, TVOne, Trans TV, Trans 7 dan Metro TV. Disamping itu ada 2 penyelenggara siaran mobile TV (DVB-H), yaitu Konsorsium PT. Tren Mobile / MNC yang beranggotakan RCTI, TPI dan Global TV dan Konsorsium antara PT. Telkom, PT.Telkomsel dan PT Indonusa Telemedia (Telkomvision). Siaran inilah yang akan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia secara resmi tanggal 20 Mei 2009 di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkup Ujicoba siaran TV Digital meliputi antara lain model penyelenggaraan, Karakteristik propagasi dan jangkauan layanan siaran, Kualitas gambar dan suara, Kemampuan penerimaan dalam bentuk pelayanan fixed, portable, atau mobile, Kemampuan untuk dioperasikan dengan sistem jaringan Single Frequency Network (SFN), Program siaran (konten) termasuk layanan data, dan kesiapan serta minat masyarakat terhadap siaran televisi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alokasi frequency radio untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air, disediakan sebanyak 4 (empat) kanal frequency radio, yaitu kanal 40, 42, 44 dan 46 UHF. Sedangkan Alokasi frequency radio untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital mobile TV menggunakan 2 (dua) kanal frequency radio yaitu kanal 24 dan 26 UHF dengan standar yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital, Menteri membentuk tim yang terdiri dari Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Perindustrian, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan unsur lain yang dipandang perlu untuk melakukan penilaian atas pelaksanaan Uji Coba Siaran Televisi Digital dan nantinya bertugas memberikan laporan kepada Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Coba Siaran Televisi Digital bertujuan untuk mengkaji setiap aspek teknis dan non-teknis berupa performansi perangkat dan sistem, model penyelenggaraan siaran televisi digital, dan fitur layanan televisi digital yang diharapkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air, penyelenggara wajib menyediakan alat bantu penerima siaran televisi digital (set top box) MPEG-2 yang memenuhi ketentuan teknis dengan fitur yang mampu memberikan layanan data dengan menu Bahasa Indonesia, informasi ramalan cuaca, keadaan lalu lintas, keuangan, peringatan dini bencana alam, berita, dan dapat dilengkapi dengan sarana pengukuran rating TV. STB yang digunakan harus dapat menerima siaran televisi digital dari semua penyelenggara Uji Coba Siaran Televisi Digital free-to-air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyelenggarakan Uji Coba Siaran Televisi Digital, penyelenggara Uji Coba Siaran Televisi Digital harus memenuhi ketentuan antara lain menggunakan frekuensi radio sesuai dengan peruntukannya, menayangkan iklan dan running text (tulisan bergerak) yang bersifat promosi siaran digital kepada masyarakat, isi siaran dalam penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital bersifat edukatif, hiburan, dan berita. Durasi Uji Coba Siaran Televisi Digital berlangsung sekurang-kurangnya 12 (dua belas) jam per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digital Devidend&lt;br /&gt;Migrasi TV digital ini merupakan tuntutan global, terkait dengan hubungan perdagangan dan industri serta penanaman modal dengan negara lain, karena hampir semua negara di dunia sudah dan atau sedang mempersiapkannya. Juga bertujuan untuk melaksanakan rekomendasi “Mask” Concept RRC06, the Regional Radio Conference 2006 di Geneva, dimana Indonesia telah meratifikasinya. Hal ini untuk melakukan strukturisasi pembangunan Terrestrial broadcasting menuju all-digital future dan exploitasi maximum keuntungan digital transmission pada T-DAB dan DVB-T di Band III dan DVB-T di Band IV dan V, dalam masa transisi dari tahun 2006 ke tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar negara Eropa telah melakukan migrasi total ke siaran TV Digital. Belanda bahkan telah memutuskan untuk melakukan switch off siaran TV analognya (Analog Switch Off / ASO) sejak 11 Desember 2006 lalu. Begitu pula Belgia pada 3 November 2008. Jerman telah melakukan hal sama pada 2 Desember 2008 lalu. Di Inggris, akhir tahun 2005 dilakukan uji coba mematikan beberapa siaran analog untuk menguji bahwa penghentian total sistem analog memang bisa dilakukan pada tahun 2012. Bahkan di Amerika, kongres AS telah menentukan tanggal untuk menghentikan siaran TV analog secara total (switched off) pada 12 Juni 2009, setelah beberapa kali mengalami penundaan. Begitu pula Jepang pada bulan Juli tahun 2011 dan Australia merencanakan melakukan ASO secara bertahap dimulai pada Januari 2010 dan ASO secara total pada bulan Desember tahun 2013.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara di kawasan Asia juga akan mengikuti migrasi total dari sistem analog ke digital. Di Singapura, TV digital telah diluncurkan sejak Februari 2001, dimulai dengan peluncuran siaran mobile TV. Bahkan sejak tahun 2006 telah dilakukan ujicoba siaran HDTV (High Definition TV). Di Malaysia, ujicoba siaran TV digital juga sudah dirintis sejak 1998 dengan dukungan dana sangat besar dari pemerintah dan saat ini siaran TV Digital bisa dinikmati lebih dari 2 juta rumah, direncanakan pemerintah Malaysia akan mematikan siaran analognya (Analog Cut Off) pada tahun 2015. Philipina juga telah memulai siaran TV Digital mobile sejak tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak sudah menunggu implementasi TV digital ini dan diharapkan masyarakat dapat menikmati digital deviden dari proses migrasi ini. Diyakini migrasi ini merupakan momentum sekaligus merupakan salah satu milestone penting kebangkitan teknologi nasional di bidang penyiaran. Milestone yang dimulai sejak peluncuran siaran TVRI pertama kali oleh presiden Soekarno pada 17 Agustus 1962, dilanjutkan program SKSD (Sistem Komunikasi Satelit Domestik) Palapa oleh Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1976 dan diharapkan peluncuran TV digital ini menjadi momentum nasional yang diluncurkan oleh Presiden SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 phase yang ditentukan pemerintah dalam implementasi TV digital ini. Phase I (tahun 2008-2012) ditandai dengan pelaksanaan field trial yang dilaksanakan selama kmaksimum 1 (satu) tahun. Dalam periode ini tidak akan ada penerbitan ijin baru untuk analog TV setelah beroperasinya digital TV network provider. Pada phase ini juga mulai diberikan ijin baru bagi digital TV network provider dan pengenalan standar DVB-T dan DAB (Digital Audio Broadcasting) untuk penyiaran radio. Phase ini juga ditandai dengan simulcast periode dimana siaran TV analog dan digital disiarkan secara bersamaan. Phase ini juga dilakukan proses mendorong industri nasional untuk memproduksi STB .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phase II (tahun 2013-2017) akan ditandai dengan proses analog switch off di beberapa kota besar dan pemberian ijin baru kepada penyelenggara siaran digital secara lebih intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phase III (tahun 2018) akan ditandai dengan totally analog switch off, fully digital, digital TV broadcasting beroperasi di band IV dan V UHF serta channel 49 UHF dan seterusnya akan digunakan untuk penyelenggaraan International Mobile Telecommunication dan Public Protection Disaster Relief.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya perubahan model bisnis di era TV Digital ini memungkinkan dilakukannya efisiensi penggunaan infrastruktur misalnya penggunaan tower bersama, yang dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan masyarakat dengan dihilangkannya “hutan tower” yang saat ini terjadi. Dalam penyiaran digital akan dipisahkan antara penyelenggara atau penyedia konten (content provider) dan penyelenggara jaringan (network provider), yang dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut menikmati kue bisnis penyedia konten TV dan program-program tambahan lainnya seperti citizen journalism video report, traffic report, disaster report dll. Kita tunggu kesempatan ini agar masyarakat jangan hanya terposisikan sebagai pihak yang dirugikan, karena ketidakberdayaan, ketidakmampuan dan ketidaktersediaan pilihan lainnya, namun agar masyarakat dapat meraup digital devidend yang nyata dari migrasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, &lt;span style="font-size:85%;"&gt;pemerhati penyiaran dan konvergensi multimedia&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2766878988205117237?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2766878988205117237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2766878988205117237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2766878988205117237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2766878988205117237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/05/meraup-digital-deviden-siaran-tv.html' title='Meraup Digital Devidend Siaran TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-827740184769089135</id><published>2009-04-05T18:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-27T02:48:59.038-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Digital TV'/><title type='text'>Perkembangan TV Digital di Hongkong</title><content type='html'>&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Hong Kong telah mengadakan ujicoba siaran digital menggunakan standar ISDB-T, ATSC dan DVB-T pada tahun 1999. Ujicoba siaran digital telah dilakukan untuk sistim DVB-T dan ISDB-T baik penerimaan tetap (fixed) maupun penerimaan bergerak (mobile) sementara untuk sistim ATSC 8-VSB hanya dilakukan untuk penerimaan tetap saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2000 pemerintah telah mempublikasikan consultation paper yang pertama dilanjutkan yang kedua pada tanggal 5 Desember 2003. Walaupun sistim DVB-T telah dipilih namun merujuk kepada hasil tanggapan hasil consultation paper oleh ATV dan TVB, pemilihan standar diundur sambil menunggu perkembangan standar di Cina. Sampai saat ini sistim DVB-T masih digunakan dengan pemahaman bahwa akan segera diganti dengan perangkat yang kompatibel terhadap standar yang digunakan di China bila sudah tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu potensi model bisnis baru berdasarkan keinginan pasar juga sedang dijajaki sebelum standar yang baru tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, Pemerhati Konvergensi Multimedia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-827740184769089135?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/827740184769089135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=827740184769089135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/827740184769089135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/827740184769089135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/03/perkembangan-tv-digital-di-hongkong.html' title='Perkembangan TV Digital di Hongkong'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-6503712645757672970</id><published>2009-04-05T17:58:00.000-07:00</published><updated>2009-05-27T02:48:40.852-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Digital TV'/><title type='text'>Perkembangan TV Digital di Australia</title><content type='html'>&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Australia telah diluncurkan “Digital Action Plan” pada Tanggal 23 November 2006, dengan tujuan untuk membantu memberikan panduan bagi Australia untuk melakukan transisi ke Televisi digital. Action plan yang bernama “Ready, Get Set, Go Digital” berisi outline bagi pemerintah dalam melakukan langkah-langkah migrasi ke digital, termasuk pembentukan badan khusus migrasi yang bernama “Digital Australia“ yang akan melakukan koordinasi dengan pemerintah, kalangan industri, manufacturers, regulator dan consumers dalam persiapan migrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini telah secara resmi menentukan standar DVB-T sejak tahun 2001 dan analogue switch-off diharapkan dapat terjadi antara tahun 2010 dan 2012. Pemerintah telah melakukan pilot trial televisi digital sejak tahun 1998 dan di akhir April 2008 diperkirakan sudah lebih dari 3.2 juta digital TV receiver terjual atau sekitar 42% dari total 7.6 juta total populasi penduduk yang memiliki pesawat televisi. Negara ini juga telah melakukan ujicoba DVB-H yang dilakukan oleh Bridge Networks dan ujicoba MHP (Multimedia Home Platform) interactive TV oleh SBS broadcast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Communications Minister Stephen Conroy, Australia telah merencanakan untuk melakukan switch over siaran TV ke digital pada akhir tahun 2013.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan dan mempromosikan proses ini, pemerintah telah membentuk new task force, yang melibatkan television networks, broadcasters, content makers dan manufacturers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu pemerintah telah melakukan re-packaged dan mengkonfirmasi untuk mengalokasikan $38 juta (Australian) untuk mendukung proses digital switchover ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, Pemerhati Konvergensi Multimedia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-6503712645757672970?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/6503712645757672970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=6503712645757672970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6503712645757672970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6503712645757672970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/03/perkembangan-tv-digital-di-australia.html' title='Perkembangan TV Digital di Australia'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-4812565333173167312</id><published>2009-03-05T22:06:00.000-08:00</published><updated>2009-10-17T22:09:01.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Polytron Ditunjuk Jadi Pemasok Perangkat TV Digital</title><content type='html'>&lt;h2 style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:85%;" &gt;Rabu, 04 Maret 2009 12:35&lt;/span&gt;&lt;!--&lt;a href="javascript:void(0);" onclick="javascript: switchNewsTabTop('newsTopInfoComment');"&gt;&lt;b&gt;BERI KOMENTAR&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;--&gt; &lt;a href="http://www.kapanlagi.com/u/newsthick.php?sb=k&amp;amp;id=278400&amp;amp;t=Polytron_Ditunjuk_Jadi_Pemasok_Perangkat_TV_Digital" onclick="return show_hide_centered_box(this, 680, 450, 2);" target="_top"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;                                    &lt;script type="text/javascript"&gt;                                 var print_news_url = "http://www.kapanlagi.com/h/0000278400_print.html";                                 var have_artist = true;                                                                  var news_url = "http://www.kapanlagi.com/h/0000278400.html";                                 var news_id = "278400";                                 var news_title = "Polytron%20Ditunjuk%20Jadi%20Pemasok%20Perangkat%20TV%20Digital";                                                                  var artist_name = "";                                 var artist_url = ""; &lt;/script&gt;&lt;div style="padding: 1px 3px 10px 5px; clear: both; text-align: left;"&gt; &lt;div style="border: 1px solid rgb(102, 102, 102); float: left; display: none;" id="newsTopInfoEmail"&gt;   &lt;div style="padding: 0px; width: 330px;"&gt;     &lt;div style="padding: 10px; font-weight: bold; text-align: center; background-color: rgb(237, 237, 237);"&gt;KIRIM EMAIL KE TEMAN&lt;/div&gt;     &lt;div style="padding: 10px;"&gt;Informasikan ke teman-teman Anda mengenai berita di bawah melalui email.&lt;/div&gt;     &lt;div style="padding: 8px;"&gt;       &lt;form action="/u/sendtofriend.php" method="post" target="subscribe" onsubmit="return false;" id="newsTopmInfoEmailForm"&gt;            &lt;div id="topBoxSendToFriend"&gt;         &lt;div style="margin: 2px; float: left;"&gt;Nama Anda&lt;/div&gt;         &lt;div style="margin: 2px; float: right; text-align: right;" id="nameFriendTopPar"&gt;&lt;input style="width: 150px;" name="name" id="nameFriendTop" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;         &lt;div style="margin: 2px; clear: both; width: 120px; float: left;"&gt;Alamat Email Anda&lt;/div&gt;         &lt;div style="margin: 2px; float: right; text-align: right;" id="emailFriendTopPar"&gt;&lt;input style="width: 150px;" name="email" id="emailFriendTop" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         &lt;div style="margin: 3px; clear: both; text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Kirim Ke&lt;/div&gt;         &lt;div style="float: left; padding-left: 10px;"&gt;Nama&lt;/div&gt;         &lt;div style="float: right; text-align: right; padding-right: 10px;"&gt;Email&lt;/div&gt;         &lt;br /&gt;                &lt;div style="margin: 1px; float: left;"&gt;&lt;input style="width: 135px;" name="recipientTop1" id="recipientTop1" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: right; text-align: right;"&gt;&lt;input style="width: 140px;" name="remTop1" id="remTop1" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: left;"&gt;&lt;input style="width: 135px;" name="recipientTop2" id="recipientTop2" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: right; text-align: right;"&gt;&lt;input style="width: 140px;" name="remTop2" id="remTop2" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: left;"&gt;&lt;input style="width: 135px;" name="recipientTop3" id="recipientTop3" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: right; text-align: right;"&gt;&lt;input style="width: 140px;" name="remTop3" id="remTop3" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: left;"&gt;&lt;input style="width: 135px;" name="recipientTop4" id="recipientTop4" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: right; text-align: right;"&gt;&lt;input style="width: 140px;" name="remTop4" id="remTop4" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: left;"&gt;&lt;input style="width: 135px;" name="recipientTop5" id="recipientTop5" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 1px; float: right; text-align: right;"&gt;&lt;input style="width: 140px;" name="remTop5" id="remTop5" value="" type="text"&gt;&lt;/div&gt;         &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;                        &lt;div style="float: left; padding-top: 5px;"&gt;           &lt;div style="float: left; text-align: left; width: 260px;"&gt;                        &lt;input name="copyTop" id="idcopyTop" value="1" checked="checked" type="checkbox"&gt; kirim copy ke email saya                  &lt;/div&gt;                  &lt;br /&gt;         &lt;/div&gt;                                &lt;div style="width: 100%; padding-top: 10px; text-align: right;"&gt;                             &lt;input name="typeTop" id="typeTop" value="news" type="hidden"&gt;                             &lt;input name="flagTop" id="flagTop" value="true" type="hidden"&gt;                             &lt;input value="Tutup form ini" onclick="javascript: document.getElementById('newsTopInfoEmail').style.display = 'none';" type="button"&gt;                             &lt;input value="Kirim" onclick="javascript: sendToFriendDataTop(this);" type="submit"&gt;                       &lt;/div&gt;         &lt;br /&gt;       &lt;/form&gt;     &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="border: 1px solid rgb(102, 102, 102); float: left; display: none;" id="newsTopInfoComment"&gt;                    &lt;form id="newsTopInfoCommentForm"&gt;   &lt;div style="padding: 0px; width: 330px;" id="mainCommentNewsTop"&gt;     &lt;div style="padding: 10px; font-weight: bold; text-align: center; background-color: rgb(237, 237, 237);"&gt;KOMENTAR PEMBACA&lt;/div&gt;     &lt;div style="padding: 10px;"&gt;       Berikan komentar Anda untuk berita di bawah.&lt;br /&gt;       Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.     &lt;/div&gt;        &lt;div style="padding: 8px;"&gt;        &lt;div id="topBoxNewsComment"&gt;                       &lt;div style="clear: both; text-align: left; padding-top: 8px;"&gt;          &lt;div style="float: left; width: 75px;"&gt;Nama Anda&lt;/div&gt;             &lt;div style="float: left;" id="commentLine2"&gt;: &lt;/div&gt;          &lt;div id="commentLineName" style="float: left;"&gt;&lt;input style="width: 210px ! important;" name="namaNewsCommentTop" id="commentNamaTop" type="text"&gt;&lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;         &lt;div id="commentLineEmailPar" style="clear: both; text-align: left; padding-top: 1px;"&gt;          &lt;div style="float: left; width: 75px;"&gt;Email Anda&lt;/div&gt;          &lt;div style="float: left;" id="commentLine1"&gt;: &lt;/div&gt;          &lt;div id="commentLineEmail" style="float: left;"&gt;&lt;input style="width: 210px ! important;" name="emailNewsCommentTop" id="commentEmailTop" type="text"&gt;&lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;        &lt;/div&gt;         &lt;div style="clear: both; padding-top: 1px;" id="lineMessage"&gt;     &lt;div style="float: left; width: 75px;"&gt;Komentar&lt;/div&gt;     &lt;div style="float: left;"&gt;: &lt;/div&gt;     &lt;div style="float: left;"&gt;&lt;textarea style="width: 210px;" rows="5" name="pesanNewsCommentTop" id="pesanNewsCommentTop"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;        &lt;div style="padding: 5px 0px 0px 90px; clear: both;"&gt;     &lt;span style="font-size: 11px;"&gt;KapanLagi.com berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;                                              &lt;div style="padding-top: 5px; text-align: right;"&gt;                           &lt;input name="commentIdNewsTop" id="commentIdNewsTop" value="278400" type="hidden"&gt;                           &lt;input name="commentTitleNewsTop" id="commentTitleNewsTop" value="Polytron%20Ditunjuk%20Jadi%20Pemasok%20Perangkat%20TV%20Digital" type="hidden"&gt;                           &lt;input value="Tutup form ini" onclick="javascript: document.getElementById('newsTopInfoComment').style.display = 'none';" type="button"&gt;                           &lt;input name="submitNewsComment" value="   Kirim   " onclick="javascript: newsCommentTop(this);" type="button"&gt;                       &lt;/div&gt;                    &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;                   &lt;/form&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="border: 1px solid rgb(102, 102, 102); float: left; display: none;" id="newsTopInfoFans"&gt;                   &lt;form id="newsTopInfoFansForm"&gt;   &lt;div style="padding: 0px; width: 330px;" id="mainCommentTop"&gt;     &lt;div style="padding: 10px; font-weight: bold; text-align: center; background-color: rgb(237, 237, 237);"&gt;KOMENTAR FANS &lt;/div&gt;     &lt;div style="padding: 10px;"&gt;       Anda fans ? Berikan komentar Anda.       Komentar akan ditampilkan di halaman biografi , diharapkan sopan dan bertanggung jawab.     &lt;/div&gt;            &lt;div style="padding: 8px;"&gt;            &lt;div id="topBoxCelebFans"&gt;                   &lt;div style="clear: both; text-align: left; padding-top: 8px;"&gt;                    &lt;div style="float: left; width: 75px;"&gt;Nama Anda&lt;/div&gt;                    &lt;div style="float: left;" id="line2"&gt;: &lt;/div&gt;                    &lt;div style="float: left;" id="lineName"&gt;&lt;input style="width: 210px ! important;" name="namaTop" id="namaFansTop" type="text"&gt;&lt;/div&gt;            &lt;/div&gt;            &lt;div id="fansCommentPar" style="clear: both; text-align: left; padding-top: 1px;"&gt;                    &lt;div style="float: left; width: 75px;"&gt;Email Anda&lt;/div&gt;                    &lt;div style="float: left;" id="line1"&gt;: &lt;/div&gt;                    &lt;div style="float: left;" id="lineEmail"&gt;&lt;input style="width: 210px ! important;" name="emailTop" id="emailFansTop" type="text"&gt;&lt;/div&gt;            &lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;div style="clear: both; padding-top: 1px;" id="lineMessage"&gt;      &lt;div style="float: left; width: 75px;"&gt;Pesan&lt;/div&gt;      &lt;div style="float: left;"&gt;: &lt;/div&gt;      &lt;div style="float: left;"&gt;&lt;textarea style="width: 210px;" rows="5" name="pesanTop" id="pesanTop"&gt;&lt;/textarea&gt;&lt;/div&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div style="padding: 5px 0px 0px 90px; clear: both;"&gt;      &lt;span style="font-size: 11px;"&gt;KapanLagi.com berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/div&gt;                                      &lt;div style="padding-top: 5px; text-align: right;"&gt;                       &lt;input name="newsArtist" id="newsArtistTop" value="" type="hidden"&gt;                       &lt;input value="Tutup form ini" onclick="javascript: document.getElementById('newsTopInfoFans').style.display = 'none';" type="button"&gt;                       &lt;input name="submitNewsCommentTop" value="   Kirim   " onclick="javascript: newsFansCommentTop(this);" type="button"&gt;                   &lt;/div&gt;                   &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;                   &lt;/form&gt; &lt;/div&gt;           &lt;div style="border: 1px solid rgb(102, 102, 102); float: left; display: none;" id="newsTopInfoDaftar"&gt;   &lt;div style="padding: 0px; width: 330px;"&gt;    &lt;div style="padding: 10px; font-weight: bold; text-align: center; background-color: rgb(237, 237, 237);"&gt;NEWSLETTER KAPANLAGI.COM&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;     &lt;div style="padding: 10px;"&gt;Dapatkan berita terbaru di email Anda setiap hari.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;    &lt;div style="padding: 8px;"&gt;     &lt;form method="post" action="http://www.kapanlagi.com/u/savesubscribe.php" target="subscribe" id="newsTopInfoDaftarForm" onsubmit="return false;"&gt;                        &lt;div id="topBoxNewLetter"&gt;      &lt;div style="float: left; padding-left: 5px; padding-right: 3px;" id="newsLetterFullName"&gt;Nama:&lt;br /&gt;&lt;input style="width: 140px;" name="nameNewsletterTop" id="nameNewsletterTop" type="text"&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding-right: 5px; float: right;" id="newsLetterFullEmail"&gt;Email:&lt;br /&gt;&lt;input style="width: 150px;" name="emailNewsletterTop" id="emailNewsletterTop" maxlength="32" type="text"&gt;&lt;input value="1" name="flagTop" type="hidden"&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="newsLetterBr" style="clear: both;"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div style="font-weight: bold;"&gt;Kategori berita yang diinginkan:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop1" value="46" type="checkbox"&gt; Selebriti&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop2" value="40" type="checkbox"&gt; Film&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop3" value="41" type="checkbox"&gt; Musik&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop4" value="42" type="checkbox"&gt; Televisi&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop5" value="43" type="checkbox"&gt; Hollywood&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop6" value="44" type="checkbox"&gt; Bollywood&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop7" value="45" type="checkbox"&gt; Asian Star&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop8" value="47" type="checkbox"&gt; Sinetron&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop9" value="32" type="checkbox"&gt; Bola Internasional&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop10" value="31" type="checkbox"&gt; Bola Nasional&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop11" value="33" type="checkbox"&gt; Seleb-OR&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop12" value="30" type="checkbox"&gt; Olahraga Lain-lain&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop13" value="50" type="checkbox"&gt; Hukum-Kriminal&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop14" value="52" type="checkbox"&gt; Kasus Narkoba&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop15" value="10" type="checkbox"&gt; Politik Nasional&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop16" value="11" type="checkbox"&gt; Politik Internasional&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 145px; float: left;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop17" value="20" type="checkbox"&gt; Ekonomi Nasional&lt;/div&gt;      &lt;div style="padding: 2px 0px; width: 165px; float: right;"&gt;&lt;input name="pilihcat[]" id="checkboxTop18" value="21" type="checkbox"&gt; Ekonomi Internasional&lt;/div&gt;      &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;                                  &lt;div style="clear: both; text-align: right; padding-top: 5px;"&gt;                                           &lt;input value="Tutup form ini" onclick="javascript: document.getElementById('newsTopInfoDaftar').style.display = 'none';" type="button"&gt;                                           &lt;input value="    Daftar    " name="B1" class="button" onclick="javascript: registerNewsLetterDataTop(this);" type="submit"&gt;                                       &lt;/div&gt;     &lt;/form&gt;    &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;                           &lt;/div&gt;                                                                                                              &lt;!--OPTION--&gt;                              &lt;!--ISI BERITA--&gt;               &lt;b&gt;Kapanlagi.com&lt;/b&gt; - PT KTDI (Konsorsium Televisi Digital Indonesia) menunjuk PT Hartono Istana Teknologi (HIT) pemilik merek dagang Polytron untuk memproduksi perangkat pendukung siaran TV digital. &lt;p&gt;"Ekosistem TV digital tidak mungkin untuk tidak melibatkan produsen. Oleh karena itu, KTDI sangat gembira mengumumkan kerja sama dengan HIT sebagai pemilik merek dagang Polytron," kata Direktur PT KTDI, Supeno Lembang, di Jakarta. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mengatakan, pihaknya menunjuk Polytron dengan berbagai alasan, di antaranya karena merupakan murni produk lokal. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pihaknya telah mengunjungi pabrik Polytron dan membuktikan bahwa produk dengan merek tersebut asli buatan dalam negeri yang diproduksi putra-putri bangsa sendiri. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Oleh karena itu, kami mengundang Polytron untuk ikut mensosialisasikan dan menyebarkan TV digital di Tanah Air," katanya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia berpendapat TV digital Polytron menjadi duta TV digital dan bila tersedia murah, maka akan semakin tersosialisasi kepada masyarakat dengan baik. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Managing Director PT HIT, Hariono, mengatakan, pihaknya siap untuk mendukung program pemerintah yang akan menerapkan sistem siaran televisi digital. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami karena siaran televisi digital pertama kali bisa dilihat dengan &lt;i&gt;TV Digital Polytron&lt;/i&gt; atau melalui &lt;i&gt;set top box Polytron&lt;/i&gt;," katanya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk mengukuhkan penunjukan tersebut, maka diadakan penandatanganan kerja sama antara PT KTDI dengan PT HIT di Jakarta, Selasa, dengan disaksikan oleh Dirjen SLDI Depkominfo, Freddy H. Tulung. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;KTDI merupakan konsorsium hasil kerja sama antar-enam televisi nasional Indonesia yaitu ANTV, MetroTV, SCTV, Trans7, TV7, dan TVOne. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Enam stasiun televisi tersebut sepakat membentuk konsorsium dan membangun infrastruktur bersama untuk penyiaran televisi &lt;i&gt;digital terrestrial&lt;/i&gt; dengan menggunakan sistem DVB-T sebagaimana yang telah ditetapkan pemerintah. &lt;/p&gt;Sebelumnya, pemerintah telah mencanangkan penyiaran televisi &lt;i&gt;digital terrestrial&lt;/i&gt; untuk &lt;i&gt;free-to-air&lt;/i&gt; dimulai pada 2008 dan diperkirakan siaran televisi analog tidak akan lagi beroperasi pada 2018. &lt;b&gt;(kpl/cax)               &lt;br /&gt;               &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-4812565333173167312?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/4812565333173167312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=4812565333173167312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4812565333173167312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4812565333173167312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/03/polytron-ditunjuk-jadi-pemasok.html' title='Polytron Ditunjuk Jadi Pemasok Perangkat TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-3341037697482497381</id><published>2009-03-05T17:37:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T17:54:41.677-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Digital TV'/><title type='text'>Perkembangan TV Digital di Jepang</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCCMDa-ntI/AAAAAAAAAD0/d2huA4CCkxA/s1600-h/Tokyo+Ohedo+Spa.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309887104258318034" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCCMDa-ntI/AAAAAAAAAD0/d2huA4CCkxA/s200/Tokyo+Ohedo+Spa.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang yang dikenal sebagi negara yang mengembangkan teknologi ISDB, memiliki potensi pasar siaran TV yang tinggi. Sejak diperkenalkan setengah abad lalu, TV siaran terrestrial telah menjadi pilihan utama bagi masyarakat Jepang dalam memperoleh informasi melalui TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun luas daratan di Jepang hanya ¼ luas daratan di Amerika misalnya, namun kondisi topografi yang sebagian besar pegunungan dan memiliki banyak pulau yang terisolasi membuat Negara ini memerlukan stasiun relay yang relatif banyak, hampir dua kali yang dibutuhkan Amerika. Sebagian dari stasiun tersebut bahkan memerlukan frequency yang berbeda-beda untuk mengurangi timbulnya interferensi. Kondisi seperti inilah yang membuat diperkenalkannya teknologi TV digital terrestrial menjadi peristiwa yang sangat penting dan menjadi harapan bagi solusi keterbatasan jumlah siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini didukung oleh pengalaman Negara Jepang, khususnya yang dilakukan oleh lembaga penyiaran TV milik pemerintah NHK yang selama beberapa tahun terakhir telah memiliki pengalaman dalam proses proyek nasional "analog-analog conversion." Untuk mengubah alokasi frekuensi siaran nasional yang merupakan salah satu dasar strategi dalam migrasi siaran TV dari analog ke Digital, khususnya yang dimulai dari jaringan siaran TV regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan TV digital terrestrial di Jepang secara resmi ditandai dengan dikeluarkannya arahan keputusan mengenai proses perijinan stasiun penyiaran digital terrestrial pada tanggal 27 September 2002 oleh MPHPT (the Ministry of Public Management, Home Affairs, Posts and Telecommunications). Hal ini terkait dengan rencana dasar penyiaran di Jepang untuk melakukan migrasi penyiaran analog ke digital terrestrial secara “early and smooth migration” yang dari awal direncanakan dilakukan pada tahun 2003 di kota-kota metropolitan Kanto, Chukyo dan Kinki dan daerah lain pada tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target perijinan paling tidak dapat memperhatikan dua kondisi yaitu penyiaran program sebagaimana yang secara umum ada dalam siaran analog dan penyiaran program seperti pada penyiaran HDTV (High Definition Television).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu stasiun penyiaran juga harus memperhatikan beberapa hal antara lain harus menyediakan siaran simulcast identik seperti pada siaran analog paling tidak 2/3 waktu siaran harian, harus menyediakan siaran HDTV paling tidak 50% dari siaran mingguan, dan paling tidak 10% dari siaran mingguan harus mengandung unsur program edukasi dan 20% mengandung unsur cultural yang tentu saja harus menyediakan kombinasi program secara harmonis. Pengajuan aplikasi ijin siaran digital dimulai pada 11 November 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menindaklanjuti aplikasi yang telah dilakukan oleh NHK dan 16 lembaga penyiaran swasta di Jepang, pada tanggal 18 April 2003, MPHPT telah mengeluarkan preliminary licenses siaran TV digital terrestrial kepada total 20 lembaga penyiaran di daerah Kanto, Chukyo, dan Kinki. Penyiaran digital terrestrial ini termasuk siaran HDTV, data broadcasting, dan layanan EPG (Electronics Program Guide) serta beberapa layanan baru seperti multi-channel broadcasting, interactive programs, dan broadcasting for mobile technologies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiaran dilakukan melalui 8 channel UHF (channel 20-27) di daerah Kanto (Tokyo) dan 7 channel UHF (channel 13, 18-23) di daerah Chukyu (Nagoya) dan 7 UHF chanel (13-18, dan 24) di daerah Kinki (Osaka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dikeluarkannya ijin ini, perkembangan siaran TV digital di Jepang berlangsung sangat cepat yang ditandai dengan dilakukannya ujicoba implemantasi siaran HDTV melalui penerimaan bergerak dan TV digital yang dilengkapi akses Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 29 Januari 2003, dengan dukungan dari TOYOTA CRDL, INC dan Telecommunication Advancement Organization of Japan (TAO) telah dilakukan ujicoba siaran untuk penerimaan bergerak di Nagoya, yang mampu menerima siaran HDTV dengan hasil sangat memuaskan walau bergerak melalui daerah perkotaan di antara bangunan-bangunan yang tinggi. Ujicoba yang menggunakan high-sensitivity glass antenna yang dipasang di kendaraan ini dilakukan di cannel 15 UHF, mode 3, dengan guard interval 1/8, modulasi 64QAM, coding rate 3/4, dan 13 segments menggunakan bandwidth 6 MHz. Data bit rate yang digunakan adalah 18 Mbps (dengan sebuah bit rate HDTV 15 Mbps). [www.dibeg.org].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan September 2004 telah diluncurkan layanan Multi-channel Digital ETV (Educational TV channel) Menggunakan siaran TV Digital, dimana penonton dapat menikmati dua sampai tiga siaran channel SDTV pada saat bersamaan hanya dengan menggunakan satu channel HDTV. ETV-1 bersiaran simulcast (analog dan digital secara bersamaan) sementara ETV-2 dan ETV-3 dikhususkan untuk menyiarakan beberapa variasi program seperti welfare, science, hobbies, the game of go and shogi, dan program latihan bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan TV digital di Jepang sangat dipengaruhi oleh perkembangan layanan Broadband. Akhir Maret 2006, penetrasi layanan broadband di Jepang sekitar 23.2 juta, artinya lebih dari setengah rumah tangga di Jepang sudah dapat menikmati layanan broadband ini, dimana lebih dari 87% nya adalah layanan mobile broadband. Bahkan menurut NTT, pemerintah sedang menyiapkan “Roadmap for Building the Next-Generation Network (NGN) dimana paling tidak akan ada perkembangan dalam beberapa hal antara lain jaringan fixed telephone yang akan migrasi ke jaringan berbasis IP (IP-based networks) yang kemudian akan dikombinasikan dengan jaringan mobile communications secara menyeluruh. Jaringan telepon lokal akan menjadi jaringan broadband yang dihubungkan dengan jaringan FTTH (fiber to the Home) dan Jaringan penyiaran TV Analog terrestrial akan migrasi secara total ke siaran TV digital. Saat ini perjalanan menuju “convergence of communications and broadcasting” dan bahkan “convergence of various technologies,” seperti “wired and wireless,” dan “computers and consumer electronics” sedang mengalami proses yang sangat cepat dan signifikan di Jepang. [www.soumu.go.jp].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak April 2006, di Jepang juga sudah diimplementasikan layanan One-Seg service yang menggunakan satu dari 13 segment pada total satu badwidth 6Mhz UHF, yang dipergunakan oleh siaran TV Digital (5,6 MHz digunakan untuk penerimaan tetap dan dan 429 kHz untuk penerimaan bergerak). Siaran ini mampu mengirim informasi gambar dari TV digital terrestrial ke mobile phones, pesawat penerima TV di mobil, personal computers dan sebagainya. Disamping itu juga dilengkapi fasilitas Disaster Early warning system yang akan sangat membantu bila terjadi emergency misalnya gempa bumi dan Angin Topan, karena dapat memberikan informasi mengenai rute evakuasi, keamanan anggota keluarga dsb, walaupun pesawat telepon dalam keadaan penerimaan sinyal kurang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direncanakan pada tahun 2009 seluruh rumah tangga di Jepang sudah bisa menerima layanan TV digital dan direncanakan siaran analog akan dimatikan secara total pada 24 Juli 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, pemerhati Konvergensi Teknologi&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-3341037697482497381?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/3341037697482497381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=3341037697482497381' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3341037697482497381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3341037697482497381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/03/perkembangan-tv-digital-di-jepang.html' title='Perkembangan TV Digital di Jepang'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCCMDa-ntI/AAAAAAAAAD0/d2huA4CCkxA/s72-c/Tokyo+Ohedo+Spa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-8179883701229360959</id><published>2009-03-05T17:36:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T17:56:06.582-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Digital TV'/><title type='text'>Perkembangan TV Digital di Singapura</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCCpUsDEhI/AAAAAAAAAD8/9tD6NC1r6KQ/s1600-h/Singapore+9822041.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309887607109521938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 133px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCCpUsDEhI/AAAAAAAAAD8/9tD6NC1r6KQ/s200/Singapore+9822041.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Singapura, Digital Television telah diluncurkan sejak Agustus 2004 dan saat ini kurang lebih ada 250.000 rumah yang telah menikmatinya. Siaran TV digital dipancarkan melalui jaringan TV terestrial melalui dua jaringan multiplex MFN (Multi Frequency Network) dan SFN (Single Frequency Network), bermodulasikan QPSK, 2K untuk penerimaan bergerak (mobile reception) dan 64QAM, 8K untuk penerimaan tetap melalui band UHF. Sejak bulan Juni 2006, MediaCorp yang merupakan broadcaster terbesar di Singapore bekerja sama dengan Media Development Authority (MDA) sedang melakukan ujicoba HDTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran HDTV ini dipancarkan secara terrestial oleh MediaCorp melalui channel 38 UHF dan melalui cable oleh StarHub. Saat ini MediaCorp menyiarkan 1 channel mobile TV dan 5 channel SDTV berbasis teknologi DVB-T.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau kondisi pasar siaran TV di Singapura termasuk relatif kecil, dengan jumlah penduduk sekitar 4.2 juta jiwa (di tahun 2002) dan jumlah pemirsa sekitar 796.000, namun negara ini cukup berpotensi menjadi penentu pasar siaran TV digital khususnya karena beberapa lembaga penyiaran di Singapura telah mengembangkan bisnisnya di Negara lain khususnya di kawasan Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk 4.2 Juta&lt;br /&gt;Jumlah pemirsa TV 796.000 (2002)&lt;br /&gt;Pelanggan Kabel TV 250.000&lt;br /&gt;Digital Satellite Tidak diijinkan di Singapore&lt;br /&gt;[Sumber: DVB.org]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini telah melakukan ujicoba siaran TV digital mobile sejak tahun 1999 dan dilanjutkan dengan ujicoba siaran TV digital penerimaan tetap pada tahun 2000. Pemerintah telah memberikan ijin penyelenggaraan siaran TV digital mobile pada tahun 1999 namun peluncuran secara komersial baru dilakukan pada tahun 2001. Ujicoba siaran HDTV juga sudah dilakukan sejak bulan Juni tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah operator Multiplex 2&lt;br /&gt;Operational Band UHF&lt;br /&gt;Tipe carrier 2k untuk mobile, 8k untuk fixed&lt;br /&gt;Guard Interval 1/4 mobile, 1/8 fixed&lt;br /&gt;FEC 1/2 mobile, 2/3 fixed&lt;br /&gt;Modulasi QPSK mobile, 64QAM fixed&lt;br /&gt;Model Penerimaan Bebas&lt;br /&gt;Tipe Network MFN dan SFN&lt;br /&gt;Transmitter ERP (maximum) 40kW&lt;br /&gt;Middleware OpenTV, direncanakan MHP&lt;br /&gt;Channel bandwidth 8MHz&lt;br /&gt;[Sumber: DVB.org]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujicoba siaran HDTV ini akan melibatkan 2000 pemirsa, 1000 dari pemirsa TV digital Terrestrial dan 1000 lainnya dari pelanggan kabel TV. Ujicoba akan dilaksanakan selama jangka waktu enam bulan dan direncanakan akan segera dilanjutkan dengan peluncuran layanan secara komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, Pemerhati Konvergensi teknologi&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-8179883701229360959?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/8179883701229360959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=8179883701229360959' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8179883701229360959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8179883701229360959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/03/perkembangan-tv-digital-di-singapura.html' title='Perkembangan TV Digital di Singapura'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCCpUsDEhI/AAAAAAAAAD8/9tD6NC1r6KQ/s72-c/Singapore+9822041.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2716499607711707324</id><published>2009-03-05T17:35:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T17:57:30.313-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Digital TV'/><title type='text'>Perkembangan TV Digital di Malaysia</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCC-qFkd4I/AAAAAAAAAEE/5AdaEHrgXkU/s1600-h/KL+Twin+Tour+Upright.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309887973630965634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCC-qFkd4I/AAAAAAAAAEE/5AdaEHrgXkU/s200/KL+Twin+Tour+Upright.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam simposium yang diselengggarakan oleh Asia-Pacific Broadcasting Union Digital TV, di Kuala Lumpur pada bulan April 2007, pemerintah Malaysia secara resmi telah mengumumkan untuk mengadopsi standar TV digital berbasis DVB-T sebagai standar bagi siaran TV digital terrestrial di malaysia. TV Digital juga sudah dirintis sejak 1998. Mulai bulan November 2006, secara resmi pemerintah melakukan ujicoba siaran digital yang dilakukan di daerah Klang Valley dengan melibatkan sekitar 1.000 pemirsa di rumah. Ujicoba menggunakan satu multiplex pada channel 44 UHF menggunakan mode 8k, yang mampu menyediakan 5 program TV dan 7 program siaran radio, yang kemudian akan dikembangkan secara bertahap dengan dana awal RM26Juta (US$7.1 juta). Selama perioda ujicoba ini akan dilakukan beberapa test termasuk ujicoba interactive service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga merencanakan akan mengadakan ujicoba HDTV pada tahun 2009 mendatang. Digital Task Force juga sedang mempertimbangkan untuk melakukan implementasi siaran HDTV di Malaysia. Pada tahun 2007 pemerintah telah melakukan ujicoba siaran digital secara nasional selama 6 bulan (September 2006 – Februari 2007) yang dilakukan oleh RTM1, RTM2 and RTMi dengan siaran lima jam sehari di daerah Klang Valley. 67% dari 892 pemirsa yang ikut terlibat dalam ujicoba mengatakan bahwa kualitas audio visual dari program DTV ini sangat tinggi standardnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah juga sedang mencoba untuk mencari jalan keluar untuk mereduksi cost dari Set top box sebelum masuk era digital di tahun 2015. Salah satu alternatifnya adalah dengan menjajaki kemungkinan subsidi harga STB yang saat ini masih mencapai RM500 per unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analog shutdown sudah dipropose oleh pemerintah dalam beberapa phase dari tahun 2008 dan direncanakan selesai tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, Pemerhati Konvergensi teknologi &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2716499607711707324?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2716499607711707324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2716499607711707324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2716499607711707324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2716499607711707324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/03/perkembangan-tv-digital-di-malaysia.html' title='Perkembangan TV Digital di Malaysia'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCC-qFkd4I/AAAAAAAAAEE/5AdaEHrgXkU/s72-c/KL+Twin+Tour+Upright.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2869064447072001083</id><published>2009-03-05T17:32:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T17:58:28.001-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perkembangan Digital TV'/><title type='text'>Perkembangan TV Digital di China</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCDO7zIYWI/AAAAAAAAAEM/qLrhuBTPTmE/s1600-h/China+Tiananmen+Beijing.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309888253263372642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 134px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCDO7zIYWI/AAAAAAAAAEM/qLrhuBTPTmE/s200/China+Tiananmen+Beijing.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China yang merupakan negara dengan jumlah pelanggan TV terbesar yaitu sekitar 340 juta, memiliki strategi migrasi TV digital melalui tiga tahapan. Tahap pertama yaitu peluncuran kabel TV digital pada tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap kedua dilakukan peluncuran layanan DTH dan ujicoba TV digital terrestrial pada 2005 dan tahap ketiga mempromosikan layanan TV digital terrestrial dan menyediakan HDTV program pada tahun 2008. Disamping itu China sudah merencanakan untuk melakukan swich off layanan TV analog sampai tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 18 Agustus 2006, Lembaga administrasi Standar di China, mengeluarkan standard untuk penyiaran TV Digital Terrestrial. Standar dengan nomor GB20600-2006 tersebut bernama Framing structure, Channel coding and modulation for digital television terrestrial broadcasting . Standar tersebut saat ini lebih dikenal dengan nama DMB-T/H (Digital Multimedia Broadcasting Terrestrial/Handheld).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar ini dihasilkan atas kerja sama dua Universitas kenamaan di China yaitu Tsinghua University yang berlokasi Beijing dan Jiaotong University yang berada di Shanghai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar ini merupakan integrasi dari pengembangan dua sistem modulasi yang berbeda yaitu sistim milik Tsinghua yaitu TDS-OFDM (Time Domain Synchronous OFDM) yang menggunakan multicarriers seperti pada DVB-T dan ISDB-T milik Jepang, sementara Jiatongs menggunakan ADTB-T (Advanced Digital Television Broadcast Terrestrial) merupakan single carrier vestigial sideband system berbasis pada standar 8-VSB milik Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar DMB-T/H ini saat ini dipergunakan secara luas di China dan telah diputuskan sebagai standar TV digital Terrestial milik China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regulator Industri penyiaran di China SARF (State Administration of Radio, Film and Television in China) juga telah mengumumkan pengembangan teknologi yang memungkinkan penyelenggara layanan mobile phone (cellular network) untuk melakukan penyiaran signal TV melalui mobile phones.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standard baru tersebut bernama StiMi (Satellite Terrestrial Interactive Multi-service Infrastructure) yang saat ini sudah mulai dipergunakan secara luas di China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, pemerhati konvergensi teknologi&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2869064447072001083?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2869064447072001083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2869064447072001083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2869064447072001083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2869064447072001083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/03/perkembangan-tv-digital-di-china.html' title='Perkembangan TV Digital di China'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCDO7zIYWI/AAAAAAAAAEM/qLrhuBTPTmE/s72-c/China+Tiananmen+Beijing.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-43120679830393039</id><published>2009-02-26T23:51:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T23:56:02.170-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peraturan Menteri'/><title type='text'>Permen No. 12/PER/M.KOMINFO/2/2009</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Siaran Pers No. 68/PIH/KOMINFO/2/2009&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Peraturan Menteri Kominfo No. 12/PER/M.KOMINFO/2/2009 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 76 Tahun 2003 Tentang Rencana Induk (Master Plan) Frekuensi Radio Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Untuk Keperluan Televisi Siaran Analog Pada Pita Ultra High Frequency (UHF)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Jakarta, 17 Pebruari 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh pada tanggal 16 Pebruari 2009 telah mensahkan &lt;a href="http://www.postel.go.id/content/ID/regulasi/frekuensi/kepmen/permen%20no.%2012%20(perubahan%20permen%2076).pdf"&gt;Peraturan Menteri Kominfo No. 12/PER/M.KOMINFO/2/2009 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 76 Tahun 2003 Tentang Rencana Induk (Master Plan) Frekuensi Radio Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Untuk Keperluan Televisi Siaran Analog Pada Pita Ultra High Frequency (UHF)&lt;/a&gt;. Pertimbangan utama disusunnya peraturan ini adalah, bahwa telah ditemukenali terdapat kebutuhan penggunaan kanal frekuensi radio untuk keperluan televisi siaran analog pada pita UHF yang tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam &lt;a href="http://www.postel.go.id/content/ID/regulasi/frekuensi/kepmen/km762003_dan_lampiran.pdf"&gt;Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 76 Tahun 2003 tentang Rencana Induk (Master Plan) Frekuensi Radio Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Untuk Keperluan Televisi Siaran Analog Pada Pita Ultra High Frequency (HF)&lt;/a&gt;. Kebutuhan penggunaan kanal frekuensi radio tersebut dapat diakomodasikan apabila dilakukan perubahan terhadap Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 76 Tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal penting yang diatur di dalam &lt;a href="http://www.postel.go.id/content/ID/regulasi/frekuensi/kepmen/permen%20no.%2012%20(perubahan%20permen%2076).pdf"&gt;Peraturan Menteri Kominfo No. 12/PER/M.KOMINFO/2/2009&lt;/a&gt; adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Ketentuan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM. 76 Tahun 2003 Tentang Rencana Induk ( Master Plan ) Frekuensi Radio Penyelenggaraan Telekomunikasi Khusus Untuk Keperluan Televisi Siaran Analog Pada Pita Ultra High Frequency (UHF) diubah dengan menyebutkan, bahwa di antara Pasal 6 dan Pasal 7 disisipkan 1 pasal, yaitu Pasal 6A, yang menyebutkan, bahwa penyelenggaraan televisi siaran analog pada pita UHF dapat menggunakan kanal frekuensi radio: a. di luar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4; b. di luar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2); apabila memenuhi persyaratan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: permohonan penggunaan kanal frekuensi radio telah mendapat Rekomendasi Kelayakan dari Komisi Penyiaran Indonesia/Komisi Penyiaran Indonesia Daerah sebelum tanggal 22 Agustus 2008; dan mendapat Izin Stasiun Radio (ISR) dari Dirjen Postel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISR untuk penggunaan kanal frekuensi radio sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b diterbitkan setelah: dilakukan analisa teknis yang dilaksanakan oleh Dirjen Postel; dipenuhinya ketentuan teknis penyelenggaraan televisi siaran analog pada pita UHF sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3; dan penggunaan kanal frekuensi radio tersebut dinyatakan tidak menimbulkan gangguan yang merugikan terhadap: penggunaan kanal frekuensi radio kanal frekuensi radio lain yang telah berizin; dan/atau penggunaan kanal frekuensi radio untuk keperluan televisi siaran analog pada pita UHF yang sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.&lt;br /&gt;Dalam hal ISR untuk penggunaan kanal frekuensi radio sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b diterbitkan, penggunaan kanal frekuensi radio dimaksud tidak mendapatkan perlindungan terhadap gangguan dari penggunaan kanal frekuensi radio untuk keperluan televisi siaran analog pada pita UHF yang sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISR untuk penggunaan kanal frekuensi radio sebagaimana dimaksud di atas dicabut dalam hal : beroperasinya penyelenggara penyiaran televisi siaran analog pada pita UHF pada wilayah layanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4; dan beroperasinya penyelenggara penyiaran televisi siaran digital pada pita UHF sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2).&lt;br /&gt;Idealnya Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 76 Tahun 2003 memang harus dirubah (direvisi) secara menyeluruh dan progress ke arah tersebut sebenarnya sudah berlangsung cukup lama (sejak tahun 2006 dan lebih mengkristal di tahun 2008 serta kini pembahasannya masih terus berlangsung), karena terdapat sejumlah ketentuan yang dipandang perlu mengalami revisi atas dasar berbagai aspek pertimbangan. Namun demikian, khusus untuk jangka waktu yang sangat mendesak ini, Peraturan Menteri Kominfo No. 12/PER/M.KOMINFO/2/2009 dipandang lebih mendesak untuk disahkan, selain karena untuk mengatasi berbagai masalah perizinan yang terkait dengan kebutuhan penggunaan kanal frekuensi radio untuk keperluan televisi siaran analog pada pita UHF di tengah maraknya keberadaan sejumlah televisi siaran analog pada pita UHF &lt;a href="http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=1046"&gt;yang sarat dengan persoalan pemenuhan persyaratan yang harus dipenuhi&lt;/a&gt;, juga untuk menjamin adanya kepastian hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo,&lt;br /&gt;Gatot S. Dewa Broto&lt;br /&gt;HP: 0811898504&lt;br /&gt;Email: gatot_b@postel.go.id&lt;br /&gt;Tel/Fax: 021.3504024&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-43120679830393039?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/43120679830393039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=43120679830393039' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/43120679830393039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/43120679830393039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/02/permen-no-12permkominfo22009.html' title='Permen No. 12/PER/M.KOMINFO/2/2009'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-3587800191897274308</id><published>2009-01-09T23:45:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T23:47:26.879-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Kesiapan Industri Penyiaran dalam Implementasi TV Digital</title><content type='html'>&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokomotif migrasi penyiaran TV dan Radio dari Analog ke Digital telah dijalankan oleh pemerintah sejak dilakukan soft launching siaran TV digital oleh TVRI tanggal 13 Agustus 2008 lalu. Hal ini telah membuat para pelaku industri penyiaran harus berbenah menghadapi perubahan-peruhan yang terjadi. Paling tidak ada beberapa perubahan yang harus dihadapi, antara lain perubahan regulasi, alokasi frekuensi, model bisnis dan perubahan teknologi yang digunakan. Semuanya memberikan konsekuensi yang beragam bagi para stakeholder  industri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri bahwa sekilas tampak pemerintahlah yang paling banyak memperoleh digital deviden dari migrasi ini, yaitu semakin banyaknya alokasi frekuensi yang dapat “dijual” kepada para pelaku bisnis penyiaran TV. Sementara para pelaku bisnis dari kalangan swasta seolah harus puas menghadapi digital consequent nya, tanpa bisa berbuat banyak demi menjaga kesempatan untuk tetap berbisnis di bidang ini. Namun bila lebih jauh dipelajari, sebenarnya proses migrasi ini dapat memberikan deviden bagi seluruh stakeholder. Hal ini sangat tergantung dari kesiapan masing-masing pihak dalam menyikapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pemerintah, beberapa pihak telah melakukan persiapan menghadapi migrasi ini. Para pelaku industri penyiaran, dalam hal ini industri radio dan televisilah yang paling banyak terlihat melakukan persiapan. Industri penyiaran TV telah melakukan ujicoba siaran digital melalui pembentukan konsorsium TV digital yang khusus disiapkan untuk menyesuaikan diri dengan model bisnis TV digital. Ini juga mengawali satu era dimana Diversity of Ownership telah dapat mulai diposisikan kembali secara proposional, walau belum optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, kesiapan industri elektronik nasional dalam era penyiaran digital ini perlu diperhatikan, karena sejak awal banyak pihak telah memberikan warning bahwa migrasi ke digital ini jangan sampai hanya mampu memposisikan kita sebagai bangsa pemakai saja, kita berkeinginan sejak awal bahwa industri nasional kita dapat memberikan warna dan berperan aktif dalam migrasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri Set Top Box (STB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan kerja sama banyak pihak misalnya antar lembaga riset nasional seperti BPPT, LIPI, PUSPIPTEK dan lembaga riset perguruan tinggi untuk mendukung industri elektronika dalam negeri, agar mampu menghasilkan produk-produk industri yang dapat mendukung migrasi ini. Juga dibutuhkan kebijakan keberpihakan pemerintah untuk memberikan dukungan, sehingga industri kita benar-benar siap untuk ikut berperan serta dalam migrasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah dapat mendorong pelaku industri dalam negeri untuk mengembangkan dan mendesain STB khas Indonesia, misalnya yang dilengkapi menu berbahasa Indonesia, memiliki EPG (Electronic Program Guide) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan masyarakat Indonesia, mempunyai fitur aplikasi khusus untuk kebutuhan peringatan dini akan datangnya bahaya bencana yang dikenal dengan nama EWS (Early Warning System), serta perangkat STB yang akan beredar di Indonesia tersebut harus sesuai dengan kaidah-kaidah SNI (Standar nasional Indonesia) agar dapat menjamin perlindungan terhadap konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standardisasi nasional STB ini diperlukan agar pasar kita tidak dibanjiri oleh STB buatan luar negeri, yang mungkin jauh lebih murah dibandingkan dengan STB nasional. Salah satu bentuk proteksi kepada konsumen agar tidak menggunakan STB berharga murah namun berkualitas relatif rendah adalah dengan memberlakukan standardisasi STB Indonesia dengan mengharuskan label SNI. Selain itu, perlu dipertimbangkan kerja sama dengan pihak operator TV penyiaran agar hanya STB nasional saja yang bisa menangkap siaran televisi digital terestrial di Indonesia. Pola perlindungan konsumen semacam ini sudah dilakukan oleh beberapa negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar STB ASEAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan untuk membuat satu standar STB secara regional juga telah dibicarakan di negara-negara anggota ASEAN melalui forum yang telah dibentuk bernama ADB (ASEAN Digital Broadcasting), yang beranggotakan para pejabat di lingkungan MIC (Minister of Information and Communication) di kawasan ASEAN, dimana Indonesia merupakan salah satu anggota yang aktif menjadi pemimpinya. Tanggal 16-17 November 2008 lalu bahkan Indonesia telah berhasil menyelenggarakan pertemuan ADB ini di Bali, sebagai tindak lanjut pertemuan ADB pada 19 Juni 2008 di Singapura. Hanya saja, saat ini belum terjadi kesepakatan final penentuan standar transmisi TV digital di ASEAN ini. Akan tetapi, ide satu standar STB ASEAN tampaknya harus bisa segera terealisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini begitu mudah diketemukan STB dengan harga murah di pasar internasional atau pasar online, seperti produk yang berasal dari China, Taiwan dan India. Harganya hanya berkisar USD20-30, tergantung feature yang ditawarkan. Dengan memberi peluang sebesar mungkin kepada industri domestik dalam mengembangkan dan memproduksi STB, diharapkan dapat dihasilkan STB yang walau harganya sedikit lebih mahal namun tetap terjangkau masyarakat kita. Yang jauh lebih penting adalah kualitasnya agar dapat dipertanggung jawabkan dan after sales servicenya juga dapat terjamin. Pertimbangan penentuan harga STB ini tentu berdasarkan jumlah pemirsa televisi di Indonesia yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pemirsa TV di negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui bahwa salah satu cara untuk menekan harga STB, antara lain, dengan meminimalkan fiturnya. Hal itu karena sistem penyiaran TV digital memungkinkan memberikan banyak layanan yang bisa diakses oleh pemirsanya, dengan menggunakan STB yang sesuai (compatible). Makin banyak fitur yang dapat dinikmati, maka berkonsekuensi pada harga STB yang akan makin mahal.&lt;br /&gt;Sejak awal tahun lalu, pemerintah telah membentuk tiga WG (working group) implementasi TV Digital yaitu  WG Regulasi TV Digital, WG Master Plan Frequency dan WG Teknologi Peralatan. WG yang disebut terakhit itulah yang memiliki tugas pokok untuk melakukan persiapan implementasi migrasi analog ke digital, dengan membuat spesifikasi teknik peralatan pemancar dan alat bantu penerima siaran digital, penyusunan basic specifications set-top box (STB), melakukan koordinasi dengan perusahaan elektronika nasional untuk pembuatan alat bantu penerima siaran digital, dan berkoordinasi dengan pihak industri mengenai kesiapan penyediaan STB. Saat ini telah diusulkan dan hampir disahkan spesifikasi STB antara lain adalah MPEG2 - SDTV, EPG terbatas, No Facility Dolby dan Affordable price per unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesiapan STB,  beberapa industri dalam negeri telah menyatakan kesiapan untuk bersama-sama menyediakan sejumlah STB bagi para broadcasters dalam ujicoba siaran TV Digital, yaitu 1500 untuk KTDI dan 500 untuk konsorsium TVRI dan PT. Telkom. Detail bisnis model pelaksanaan penyediaan STB sedang didiskusikan diantara boadcaster dan industri STB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat siaran TV Digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping STB di sisi penerimanya, sistem siaran TV Digital memerlukan beberapa perangkat di sisi transmisinya. Perangkat Encoder berfungsi untuk mengolah sinyal Audio dan Video analog menjadi signal Transport Stream berformat ASI (Asynchronous Serial Interface). Biasanya diperlukan beberapa encoder sekaligus agar sinyal yang ditransmisikan memiliki kapasaitas multi program siaran. Signal ASI keluaran beberapa encoder tersebut kemudian dimultiplex menggunakan perangkat Multiplexer untuk diperoleh signal multi program Transport stream. Signal ini kemudian didistibusikan dan dimodulasi untuk kemudian dipancarkan secara terrestrial menggunakan DVB-T Transmitter kepada pelanggan. Ada beberapa merek encoder yang beredar antara lain Tandberg, Scopus, Tiernan, Harmony, dll. Perangkat DVB-T Trasmitter yang terkenal antara lain R&amp;amp;S, Thales, Electronica, UBS, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu mutlak diperlukan perangkat DVB-T Monitoring system, untuk menjaga QoS (Quality of Service) siaran TV Digital. Karena sifat signal TV digital adalah bersifat non linear, dimana disamping kita harus menjaga signal strength pada level tertentu, juga diperlukan monitoring signal quality agar siaran tetap dapat diterima oleh pelanggan dengan kualitas prima. Perangkat QoS ini menjadi mandatori atau mutlak diperlukan dalam jaringan TV Digital. Beberapa merk perangkat QoS monitoring yang terkenal antara lain Pixelmetrix, R&amp;amp;S dan Textronix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujicoba Siaran TV Digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dilakukan ujicoba skala laboratorium Set Top Box yang dikembangkan oleh industri STB dalam negeri seperti PT. INTI, Polytron bekerjasama dengan PTIK-BPPT. Pihak BPPT bersama PT. LEN melalui program Insentif Ristek 2008 saat ini juga sedang melakukan riset tentang pengintegrasian digital-exciter dari luar negeri dengan Power Amplifier milik PT. LEN sebesar 250 watts dan berhasil diuji coba di tanggal 13 Agustus 2008. Signal hasil integrasi ini telah diukur menggunakan alat ukur Pixelmetrix dengan hasil memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dilakukan ujicoba-terbatas Pemancar DVB-T dan STB khusus untuk bulan Agustus-Nopember 2008. Ujicoba ini atas kerjasama beberapa perusahaan seperti TVRI, Telkom, BPPT, PT. LEN, Pixelmetrix,  dll, setelah dilakukan softlaunching oleh bapak Wakil presiden 13 Agustus 2008 lalu. Penetapan uji coba  Lokasi Pemancar di lokasi TVRI-Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji coba Siaran TV Digital akan segera dimulai bulan Januari 2009 ini, baik untuk siaran free-to-air berbasis standard DVB-T maupun untuk siaran mobile-TV yang berbasis open standard. Ujicoba ini akan dilaksanakan oleh konsosrsium penyelenggara infrastruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggara infrastruktur penyiaran digital adalah pihak yang memiliki fungsi multiplexing dan Fungsi pemancaran. Multiplexing bertindak menyediakan jasa distribusi bandwidth (slot) dalam 1 kanal frekuensi untuk digunakan oleh bermacam– macam jenis program siaran sehingga efisien dan optimal. Fungsi pemancaran : Membangun infrastruktur pemancar penyiaran digital sesuai aturan – aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah (Depkominfo), mulai dari antena pemancar, menara, saluran penghubung dari terminal output content, hingga komponen – komponen infrastruktur lainnya sehingga pentransmisian program siaran digital berjalan dengan baik dan tidak mengalami gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penyiaran digital penerimaan tetap free-to-air, diusulkan agar penyelenggara infrastruktur untuk TV digital DVB-T adalah juga penyelenggara infrastruktur radio digital T-DAB. Dengan demikian, pada 1 wilayah layanan hanya akan ada 1 menara pemancar utama yang digunakan secara bersama oleh semua penyelenggara infrastruktur penyiaran digital di wilayah tersebut, ditambah dengan menara – menara tambahan di daerah – daerah yang kualitas penerimaannya kurang baik serta menara – menara yang bertindak sebagai gap filler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan kedua fungsi tersebut dengan baik, maka penyelenggara infrastruktur diberikan izin penggunaan frekuensi yang sifatnya berbatas waktu (tidak untuk dimiliki selamanya) dan direncanakan akan berupa ijin pita frequency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dokumen yang dikeluarkan Kominfo, persyaratan penyelenggara infrastruktur antara lain telah memiliki infrastruktur eksisting di lapangan, berupa menara pemancar, leased line (Fiber optic, Microwave link, satelit, dll) dengan kapasitas pentransmisian dan jangkauan yang memadai untuk menampung sejumlah slot dari kanal yang diberikan haknya di wilayah yang akan dilayani. Persyaratan lainnya adalah mampu menyediakan link bagi kebutuhan penyelenggaraan penyiaran berjaringan dengan memiliki atau bekerjasama dengan penyelenggara infrastruktur telekomunikasi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsorsium Siaran TV Digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah telah menetapkan 4 ( empat) konsorsium Lembaga penyiaran sebagai penyelenggara ujicoba, yaitu 2 penyelenggara siaran free-to-air  DVB-T dan 2 lainnya penyelenggara untuk siaran mobile TV (DVB-H). Penyelenggara siaran free-to-air  DVB-T terdiri dari konsorsium TVRI dan PT. Telkom dan Konsorsium TV Digital Indonesia (KTDI), yeng beranggotakan 6 (enam) TV Swasta Nasional yaitu SCTV, Antv, TVOne, Trans TV, Trans 7 dan Metro TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu ada 2 penyelenggara untuk siaran mobile TV (DVB-H) yaitu Konsorsium PT. Tren Mobile / MNC yang beranggotakan RCTI, TPI dan Global TV dan Konsorsium antara PT. Telkom, PT.Telkomsel dan PT Indonusa Telemedia (Telkomvision). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkup Ujicoba siaran TV Digital meliputi antara lain model penyelenggaraan, Karakteristik propagasi dan jangkauan layanan siaran, Kualitas gambar dan suara, Kemampuan penerimaan dalam bentuk pelayanan fixed, portable, atau mobile, Kemampuan untuk dioperasikan dengan sistem jaringan Single Frequency Network (SFN), Program siaran (konten) termasuk layanan data, dan Kesiapan serta minat masyarakat terhadap siaran televisi digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Coba Siaran Televisi Digital mobile TV diselenggarakan dengan menggunakan sistem standar terbuka (open standard). Dengan Semua  Lokasi untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital adalah lingkup area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alokasi frekuensi radio untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air, disediakan sebanyak 4 (empat) kanal frekuensi radio, yaitu kanal 40, 42, 44  dan 46 UHF. Sedangkan Alokasi frekuensi radio untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital mobile TV menggunakan 2 (dua) kanal frekuensi radio yaitu kanal 24 dan 26 UHF dengan standar yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka monitoring dan evaluasi penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital, Menteri membentuk tim yang terdiri dari Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Perindustrian, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan unsur lain yang dipandang perlu untuk melakukan penilaian atas pelaksanaan Uji Coba Siaran Televisi Digital dan nantinya bertugas memberikan laporan kepada Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Coba Siaran Televisi Digital bertujuan untuk mengkaji setiap aspek teknis dan non-teknis berupa performansi perangkat dan sistem, model penyelenggaraan siaran televisi digital, dan fitur layanan televisi digital yang diharapkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air: Menyediakan alat bantu penerima siaran televisi digital (set top box) MPEG-2 yang memenuhi ketentuan teknis dengan fitur yang mampu memberikan layanan data dengan menu Bahasa Indonesia, informasi ramalan cuaca, keadaan lalu lintas, keuangan, peringatan dini bencana alam, berita, dan dapat dilengkapi dengan sarana pengukuran rating TV. STB yang digunakan harus dapat menerima siaran televisi digital dari semua penyelenggara Uji Coba Siaran Televisi Digital free-to-air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyelenggarakan Uji Coba Siaran Televisi Digital, penyelenggara Uji Coba Siaran Televisi Digital harus memenuhi ketentuan antara lain menggunakan frekuensi radio sesuai dengan peruntukkannya, menayangkan iklan dan running text (tulisan bergerak) yang bersifat promosi siaran digital kepada masyarakat, isi siaran dalam penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital bersifat edukatif, hiburan, dan berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durasi Uji Coba Siaran Televisi Digital berlangsung sekurang-kurangnya 12 (dua belas) jam per hari. Untuk pengukuran penyelenggaraan Uji Coba Siaran Televisi Digital penerimaan tetap free-to-air, didistribusikan sekurang-kurangnya 500 (lima ratus) unit set top box kepada masyarakat tanpa dipungut biaya, dengan mempertimbangkan lokasi, kondisi sosial-ekonomi, dan kelompok usia di wilayah jangkauan Uji Coba Siaran Televisi Digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, pemerhati penyiaran dan konvergensi multimedia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-3587800191897274308?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/3587800191897274308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=3587800191897274308' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3587800191897274308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3587800191897274308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2009/01/kesiapan-industri-penyiaran-dalam.html' title='Kesiapan Industri Penyiaran dalam Implementasi TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-5245839750868790870</id><published>2008-12-21T04:26:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T17:12:25.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konvergensi Multimedia'/><title type='text'>Lahirnya  Era Konvergensi IT, Telekomunikasi dan Penyiaran</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gegap gempitanya perkembangan industri Telekomunikasi di Indonesia, diyakini akibat terjadinya revolusi teknologi yang begitu cepat. Ditandai dengan inovasi teknologi yang sangat fantastis, menguak tabir akurasi ramalan dan impian para ilmuwan berabad lalu. Revolusi ini dipercepat dengan datangnya para pemain global yang menjanjikan evoria perubahan aplikasi teknologi, implementasi dan model bisnis yang dapat memberikan alternatif bisnis bervariasi, kolaboratif dan tentu akan lebih menguntungkan pelakunya. Belumlah tuntas implementasi 3G, sudah ramai dibicarakan WiMAX misalnya. Bila diamati, semua ini bermuara kepada konsep bagaimana mengolah dan mengirim data secara cepat, akurat dan optimal. Bila kemampuan pipa pengiriman data sudah berlimpah, akhirnya konten multimedia lah yang menjadi primadona bisnis Telekomuikasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi ini dibarengi dengan datangnya era dimana pengiriman konten multimedia menjadi semakin cepat, mudah dan murah, yang telah membuka mata bagi para pelaku industri telekomunikasi, untuk berkompetisi meningkatkan kapasitas, aktifitas dan kualitas jaringannya agar dapat dilirik dan dijadikan mitra oleh penyelenggara konten (&lt;em&gt;content provider&lt;/em&gt;), dalam memenuhi kebutuhan pengiriman konten multimedia dari dan kemanapun berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era ini ditandai dengan lahirnya teknologi IPTV (&lt;em&gt;Internet Protocol Television&lt;/em&gt;) yang memungkinkan siaran TV dan konten multi dimensi lainnya dikirim melalui beragam platform telekomunikasi yang berbeda (&lt;em&gt;multi telecommunication platforms&lt;/em&gt;), untuk memperoleh layanan yang semakin &lt;em&gt;interactive&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;personal&lt;/em&gt;. Perkembangan drastis dunia telekomunikasi ini telah membuat, &lt;em&gt;Interactivity&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Personality&lt;/em&gt; semakin menjadi jargon, tren dan ambisi manusia untuk berkomunikasi, berinteraksi dan menikmati hiburan multimedia, kapan saja dan dimana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan manusia dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya telah memasuki fase baru, dimana komunikasi dan interaksi dapat dilakukan melalui beragam media, yang dapat memvisualisasikan keinginannya dalam bentuk semakin nyata, semakin cepat dan mudah. Kebutuhan utama umat manusia ini yang awalnya hanya dapat dilakukan dan divisualisasikan melalui tulisan, gambar (tidak bergerak) dan suara, saat ini sudah jauh meningkat menjadi visualisasi dalam bentuk suara dan gambar video yang semakin nyata, dihadirkan seakan seperti dalam komunikasi visual yang sesungguhnya. Televisi (TV) yang selama ini dikenal sebagai model yang dapat menghadirkan komunikasi audio visual, mulai ditingkatkan fungsinya, bukan hanya sekedar untuk ditonton namun bisa diajak berinteraksi secara personal, sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercapainya kemajuan teknologi telekomunikasi telah mendorong industri TV memasuki era dimana &lt;em&gt;personality &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;interactivity&lt;/em&gt; telah disajikan dengan semakin optimal. Pemirsa telah dipermudah untuk dapat meminta TV mengerti kebutuhan dan keinginannya. Interaksi personal dua arah sudah mulai secara mudah dan murah dilakukan. Hal ini dapat terjadi tidak lain karena begitu cepatnya perkembangan teknologi televisi digital berbasis Internet Protokol ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Killer Broadband Application&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi IPTV memungkinkan pemirsa berinteraksi dengan pesawat TV karena pemirsa yang sebelumnya diposisikan sebagai penonton, saat ini mulai dapat mengambil posisi sebagai “mitra” yang dikenal secara personal oleh penyelenggara siaran TV. Keberadaan, keinginan, kebutuhan dan rencana nya dapat dicatat, dijadwalkan dan kemudian dipenuhi dengan segera oleh operator IPTV tersebut. Pemirsa dapat memperoleh posisi sebagai pribadi special yang memiliki keinginan khusus dan setiap saat dapat dilayani oleh stasiun penyelenggara siaran TV tersebut. Bahkan, juga dapat melakukan koreksi, pooling, rating dan voting sampai dengan usulan perbaikan program yang ditonton secara realtime, pada saat acara sedang berlangsung. Begitu tingginya tingkat &lt;em&gt;personality&lt;/em&gt; nya memungkinkan IPTV ini menjadi pilihan menarik bagi para penikmat siaran TV di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan dari Telecommunications management Group Inc, yang dipublikasikan di &lt;a href="http://reports.tmgtelecom.com/iptv"&gt;http://reports.tmgtelecom.com/iptv&lt;/a&gt;, solusi IPTV ini dianggap sebagai &lt;em&gt;The Killer Broadband Application&lt;/em&gt;, dan sejak diluncurkan tahun 2002, memiliki pertumbuhan pelanggan hampir dua kali lipat setiap tahunnya dan di awal tahun 2008 tercatat sudah memliki total pelanggan sebanyak 9,9 juta di seluruh dunia. Diperkirakan di tahun 2010 akan memiliki jumlah pelanggan sekitar 60 juta tersebar di 40 negara di seluruh dunia, dan telah masuk ke phase III dimana &lt;em&gt;service differentiation&lt;/em&gt; merupakan target yang harus dicapai oleh para pelakunya. Menurut forecast report yang dilakukan oleh Strategy Analytics US, pasar IPTV di US akan mengalami pertumbuhan revenue menjadi sekitar 14 Milyar Dollar di tahun 2012 meningkat tajam dari angka 694 juta dollar di tahun 2007. Hal ini akibat pertumbuhan jaringan telekomunikasi yang begitu cepat saat ini di US. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFc6Q3jR7I/AAAAAAAAADE/N4vB80ipKZA/s1600-h/iptV_Inflection.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287609593539807154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 190px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFc6Q3jR7I/AAAAAAAAADE/N4vB80ipKZA/s320/iptV_Inflection.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perkembangan teknologinya tidak lepas dari keberhasilan para insinyur dalam merekayasa signal audio dan video yang awalnya berformat analog (linear) menjadi format digital (non linear), yang dikenal dengan digitalisasi. Dalam proses ini dilakukan pemrosesan gambar video menjadi elemen-elemen gambar (picture element) dengan ukuran lebih kecil sebelum diproses lebih lanjut. Hal ini memungkinkan pengolahan gambar dengan lebih sempurna khususnya karena dapat dilakukan proses deteksi dan koreksi kesalahan (&lt;em&gt;error detection and correction&lt;/em&gt;) bila terjadi kegagalan dalam proses pengolahan signal, untuk mengembalikan sinyal yang rusak ke bentuk seperti aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Digitalisasi, tidak lain adalah untuk mendapatkan efisiensi dan optimalisasi dalam banyak hal antara lain efisiensi dan optimalisasi &lt;em&gt;spectrum frequency&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;network transmission&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;transmission power&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;consumption power&lt;/em&gt;. Disamping itu untuk meningkatkan kualitas dan stabilitas antara lain agar signal bebas interferensi, derau fading, resolusi menjadi lebih tajam, gambar dan suara lebih stabil. Lebih jauh efisiensi dan optimalisasi tersebut ditujukan untuk menurunkan biaya produksi maupun operasioanl sehingga tarif layanan yang dibebankan kepada pelanggan juga dapat ditekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini beberapa bidang kehidupan sedang mengalami proses migrasi ke teknologi digital, dengan tujuan untuk mendapatkan efisiensi dan optimalisasi. Antara lain digitalisasi bidang telekomunikasi dan bidang penyiaran. Dalam implementasinya ditandai dengan pemanfaatan Jaringan IP misalnya VoIP (&lt;em&gt;Voice over IP&lt;/em&gt;), &lt;em&gt;Video Over IP,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Mobile TV&lt;/em&gt; dan IPTV. Perubahan ini mempengaruhi pola penggunaan &lt;em&gt;open protocol&lt;/em&gt; yang selama ini rawan gangguan, menjadi “&lt;em&gt;Virtual Private&lt;/em&gt;” dan “&lt;em&gt;Secured&lt;/em&gt;” sehingga semakin banyak dapat digunakan dalam berbagai aplikasi khusus misalnya bidang perbankan, militer dan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditandai pula dengan meningkatnya tantangan pada QoS (&lt;em&gt;Quality of Services&lt;/em&gt;), QoE (&lt;em&gt;Quality of Experience&lt;/em&gt;), &lt;em&gt;Interoperability&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;User mobility&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Network Management&lt;/em&gt; yang merupakan jantung dari keberhasilan system digital tersebut. Disamping itu di bidang regulasi juga ditandai dengan perubahan dari &lt;em&gt;Fully Regulated&lt;/em&gt; (PSTN, TV Analog) menjadi &lt;em&gt;Less Regulation&lt;/em&gt; (NGN, WiFi, WiMax, IPTV), yang mengharuskan pemerintah harus bertindak extra hati-hati dan bijaksana dalam menerapkan peraturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim regulasi telekomunikasi Terpisah yang selama bertahun-tahun belakangan ini dijadikan pegangan, cepat atau lambat akan berubah menjadi regulasi yang konvergensi / terpadu. Begitu pula cara penghitungan tarif yang selama ini dianut misalnya &lt;em&gt;frequency based&lt;/em&gt; mulai berubah menjadi &lt;em&gt;bit stream based&lt;/em&gt;. Hal ini juga ditandai dengan terjadinya tren penurunan tarif secara darstis yang dibarengi dengan migrasi Layanan menuju &lt;em&gt;Multimedia Broadband Service&lt;/em&gt; yang menuntut operator seluler untuk melengkapi infrastruktur kerajaan bisnisnya dengan fasilitas layanan multimedia agar tidak tergerus oleh para &lt;em&gt;competitor&lt;/em&gt; yang hadir dengan segala fasilitas berteknologi super modern, teknologi bersifat netral dan teknologi multi platform yang telah menandai lahirnya era konvergensi multimedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Tertutup dan dan Aman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPTV berbeda dengan Internet TV yang menggunakan jaringan internet publik yang bersifat terbuka, dimana setiap orang dapat menjadi bagian dari jaringan internet tersebut tanpa harus melapor atau diketahui identitas secara jelas oleh operatornya, misalnya seperti pada layanan Youtube, Metacafe, Google Video, Truveo, dan sebagainya. Layanan IPTV ini merupakan solusi pengiriman audio, video dan data melalui IP yang bersifat tertutup (&lt;em&gt;closed circuit&lt;/em&gt;) dan &lt;em&gt;proprietary&lt;/em&gt; (kepemilikan khusus) dan memiliki kemampuan mengirimkan chanel-chanel layanan audio video dan data yang bersifat &lt;em&gt;secured &lt;/em&gt;(aman) sebagaimana yang terjadi di layanan cable TV saat ini. Hanya pelanggan yang terdaftar saja yang dapat menikmati layanannya. Distribusi konten pada IPTV ini dikontrol oleh operatornya dengan sangat ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan IPTV merupakan layanan yang bersifat &lt;em&gt;inherently resource–intensive&lt;/em&gt;, yang memiliki fluktuasi kebutuhan (bandwidth) yang relatif tidak dapat diprediksi dan dalam suatu saat dapat memiliki tingkat &lt;em&gt;concurrency&lt;/em&gt; (permintaan program secara bersamaan) yang tinggi. Service provider harus melakukan beberapa asumsi dalam menjalankan layanan, agar tetap dapat menjaga kepuasan pelanggannya. Asumsi tersebut antara lain VOD (Video on Demand) / &lt;em&gt;Unicast Concurrency&lt;/em&gt; yaitu karena VOD memiliki &lt;em&gt;direct effect&lt;/em&gt; terhadap jumlah traffic yang terjadi pada jaringan transmisi, kenaikan 10% pada VOD misalnya, akan mengakibatkan &lt;em&gt;traffic unicast video&lt;/em&gt; naik sekitar 20%. Dalam hal ini VOD menjadi &lt;em&gt;major variable&lt;/em&gt; pada perencanaan jaringan dan &lt;em&gt;reliable service delivery&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi lainnya adalah &lt;em&gt;Broadcast Channel Concurrency&lt;/em&gt; yaitu jumlah broadcast channel yang ditonton oleh pelanggan akan sebanding dan mempengaruhi &lt;em&gt;multicast replication&lt;/em&gt; pada jaringan. Asumsi &lt;em&gt;HD Content Growth&lt;/em&gt; yaitu pertumbuhan jumlah content HD akan dapat menjadi indikasi &lt;em&gt;deferentiation&lt;/em&gt; layanannya. Disamping itu asumsi lainnya adalah STB &lt;em&gt;Proliferation&lt;/em&gt;, dimana jumlah STB per household dan beberapa features seperti multi channel viewing for PiP dan multi-angle viewing menjadi faktor yang dapat meningkatkan kebutuhan bandwidth. &lt;em&gt;Network-based intelligence&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;quality of service (QOS) mechanism&lt;/em&gt; seperti &lt;em&gt;hierachical&lt;/em&gt; QOS (H-QOS) sangat diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya &lt;em&gt;dynamic real-time traffic change&lt;/em&gt;, yaitu perubahan lalulintas aliran data yang dapat berubah setiap saat. Untuk itulah diperlukan fasilitas QoS yang sangat ketat. Dalam aplikasinya, layanan IPTV ini merupakan &lt;em&gt;geographically-bound approach&lt;/em&gt; yaitu dibutuhkan pendekatan regulasi khusus yang bersifat geografis, dan diperlukan regulasi dan kebijakan bersifat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPTV menjadi menarik karena memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki layanan lainnya. Beberapa f&lt;em&gt;eature&lt;/em&gt; menarik antara lain &lt;em&gt;Personalized e-commerce&lt;/em&gt; yang memungkinkan pengiklan (penjual), pelanggan (calon pembeli) dan operator (penyedia layanan iklan) dapat berinteraksi secara personal, terbuka dan relatif tidak terbatas berkenaan dengan product yang ditawarkan dan diperjualbelikan. Feature ini memungkinkan diperolehnya &lt;em&gt;more targeted advertising&lt;/em&gt; yang tidak diperoleh dalam layanan lainnya seperti pada Cable TV, DTH (Direct To The Home), Digital Terrestrial TV dan Mobile TV. Kelebihan lainnya adalah menurunnya peluang bagi &lt;em&gt;theft &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;piracy &lt;/em&gt;yang merupakan masalah klasik yang sulit dihindari khususnya untuk mengurangi kerugian finansial bagi &lt;em&gt;produser&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;content provider&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFdJbqTB4I/AAAAAAAAADM/eQt33gpocnI/s1600-h/IPTV+Diagram.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287609854135043970" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 194px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFdJbqTB4I/AAAAAAAAADM/eQt33gpocnI/s320/IPTV+Diagram.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Revenu stream&lt;/em&gt; bisnis IPTV bisa datang dari beberapa cara, antara lain dari iuran pelanggan (&lt;em&gt;subscription fee&lt;/em&gt;) yang dapat dibuat bervariatif, sesuai dengan variasi layanan yang diberikan, misalnya jumlah, tipe dan kualitas program yang dapat disajikan kepada pelanggan. Cara lainnya adalah melalui jenis layanan yang bisa dibuat sesuai keinginan pelanggan (&lt;em&gt;on demand&lt;/em&gt;). Variasi layanan on demand ini antara lain dapat dimulai dari TVOD (&lt;em&gt;True Video on Demand&lt;/em&gt;), NVOD (&lt;em&gt;Near Video On Demand&lt;/em&gt;), SVOD Subscription VOD dan FVOD (&lt;em&gt;Free Video On Demand&lt;/em&gt;). Tingkat yang paling tinggi berdasar jenisnya adalah layanan EOD (&lt;em&gt;Everything Video On Demand&lt;/em&gt;). Disamping itu ada pilihan PPV (Pay Per View) dan bahkan masih ada beberapa pilihan lainnya bilamana pelanggan menginginkan untuk melakukan rekaman program tertentu. Ada pilihan PVR (&lt;em&gt;Personal Video recorder&lt;/em&gt;) dan NPVR (&lt;em&gt;Network-based Personal Video recorder&lt;/em&gt;). Karena sifatnya yang interaktif, maka dalam layanan bisnis IPTV ini dimungkinkan datangnya revenue dari layanan berupa &lt;em&gt;Game interaktif, tutorial, course, program interktif&lt;/em&gt; dan acara bersifat hiburan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pelanggan, pilihan &lt;em&gt;personality&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;interactivity&lt;/em&gt; tersebut merupakan faktor yang paling dominan, yang merupakan superiority layanan ini terhadap layanan multimedia lainnya. Pelanggan dapat memesan video, musik kesayangannya dan layanan aplikasi khusus lainnya kapan saja setiap saat yang diinginkan, bahkan jauh hari sebelum hari H, kita sudah dapat memprogram keinginan kita untuk memperoleh layanan spesial dari sang operator. Dan bila layanan tersebut kurang memuaskan, maka secara pribadi kita bisa memberi saran, kritikan atau masukan kepada operator yang dengan mudah dapat memenuhinya sesuai keinginan tersebut, hal itu dimungkinkan antara lain karena adanya pilihan &lt;em&gt;polling, rating&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;vote&lt;/em&gt; dalam program layanan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam implementasinya, paling tidak dikenal dua jenis layanan IPTV yaitu SD (&lt;em&gt;standar definision&lt;/em&gt;) dan HD (&lt;em&gt;high definision&lt;/em&gt;). SD-IPTV menggunakan video compression berbasis MPEG-2, MPEG-4 Pt.10, H.264 AVC (&lt;em&gt;advanced Video Coding&lt;/em&gt;) atau VC-1. Data rates yang diperlukan berkisar 1 – 2 Mbps, sehingga dapat disalurkan menggunakan jaringan ADSL (&lt;em&gt;Asymetric Digital Subscriber Line&lt;/em&gt;), ADSL2, FTTP (&lt;em&gt;fiber to the premises&lt;/em&gt;) dengan feature BPON / GPON (&lt;em&gt;Broadband / Gigabit Passive Optical Networks&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu HD-IPTV juga menggunakan video compression berbasis MPEG-2, MPEG-4 Pt.10, H.264 AVC atau VC-1, memerlukan data rates relatif lebih tinggi yaitu antara 8 – 20 Mbps, sehingga hanya dapat disalurkan menggunakan ADSL2+ atau VDSL2 (Very &lt;em&gt;High Data Rate Digital Subscriber Line&lt;/em&gt;) dan FTTP dengan fasilitas BPON/GPON.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi Layanan IPTV di Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa operator telekomunikasi kelas dunia telah melihat peluang dan telah mengimplimentasikan layanan IPTV ini sebagai salah satu bagian dalam bisnisnya. Sebut saja France Telecom, salah satu operator telekomunikasi terbesar di Eropa, yang menurut berita yang dipublikasikan di &lt;a href="http://www.fierceiptv.com/"&gt;http://www.fierceiptv.com/&lt;/a&gt; pada bulan November 2008 telah memiliki pelanggan sekitar 1.74 juta yang tersebar di seluruh Eropa antara lain di Perancis, Spanyol dan Polandia, meningkat sekitar 76% selama dua kwartal dibanding periode di tahun sebelumnya. Perusahaan yang masuk pasar dengan nama Orange TV ini saat ini juga aktif berekspansi untuk membidik pelanggan di UK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu operator IPTV lainnya adalah PCCW Ltd, yang berkantor pusat di Hongkong dan merupakan bagian dari HKT Group Holdings Limited (HKT). Perusahaan yang merupakan penyelenggara layanan telekomunikasi terbesar di Hongkong dan merupakan pemain bisnis kelas atas bidang ICT (&lt;em&gt;Information and Communications Technologies&lt;/em&gt;) yang berbasis pada empat platforms yaitu &lt;em&gt;fixed-line, broadband Internet access, TV &lt;/em&gt;dan&lt;em&gt; mobile&lt;/em&gt; ini, telah menjalankan bisnis IPTV dan &lt;em&gt;Quadruple Play&lt;/em&gt; solution sejak Agustus 2007. Perusahaan ini bahkan telah menandatangani MoU dengan Telkom dan Telkomvision untuk menyelenggarakan layanan bisnis berbasis IPTV di Indonesia pada september 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hampir semua negara, pemain bisnis IPTV selalu dilakukan oleh operator Telekomunikasi, karena operator inilah yang paling siap dan paling sesuai dalam tipikal infrastruktur bisnis dan jaringannya. Beberapa operator IPTV di asia antara lain SingTel - Singapore, Hanaro Telecom – Korea, Chunghwa Telecom - Taiwan, China Telecom/Shanghai Media Group - China dan NTT Communication – Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dari Eropa ada pemain-pemain besar seperti Deutsche Telekom – Jerman, KPN - Belanda, France Telecom - Perancis, Telecom Italia, British Telecom - UK, Telefonica - Spanyol, Swisscom dan Belgacom. Di Amerika ada Verizon Communication - USA, AT&amp;amp;T – USA, Disamping masih ada beberapa pemain lainnya seperti Pakistan Telecom (PTCL) - Pakistan, Telecom New Zealand dan lain sebagainya. Dari beberapa publikasi yang ada diketahui bahwa pertumbuhan pelanggan dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang sangat pesat, berkisar 30-60% per tahun, merupakan pertumbuhan bisnis yang sangat atraktif di bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan bagi masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah dibahas di bagian sebelumnya, dari segi teknologi mungkin bukan merupakan isu yang mengkhawatirkan, karena cepat atau lambat teknologi tersebut akan atau sudah masuk ke peradaban masyarakat kita. Apalagi di Indonesia sudah terdapat jaringan berbasis ADSL yang digelar oleh operator telekomunikasi terbesar di Indonesia PT Telkom, yang dikenal dengan nama Telkom Speedy, disamping jaringan FTTN (&lt;em&gt;fiber to the Node&lt;/em&gt;), FTTB (&lt;em&gt;fiber to the Building&lt;/em&gt;) dan FTTH (&lt;em&gt;fiber to the home&lt;/em&gt;) yang sudah digelar luas oleh beberapa operator seperti XL, Biznet, Indosat, Lintas arta dll. Yang menjadi persoalan adalah apakah masyarakat kita sudah siap meghadapi perkembangan tersebut? Apakah kemajuan masyarakat kita sudah dapat sebanding dengan kemajuan teknologi tersebut? Dan apakah teknologi tersebut bermanfaat bagi masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akan menjadi ironi bila masyarakat kita belum siap, karena kita yang seharusnya dapat menguasai teknologi, justru akan menjadi dikuasai oleh teknologi. Seperti yang terjadi saat ini, dimana perkembangan teknologi komunikasi seluler begitu merambah masyarakat kita, menohok sampai ke pelosok pedesaan. Kelihatan bahwa masyarakat kita belum siap, skala prioritas kebutuhan penggunaan HP seakan sudah mulai ditempatkan dalam skala yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari kebutuhan akan sandang dan papan sekalipun. Itu yang dapat kita amati dari gaya hidup sebagian masyarakat kita baik di perkotaan dan pinggiran, dimana dengan penghasilan relatif masih rendah namun kemana-mana sudah menenteng HP keluaran terbaru dengan harga dan tingkat penggunaan / percakapan lumayan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi perkembangan teknologi teknologi tersebut, masyarakat harus benar-benar siap agar tidak terjadi peningkatan kejahatan dan atau perilaku negatif lainnya di masyarakat akibat dampak perkembangan teknologi ini. Karena disamping siaran TV para pelanggan IPTV juga dapat menikmati internet, sehingga solusi layanan ini dapat mempengaruhi perilaku masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak manfaat dapat diperoleh dengan adanya teknologi IPTV ini, antara lain masyarakat menjadi lebih berpeluang untuk mengakses informasi dengan mudah, aman, dan relatif murah. Mudah karena pelanggan dapat memperoleh layanan berbasis &lt;em&gt;Quadruple Play&lt;/em&gt; dimana suara (VoIP), Video (film, snetron, TV dll), layanan data dan Broadband internet dalam satu operator, yang akan memudahkan dalam membayar biaya langganan dan jaminan after sales service nya. Aman karena pelanggan berada di jaringan yang tertutup dan khusus, yang hanya terhubung dengan pelanggan yang benar-benar dikenal oleh operatornya dan Relatif murah biaya langgananya bila dibandingkan dengan berlangganan layanan terpisah dari beberapa operator yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam hal ini peran pemerintah menjadi sangat strategis, untuk melakukan pengawasan dan pengamanan berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi. Seperti yang telah dilakukan dalam penanggulangan Insiden Keamanan pada Infrastruktur Informasi Indonesia, dengan pembentukan team ID-SIRTII (Indonesia-Security Incident Response Team on Information Infrastructure), yang diketuai oleh DR. Richardus Eko Indrajit, salah satu pakar TI Indonesia, dan beranggotakan oleh beberapa tokoh yang sangat ahli dan berpengalaman di bidang TI, yang bertujuan untuk mengamankan dan melindungi infrastruktur TI demi kepentingan pemerintah, publik, pendidikan dan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang konten, sudah semestinya peran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) lebih tajam dan tegas, dalam mengawasi dan mengamankan industri penyiaran di Indonesia. Apalagi menjelang diimplementasikan IPTV yang berkonsekuensi pada berlipat gandanya jumlah siaran yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Lebih-lebih dimungkinkannya solusi IPTV melalui TV bergerak (&lt;em&gt;Mobile Television&lt;/em&gt;) yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan televisi di manapun di sela-sela aktivitas sehari-hari. Dimungkinkan kerjasama yang lebih erat antara lembaga pengawas konten ini (KPI) dengan pengawas telekomunikasi (BRTI), karena sistim bisnisnya akan menjadi menyatu sehingga dibutuhkan lembaga pengawas yang kuat, berwibawa dan yang benar-benar menguasai bidang pekerjaaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan standar kualitas yang baik dari segi kualitas signalnya, kualitas layanan, maupun kualitas isi siarannya. Peran pemerintah sebagai moderator, mediator dan regulator sangat dinantikan agar setiap adanya perkembangan teknologi dapat diminimalisasi dampak negatifnya terhadap masyarakat luas, disamping optimalisasi teknologinya agar semakin bermanfaat bagi masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, Pengamat Konvergensi multimedia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-5245839750868790870?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/5245839750868790870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=5245839750868790870' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5245839750868790870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5245839750868790870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/iptv-lahirnya-era-konvergensi-it.html' title='Lahirnya  Era Konvergensi IT, Telekomunikasi dan Penyiaran'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFc6Q3jR7I/AAAAAAAAADE/N4vB80ipKZA/s72-c/iptV_Inflection.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-5358013880088742319</id><published>2008-12-15T22:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T22:30:45.341-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Implementasi Siaran Digital Di Indonesia</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jakarta, 25 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&amp;amp;mod=berita_kominfo&amp;amp;view=1&amp;amp;id=BRT080225113801"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&amp;amp;mod=berita_kominfo&amp;amp;view=1&amp;amp;id=BRT080225113801&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor:07/P/M.KOMINFO/3/2007 tanggal 21 Maret 2007 tentang Standar Penyiaran Digital Terestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia, telah ditetapkan standar DVB-T sebagai standar penyiaran televisi digital teresterial tidak bergerak di Indonesia. Migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital merupakan tuntutan teknologi secara internasional, kita tidak dapat menghindar untuk tidak mengadopsi teknologi siaran digital ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiaran digital secara fundamental berbeda dengan analog dimana 1 kanal frekuensi hanya membawa 1 program. Pada siaran digital teresterial, 1 kanal dapat membawa lebih dari 10 program. Dengan menerapkan sistem siaran digital ini maka akan terjadi efisiensi penggunaan kanal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut Peraturan Menkominfo tersebut diatas, akan dibuat peraturan tentang: 1. Rencana Induk Frekuensi Penyiaran Digital Terestrial 2. Standardisasi perangkat penyiaran digital terestrial 3. Jadwal pelaksanaan migrasi dari analog ke digital Oleh karena itu berdasarkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika nomor: 500/KEP/M.KOMINFO/11/2007, telah dibentuk 3 Working Group, yaitu : 1. Working Group Regulasi Sistem Penyiaran Digital 2. Working Group Master Plan Frekuensi Digital 3. Working Group Teknologi Peralatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan pilot project siaran TV digital dapat dilaksanakan pada tahun 2008 dengan beberapa Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Publik TVRI sebagai pionir. TVRI akan memasang pemancar TV digital di Jakarta dengan kekuatan 10 kW. Melalui pilot project ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada seluruh pemangku kepentingan tentang siaran TV digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penyelenggara siaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyiarkan program mereka secara digital dan memberi kesempatan kepada mereka terhadap peluang bisnis baru di bidang konten yang lebih kreatif, variatif dan menarik&lt;br /&gt;Bagi institusi pemerintah: Mendukung penyusunan perencanaan master plan frekuensi digital dengan melakukan pengukuran kekuatan sinyal, interferensi antara analog dan digital, dan pengukuran parameter lainnya serta menyiapkan berbagai perangkat peraturan terkait dengan rencana implementasi siaran digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi industri elektronik dalam negeri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendukung produksi set top box dan mengukur kinerjanya.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat: Memperkenalkan siaran TV digital agar masyarakat dapat membandingkan keunggulan kualitas siaran digital dengan analog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-5358013880088742319?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/5358013880088742319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=5358013880088742319' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5358013880088742319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5358013880088742319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/implementasi-siaran-digital-di.html' title='Implementasi Siaran Digital Di Indonesia'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-7540079373277602957</id><published>2008-12-15T22:10:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T22:25:53.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Lokal'/><title type='text'>Pembekuan TV Lokal Ditoleransi Hingga 2010</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Senin, 10 November 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kpi.go.id/index.php?etats=detail&amp;amp;nid=705"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;http://www.kpi.go.id/index.php?etats=detail&amp;amp;nid=705&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ditjen Pos dan Telekomunikasi (Postel) benar-benar memperketat operasional stasiun televisi nasional maupun lokal yang belum berizin resmi. Postel hanya memberikan waktu sampai 2010 pada stasiun televisi untuk membekukan diri. Selanjutnya, semua stasiun televisi dialihkan ke digital TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disampaikan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim Fajar Arifianto Isnugroho. Menurutnya, pembekuan tersebut bukan makna sesungguhnya. Sebab, lebih pas dikatakan sebagai langkah persiapan diri sebelum beralih ke digital TV. ''Ini karena kanal TV sangat terbatas. Langkah paling efisien adalah beralih ke digital TV," kata Fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Kota Malang misalnya, sampai saat ini hanya tersisa satu kanal atau saluran untuk TV, yaitu kanal 48. Begitu juga dengan kanal radio di saluran 87,9 FM. Padahal, dari data yang ada, sedikitnya 10 stasiun TV lokal dan 20 radio lokal Malang sedang proses memperebutkan kanal tersebut. ''Tidak mungkin Postel meloloskan puluhan pengajuan dengan dua kanal tersisa. Karena itu digital TV diberlakukan," terang dia.Dengan satu kanal digital TV saja, maka puluhan program bisa masuk. Sehingga, masyarakat tidak perlu pindah-pindah channel jika ingin menyaksikan beragam acara. Ibarat rumah makan, dalam satu digital TV terdapat beragam menu dan tinggal memilih. ''Rancangannya seperti itu," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, lanjut Fajar, meski Ditjen Postel telah melayangkan warning, namun konsep digital TV hingga saat ini masih dalam tahap pembahasan. Bahkan, regulasi yang mendukung peralihan itu belum tuntas. Padahal, jika melihat batas waktu yang diberikan, berarti tinggal satu tahun ke depan. Dengan waktu singkat itu mau tidak mau semua stasiun TV siap menyambut era digital. Termasuk kesiapan masyarakat. ''Harusnya sounding regulasi dimulai dari sekarang. Dengan begitu masyarakat tidak kaget," ujar Fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, berdasarkan data KPID, sampai saat ini di Jatim ada 294 stasiun TV lokal dan radio lokal yang sedang proses izin. Itu masuk periode 31 Oktober sampai 31 Desember nanti. Dari 294 proses perizinan itu, 10 di antaranya adalah stasiun TV lokal daerah Malang. Yakni Damma TV, Singosari TV, Gajayana TV, Agropolitan TV, JTV, Pasuruan TV, Batu TV, Malang TV, Mahameru TV, dan Space Toon. Sedang untuk radio daerah Malang ada 20 yang tahap proses perizinan. ''Proses perizinan juga masih berjalan," terang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menentukan pembagian kanal tersebut, selama ini Postel mengacu keputusan Menteri Perhubungan Nomor 76/2003 tentang pembagian kanal. Ada banyak pertimbangan yang dilakukan. Terutama kualitas dan program siaran. Khusus daerah-daerah dengan wilayah padat, Postel melibatkan langsung KPID dan tim seleksi. Daerah-daerah itu di antaranya yakni Malang, Madiun, Banyuwangi, dan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Red dari Radar Malang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-7540079373277602957?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/7540079373277602957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=7540079373277602957' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7540079373277602957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7540079373277602957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/pembekuan-tv-lokal-ditoleransi-hingga.html' title='Pembekuan TV Lokal Ditoleransi Hingga 2010'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-8922465921278165575</id><published>2008-12-13T03:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T03:28:37.067-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Migrasi TV Digital, Tak Sekadar Berubah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Kompas Cetak, Jumat, 29 Agustus 2008  01:59 WIB&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;AW Subarkah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyongsong hari Lebaran dengan aksesori yang serba digital pada tahun-tahun mendatang nampaknya akan semakin membudaya. Bukan hanya bisa menciptakan peranti yang serba semakin ringkas dan canggih, melainkan juga akan menjadi ikon gaya hidup masa depan.&lt;br /&gt;Era digital tanpa sadar sekarang ini sudah benar-benar semakin menyeruak ke segala bidang yang secara mulus menggantikan era analog. Bahkan, generasi baru sekarang sudah benar-benar terlahir dan hidup di alam digital, semua perangkat yang dikenal sudah merupakan perangkat digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu produk digital yang sukses menjadi ujung tombak agen perubahan ini adalah telepon seluler. Hampir setiap orang ingin memilikinya dan dari situlah transformasi ke era digital dengan mudah bisa terjadi hampir ke seluruh sendi-sendi kehidupan.&lt;br /&gt;Bahkan, ponsel sudah tidak lagi hanya menjadi peranti bercakap-cakap jarak jauh, tetapi juga sudah mengambil alih sebagian tugas komputer yang menjadi perintis dunia digital dan dunia hiburan. Dari sinilah kartu memori muncul dan tumbuh serta sudah menggantikan fungsi kaset dengan lebih baik dan jauh lebih ringkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang sedang dirambah transformasi ini adalah dunia televisi. Para vendor jaringan, sebut saja Ericsson dan Nokia, menjadi penggerak. Bukan hanya kebutuhan televisi bergerak, melainkan juga pada kebutuhan layanan high definition television untuk hiburan di rumah-rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia saat ini juga tengah memasuki fase awal perubahan itu atau istilahnya migrasi penyiaran dari teknologi analog ke digital. Transmisi gelombang radio yang menghantarkan informasi suara dan gambar yang dilakukan secara analog sekarang ini akan secara bertahap diganti dengan transmisi secara digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tentu bukan sekadar berubah supaya sama dengan negara lain, tetapi sebenarnya yang mahal adalah momentumnya. Migrasi analog ke digital ini tidak dilihat semata-mata dari pendekatan teknis saja, langkah-langkah ikutannya yang sangat penting dan ini juga sudah kami persiapkan sehingga momentum perubahan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya,” kata Mohammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), dalam wawancara khusus dengan Kompas pekan lalu di Kantor Depkominfo, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akan terjadi perubahan besar-besaran dan ini tentu merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan pembenahan. Untuk memaknai momentum migrasi, nampaknya sudah dipersiapkan Depkominfo, setidaknya Menkominfo melihat ada tiga aspek yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;Pertama, momentum ini akan menjadi saat yang tepat untuk melakukan pembenahan frekuensi yang dialokasikan untuk penyiaran TV. ”Masalah frekuensi yang ilegal itu bukan hanya banyak, tetapi buanyak sekali, mulai dari model bonek sampai yang mengikuti prosedur. Dengan teknologi digital akan ada digital devident sehingga dengan pembenahan ini pendapatan negara juga akan naik dengan sendirinya,” ucap Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek kedua adalah mulai mengatur konten, dalam hal ini nanti yang memiliki kewenangan mutlak adalah Komisi Penyiaran Indonesia. Nanti sebuah stasiun televisi harus mengalokasikan waktunya sekian persen dari jam tayang setiap hari untuk tayangan yang berdedikasi.&lt;br /&gt;Sasaran ketiga adalah mulai memisahkan antara penyedia konten (content provider) dan penyedia jaringan (network provider), di mana pada saat ini setiap stasiun televisi bertindak untuk kedua-duanya. Diharapkan, konten televisi nanti akan berkembang lebih beragam dan bahkan perusahaan penyedia konten tidak harus membangun jaringannya sendiri.&lt;br /&gt;Saat ini perkembangan migrasi baru mulai pembentukan konsorsium untuk melakukan uji coba penyiaran secara digital. Sementara itu, migrasi ini secara keseluruhan diberi waktu sampai 10 tahun dari sekarang, dengan perhitungan life-time pesawat televisi akan habis selama itu sehingga masyarakat tidak terlalu dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Konsorsium minimal beranggotakan enam perusahaan. Kenapa enam? Kami sudah memperhitungkan dengan minimal enam anggota tidak ada konsorsium yang seluruh anggotanya merupakan satu grup perusahaan saja. Jangan ada yang memanfaatkan untuk monopoli. Selain itu, memang dalam uji coba ini satu kanal untuk enam siaran,” kata mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat antusiasnya, uji coba ini diperkirakan akan ada sekitar tiga konsorsium yang akan ambil bagian. Mereka itu selain 11 stasiun televisi (10 swasta dan 1 publik), juga para pemilik jaringan telekomunikasi yang akan memanfaatkan kesempatan ini.&lt;br /&gt;Untuk bisa menangkap siaran digital mulai dari uji coba nanti pesawat televisi yang dimiliki masyarakat harus menambahkan alat pengubah sinyal digital ke analog atau lazim disebut set-top box. Perangkat ini nantinya harus diproduksi perusahaan dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dalam set-top box ini nanti akan ditambahkan perangkat peringatan dini terhadap adanya bencana atau early warning system. Dengan demikian, masyarakat bisa waspada jika terjadi gempa yang dinilai BMG membahayakan keselamatan warga,” tuturnya.&lt;br /&gt;Industri set-top box ini sendiri sudah menarik. Data dari buku Sistem TV Digital dan Prospeknya di Indonesia menyebutkan, pemirsa televisi di Indonesia ada lebih dari 140 juta pasang mata dari segala lapisan umur. Dengan jumlah pesawat (tentunya televisi analog) bisa mencapai 40 juta buah pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain set-top box untuk mengubah sinyal digital yang menggunakan teknologi Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) juga industri ponsel akan diuntungkan. Untuk penangkapan siaran dengan ponsel akan menggunakan teknologi DVB for Handheld (DVBH).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-8922465921278165575?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/8922465921278165575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=8922465921278165575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8922465921278165575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8922465921278165575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/migrasi-tv-digital-tak-sekadar-berubah.html' title='Migrasi TV Digital, Tak Sekadar Berubah'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-6110171497996381860</id><published>2008-12-13T03:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T03:17:13.601-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Urgensi dan Prospek Kebijakan Sistem Digitalisasi Radio-Televisi</title><content type='html'>Paulus Widiyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Co-Chairman Masyarakat Infomasi Indonesia, disampaikan dalam workshop KPID Jawa Tengah&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era digitalisasi penyiaran di Indonesia sudah pasti akan datang, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap kita menghadapinya, karena begitulah kecenderungan global tentang dunia penyiaran. Inovasi teknologi penyiaran adalah suatu hal yang tidak terelakkan di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita diperhadapkan dengan kata-kata kunci baru tatkala mempelajari digitalisasi penyiaran, seperti terminology teknologi kompressi MPEG (Moving Picture Experts Group) 2 dan 4, multiplex, simulcast, dan masih banyak yang lain. Namun digitalisasi penyiaran tidak hanya persoalan teknologi semata, tetapi juga aspek ekonomi, sosial, hukum, dan juga politik, sehingga persoalan digitalisasi penyiaran di Indonesia perlu dilihat secara komprehensif. Di sana ada persoalan state interests, corporation interests, consumers interests, juga public interests yang saling berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia telah menentukan migrasi sistem penyiaran terrestrial dari analog ke digital, melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Infomatika RI Nomor 07/P/M.Kominfo/3/2007 tertanggal 21 Maret 2007 Tentang Standar Penyiaran Digital Terrestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia, ditetapkan standar penyiaran digital terrestrial untuk televisi tidak bergerak di Indonesia yaitu Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T). Tatkala pemerintah memutuskan standar penyiaran digital DVB-T berlaku di Indonesia, ini berarti kita sudah masuk dalam sebuah mazhab sistem penyiaran digital Eropa, dan tidak ikut mazhab Amerika Serikat ATSC (Advanced Television Systems Committee). Keputusan ini mempunyai implikasi ekonomi-politik dan bisnis penyiaran Indonesia masuk ke dalam pasar global penyiaran, baik dari segi piranti atau peralatan teknologi penyiaran maupun program isi siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem penyiaran TV digital DVB dikembangkan berdasarkan latar belakang pentingnya sistem penyiaran yang bersifat terbuka (open system) yang ditunjang oleh kemampuan interoperability, fleksibilitas dan aspek komersial. Sebagai suatu open system, maka standar DVB dapat dimanfaatkan oleh para vendor untuk mengembangkan berbagai layanan inovatif dan jasa nilai tambah yang saling kompatibel dengan perangkat DVB dari vendor lain.&lt;br /&gt;Selain itu, standar DVB memungkinkan terjadinya cross-medium interoperability yang memungkinkan berbagai media delivery yang berbeda dapat saling berinteroperasi. Salah satu aspek dari interoperability adalah bahwa semua perangkat yang DVB-compliant dari vendor yang berbeda dapat dengan mudah saling terhubung dalam satu mata rantai penyiaran. (Lihat Harry Budianto dkk “Sistem TV Digital dan Prospeknya di Indonesia’ Multikom Indo Persada, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimana kesiapan para pemangku kepentingan penyiaran di Indonesia menghadapi era digitalisasi penyiaran, padahal banyak sekali pekerjaan rumah regulator penyiaran yang belum selesai, manakah yang harus jadi prioritas? Sebutlah Sistem Siaran Jaringan (SSB) yang seharusnya mulai berlaku 28 Desember 2007, ditunda sampai 2009. Sekarang sudah sampai dimana pelaksanaan SSB bagi penyiaran di Indonesia. Bagaimana pemetaan usaha penyiaran radio dan televisi? Bagaimana wilayah layanan penyiaran radio dan televisi? Bagaimana sebenarnya Roadmap dunia Penyiaran dan Telekomunikasi Indonesia? Migrasi dari sistem analog ke sistem digital akan ditempatkan dalam roadmap yang seperti apa? Bagaimana kepentingan public ditempatkan pada posisi roadmap tersebut, di tengah-tengah state interest, corporation interest dan consumer interest? Bagaimana kesiapan pembiayaan migrasi ke digital? Siapa yang harus membayar? Social and political cost-nya bagaimana? Siapa korban dan siapa peraih keuntungan dalam migrasi analog ke digital?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya perdebatan public di Indonesia tentang proses migrasi ke sistem digital dunia penyiaran belum begitu intens, dan masih terbatas pada elite-elite dunia  penyiaran, terutama regulator, operator dan vendor yang akan berbisnis hardware equipment dan program siaran dunia. Barangkali banyak pihak dan elemen-elemen masyarakat tidak tahu, merasa tidak perlu, tidak tertarik, dan menilai mahluk seperti apakah sebenarnya digitalisasi penyiaran di Indonesia, di tengah kenikmatan instan menonton dan mendengar program-program siaran radio dan televisi di tanah air saat ini. Diskusinya masih berkutat pada perebutan kanal yang tersisa, dan isi siaran yang penuh dengan mistik, infotainment, sinetron, kekerasan, kebanci-bancian, belum pada “revolusi digital televisi” yang akan mengubah lanskap penyiaran Indonesia di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masih langkanya perdebatan public tentang sistem digital penyiaran Indonesia, saya menyambut gembira  langkah antisipatif Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah dalam menggagas seminar ini. Makalah ini adalah catataan kritis terhadap langkah-langkah migrasi dari analog ke digital di Indonesia yang masih gelap. Tentu saja kita merasa gembira karena seminar ini merupakan forum dimana  kita memang sedang belajar bersama tentang digitalisasi penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanskap Penyiaran yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi penyiaran harus dipandang sebagai peluang untuk memperluas dan mengembangkan jangkauan jenis-jenis layanan penyiaran yang dapat disediakan bagi para pendengar dan penonton. Semula kita mendengar siaran radio yang dipancarkan lewat gelombang SW, MW, AM dan kini FM. Para radio broadcasters migrasi dari AM ke FM. Pada awalnya televisi disiarkan melalui VHF kemudian menjadi UHF. Orang nonton televisi hitam putih kemudian berkembang nonton televisi berwarna. Karena di Indonesia kanal-kanal frekuensi UHF sudah habis, maka frekuensi VHF yang ditinggalkan pemain lama, juga dilirik dan diincar pemain baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia pertelevisian, misalnya, setelah ditemukan sistem penyiaran terrestrial yang menggunakan gelombang elektromagnetik/spectrum frekuensi radio, kemudian dikembangkan televisi dengan platform kabel, yang dilanjutkan  dengan platform satelit, bahkan kemudian dengan platform internet. Tatkala televisi bisa dipancarkan lewat internet, seperti halnya siaran radio di internet, maka kita sebenarnya sudah masuk pada isu konvergensi. Kasus ini pun menjadi perdebatan menarik di kalangan dunia penyiaran. Digitalisasi pertelevisian - kabel, satelit dan terrestrial - merupakan inovasi teknologi penyiaran  yang menciptakan jalan yang menjanjikan suatu peningkatan dalam hal jangkauan dan keberagaman penyiaran di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan cepat teknologi penyiaran, terutama peralihan dari  cara-cara  pemrosesan dan transmisi secara analog ke digital, telah mentrasformasi landskap penyiaran di berbagai negara. Lanskap penyiaran Indonesia di masa depan perlu dimasukkan ke dalam roadmap penyiaran yang menjadi tugas regulator, bagaimana misalnya aspek ekonomi karena tuntutan revolusi teknologi penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan teknologi penyiaran harus kita bayar mahal. Migrasi dari analog ke digital membutuhkan biaya besar, baik bagi para operator untuk memperoleh dan membangun infrastruktur penyiaran yang baru (peralatan transmisi, studio, cara pembuatan program baru), dan konsumen (membeli pesawat televisi baru dan set-top boks).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari sisi corporation interests, tentu saja perubahan ke digitalisasi penyiaran akan menjadi bisnis besar karena permintaan hardware penyiaran yang begitu tinggi. Dilihat dari sisi consumers interests, bagi mereka yang berpenghasilan besar tentu saja mereka mampu membeli perubahan teknologi ini karena mereka akan memperoleh kenikmatan dan kenyamanan baru. Namun bagi konsumen kecil, perubahan teknologi penyiaran harus mereka bayar mahal, terutama dikaitkan dengan penggantian pesawat televisi dan pembelian set-top boks. Meski pesawat televisi lama masih mampu menangkap sistem digital, namun berangsur-angsur mereka akan terpaksa membeli pesawat penerima televisi yang baru bila akan memperoleh kualitas siaran yang prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila persoalan social costs ini tidak dibahas secara terbuka, maka akan ada biaya politik yang harus dibayar mahal kelak di kemudian hari, mengingat public interests akan mewarnai perdebatan di kalangan politisi terutama akan masuk wilayah regulasi. Selama ini regulasi digitalisasi penyiaran di Indonesia hanya diatur lewat Peraturan Pemerintah, belum oleh Undang-Undang, sehingga kekuatan legalitasnya masih terbatas. Seolah-olah urusan digitaliasi penyiaran hanya milik Departemen Kominfo, bukan milik negara (state interests) dimana parlemen dan pemerintah harus sepakat tentang kebijakan public di bidang penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Kominfo sudah merencanakan pada tahun 2018 siaran tv analog sudah switch off.&lt;br /&gt;Di beberapa negara maju, AS misalnya, migrasi ke digital dibiayai negara. Di negara  yang masih miskin seperti Indonesia, siapa yang harus membiayai migrasi ke digital? Beberapa operator televisi menyebutkan, biaya migrasi harus dibayar masyarakat, sedangkan pendapat pemerintah tentang migrasi ini, selalu menyebutkan pemerintah tidak punya dana untuk membiayai migrasi ke digital, bahkan uji coba sistem digital beberapa waktu yang lalu dibiayai oleh vendor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang memikirkan dan bagaimana skenario aspek ekonomi dunia penyiaran Indonesia era digitalisasi? Ternyata tidak jelas siapa konseptornya. Permen Menteri Kominfo 21 Maret 2007 juga menetapkan bahwa rencana induk frekuensi penyiaran digital terrestrial, standarisasi perangkat penyiaran digital terrestrial, jadwal proses pelaksanaan peralihan (migrasi) dari sistem penyiaran analog ke sistem penyiaran digital termasuk masa transisi penyelenggaraan penyiaran analaoag dan digital secara bersamaan (simulcast periode) akan ditetapkan dengan Permen tersendiri. Kepada semua lembaga penyiaran jasa televisi terrestrial di Indonesia serta industri dan perdagangan terkait dapat mulai mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan peralihan (migrasi) dari sistem penyiaran analog ke sistem penyiaran digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu belajar dari keberhasilan dan kegagalan beberapa negara dalam melakukan migrasi dari sistem analog ke sistem digital. The best practices bisa menjadi rujukan, juga the worst practices bisa dipakai sebagai perbandingan dalam upaya menerapkan sistem baru ini, agar kita tidak masuk dalam “lubang” perangkap bisnis penyiaran global. Barangkali lembaga penyiaran swasta bermodal kuat siap untuk bermigrasi, bahkan lembaga penyiaran berlangganan di Indonesia telah ber-migrasi ke digital, namun bagaimana kemampuan lembaga penyiaran swasta lokal, lembaga penyiaran public dan lembaga penyiaran komunitas untuk bermigrasi mengingat broadcasting equipment mereka yang out of date and out of standard?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah plus minus digitalisasi penyiaran dilihat dari aspek ekonomi? Beberapa pakar penyiaran (Jurgen Von Hagen dan Paul Seabright dalam “The Economic Regulation of Broadcasting Markets”, 2007) menyebutkan beberapa perubahan fitur-fitur utama lanskap penyiaran yang baru:&lt;br /&gt;Sinyal-sinyal penyiaran dapat dienkripsi, sehingga memungkinkan operator penyiaran menghalangi orang-orang yang tidak membayar langganan set-top box kendati secara relative harganya murah. Penyiaran radio  tetap gratis tanpa bayar karena para pendengar relative enggan membayar sebagai pelanggan. Operator penyiaran televisi cenderung berniat untuk menghentikan siaran sebagai barang-barang public sehingga akan memaksa konsumen membelinya dengan harga tertentu. Namun masih banyak regulator yang tetap memilih untuk memasok siaran sebagai barang-barang public.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digitalisasi sinyal telah memungkinkan kompresi konten siaran ke dalam spectrum frekuensi yang tersedia. Kelangkaan spectrum tidak lagi merupakan hambatan bagi operator baru masuk pasar penyiaran.&lt;br /&gt;Digitalisasi juga memungkinkan karakteristik-karakteristik konten siaran yang menjadi perhatian penonton televisi - seperti kualitas gambar dan suara, ketepatan waktu, kaya tampilan multimedia - tergantung pada platform (satelit, kabel, terrestrial, computer) yang mentransmisikan konten siaran. Konten siaran yang ditransmisikan lewat platform satelit akan bersaing dengan operator penyiaran platform kabel. Konten siaran yang sama dapat ditransmisikan ke pesawat penerima televisi, ke computer, dan berangsur-angsur ke telepon genggam. Situs internet mampu menyediakan konten multi-media yang berangsur-angsur akan serupa dengan konten siaran yang disediakan oleh penyiaran tradisional (radio dan televisi), dan bahkan banyak operator menggunakan situswebnya sebagai portal mereka untuk menarik penonton dan memberikan mereka tambahan sumber-sumber informasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemrosesan dan transformasi konten oleh konsumen atau pengguna akhir menjadi lebih canggih lagi karena computer dan macam-macam piranti pemrosesan digital (DVD recorders) menjadi tersedia lebih luas bagi rumahtangga. Hal ini berarti meng-copy menjadi lebih mudah, sehingga membangkitkan isu tentang pembajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengecilnya biaya komputerisasi dan bentuk-bentuk lain pengolahan informasi dan biaya-biaya operasional teknik pembuatan program karena tersedia peralatan murah untuk mengambil dan memanipulasi suara dan gambar. Namun hal ini tidak serta merta menurunkan biaya total pembuatan program, karena masih banyak pos anggaran biaya lain yang akan meningkat, apabila akan menghasilkan kualitas program yang prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merumuskan ulang penyiaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para ahli di bidang kebijakan public berpendapat, bahwa selama ini regulasi penyiaran masih tetap bertumpu pada rasionalitas dan asumsi yang ketinggalan zaman, bahwa spectrum frekuensi radio dan kanal-kanalnya adalah sumberdaya yang terbatas. Namun dengan teknologi komunikasi yang baru, maka inovasi ini telah meruntuhkan asumsi lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, menurut para ahli public policies, adalah pengelolaan frekuensi  (spectrum management). Selama ini pengelolaan spectrum frekuensi dilakukan secara tidak efisien dan tidak efektif, termasuk di Indonesia (ada negara yang mengelola dengan bandwidth 6,7 dan 8 Mhz) yang terlalu boros dan royal. Memang setiap administrator punya alasan-alasan tertentu dalam pengelolaan spectrum frekuensi dikaitkan dengan kondisi kekhasan negaranya.&lt;br /&gt;Di masa lalu, sekarang, dan masa depan sebenarnya totalitas ketersediaan frekuensi di alam bebas secara universal tetap atau tak bertambah. Namun akal budi dan pengetahuan manusia telah mampu menemukan teknologi pembagian frekuensi secara lebih efisien dan efektif. (Ibaratnya besaran kuenya tetap, namun cara membaginya dengan ketebalan yang lebih adil, maka hasilnya makin lebih banyak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan digitalisasi penyiaran di Indonesia, maka kesimpulannya penting adalah cara membagi secara adil (efisien dan efektif) ketersediaan frekuensi di daerah-daerah layanan. The transparent and fair allocation and distribution; spectrum management and the manager; more efficient and effective use of available spectrum.&lt;br /&gt;Dikaitkan dengan konvergensi, atau meleburnya batas-batas antara telekomunikasi, penyiaran dan internet, regulasi penyiaran dan telekomunikasi juga diperhadapkan dengan situasi baru. Tradisi regulasi di Eropa, juga di Indonesia, ada pemisahan antara pengaturan penyiaran dan telekomunikasi. Namun dikaitkan dengan adanya jasa-jasa audiovisual yang lain (website dan video-on-demand) maka perdebatannya juga melebar, apakah jasa seperti ini masuk dalam yurisdiksi regulasi penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun jasa-jasa audiovisual seperti ini belum berkembang di Indonesia, namun kita perlu menetapkan kriteria dasar untuk merumuskan jasa-jasa apa yang masuk penyiaran dan jasa-jasa apa yang bukan penyiaran.&lt;br /&gt;Penyiaran senantiasa dirumuskan lebih dekat pada penekanan konsep komunikasi massa. Titik sentralnya adalah kemampuan teknologi (technological capacaity) yang secara serentak dan simultan menjangkau khalayak massa dan mentransmisikan program audiovisual yang telah ditetapkan sebelumnya. Kualitas program penyiaran mempunyai potensi untuk mempengaruhi perilaku dan opini public, sehingga dengan demikian penyiaran adalah jasa yang perlu lebih diatur oleh regulasi yang kuat, demi memelihara pluralisme dan melindungi konsumen dari kemungkinan manipulasi komersialitas yang tidak semestinya. Karena itu setiap lembaga pennyelenggara jasa penyiaran memerlukan izin dari regulator dan mematuhi aturan-aturan yang berkaitan dengan isi program siaran dan iklan komersialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya jasa-jasa audiovisual lainnya, pada intinya sesungguhnya adalah komunikasi individual. Konsumen atau pengguna secara personal punya inisiatif melakukan kontak dengan situsweb tertentu, bermain produk game tertentu, atau membeli produk online. Hal ini lebih bermakna bahwa perorangan melakukan aktivitas komersial semata, tidak punya potensi kuat mengganggu ranah public, sehingga disimpulkan bahwa jasa-jasa seperti ini tidak memerlukan izin atau berhadapan dengan batasan-batasan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perdebatan ini belum selesai dibicarakan oleh para penentu kebijakan dan pembuat regulasi, karena ukuran besaran massa (50, 500 atau 5 juta pemirsa) bisa disepakati sebagai parameter wilayah penyiaran atau internet. Karena di Jerman, misalnya, apabila klub Bayern Munchen bekerja sama dengan Youtube, menyiarkan pertandingan sepakbola, ini masuk regulasi apa? Atau apabila klub sepakbola Pelita Jaya bekerja sama dengan KompasTV di Internet untuk menyiarkan pertandingan sepakbola secara online, adakah regulasi yang mengaturnya? Apakah UU No 36/1999 tentang Telekomunikasi, atau UU No 32/2002 tentang Penyiaran, atau UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jakarta, 22 Oktober 2008.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-6110171497996381860?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/6110171497996381860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=6110171497996381860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6110171497996381860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6110171497996381860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/urgensi-dan-prospek-kebijakan-sistem.html' title='Urgensi dan Prospek Kebijakan Sistem Digitalisasi Radio-Televisi'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-83553324877150629</id><published>2008-12-13T01:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T01:33:13.342-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Uji Coba Siaran TV Digital Dimulai di Jabodetabek</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompas Tekno, Jumat, 8 Agustus 2008  18:16 WIB&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, JUMAT - Uji coba siaran televisi digital di Indonesia akan dimulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) pada 13 Agustus nanti. Hal itu dikatakan oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Mohamad Nuh dalan jumpa pers penjelasan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No 27/P/M.Kominfo/8/2008 tentang Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital di Gedung Depkominfo, Jakarta, Jumat (8/8).&lt;br /&gt;"Masyarakat yang mau menerima siaran digital ini harus dilengkapi dengan alat penerima tambahan yakni set top box pada pesawat televisinya," kata Menkominfo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan set top box ini adalah alat yang akan mengubah sinyal analog ke sinyal digital, maka pemerintah akan membagikan alat ini gratis sebagai uji coba dan bentuk sosialisasi awal.&lt;br /&gt;"Setahu saya pesawat televisi yang diproduksi setelah 2004, sudah dilengkapi dengan penerima sinyal digital, jadi alat ini dipakai untuk pesawat televisi yang dikeluarkan sebelum tahun tersebut," kata M.Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Dirjen Sarana Komunikasi dan Desiminasi Informasi Freddy H Tulung, saat ini masih berlangsung proses tender untuk penawaran penyedia set top box yang akan dibagikan gratis 800-900 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi pembagian ini hanya untuk 6-9 bulan masa uji coba, setelah itu ke depannya akan kita dorong tumbuhnya industri set top box dalam negeri yang menyediakan fitur seperti Early Warning System (EWS), pencatat rating, dsb," jelasnya.&lt;br /&gt;Set top box yang akan dibagikan, dibuat di Indonesia dengan bahan-bahan dari dalam negeri yang memuat fitur seperti alarm otomatis tanda bencana (EWS) dan telah siap diujicobakan.Teknologi yang digunakan dalam migrasi dari analog ke digital menggunakan standar broadcast Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) dengan alat penerima (codec) standar MPEG-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teknologi MPEG sudah ada versi 4, tapi dengan alasan ekonomis, kita pilih MPEG-2," tutur Freddy.Ia menjelaskan dalam uji coba nanti, pemerintah akan melakukan dua siaran tv digital dengan penerimaan tetap (free to air) untuk empat kanal frekuensi yakni 40, 42, 44 dan 46 UHF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uji coba free to air, pemerintah telah menetapkan sistem standar DVB-T, sedang untuk mobile TV akan menggunakan dua kanal yakni 24,26 UHF dengan menerapkan open standard," kata Freddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MYS&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-83553324877150629?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/83553324877150629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=83553324877150629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/83553324877150629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/83553324877150629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/uji-coba-siaran-tv-digital-dimulai-di.html' title='Uji Coba Siaran TV Digital Dimulai di Jabodetabek'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-7520049226201720102</id><published>2008-12-13T01:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T01:29:27.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Roadmap Migrasi ke TV Digital 10 Tahun</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompas Tekno, Jumat, 8 Agustus 2008  18:27 WIB &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, JUMAT - Roadmap yang telah disusun oleh pemerintah terkait kebijakan migrasi dari TV analog ke digital akan diberlakukan sekitar 10 tahun ke depan setelah semua infrastruktur siap termasuk stakeholder yang terlibat. Hal itu dikatakan Dirjen Sistem Komunikasi dan Diseminasi Informasi Freddy H Tulung saat jumpa pers di kantor Depkominfo, Jakarta, Jumat (8/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap pertama roadmap ini, dikatakan Freddy, akan dilakukan pada 2008-2012 untuk penghentian lisensi baru untuk TV analog dan mendorong penyelenggara infrastruktur TV digital. Pada 2013-2017 akan dilakukan penghentian siaran analog di sejumlah kota-kota besar dan intensifikasi siaran televisi digital.Sedangkan pada 2018, direncanakan seluruh tv analog tidak lagi beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kira waktu 8-10 tahun sudah cukup, tapi kalau dukungan dari stakeholder kuat, saya yakin tidak sampai 7-8 tahun sudah siap," katanya.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk uji coba yang akan dilangsungkan 13 Agustus nanti, menurut Freddy, Lembaga Penyiaran Publik (LPP) yang akan menyelenggarakan siaran yakni TVRI dan RRI dengan network provider PT Telkom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah bicarakan dengan Telkom mengenai persiapannya, untuk LPS (Lembaga Penyiaran Swasta) akan berbentuk konsorsium, tapi saat ini menurut stakeholder TV swasta masih melakukan konsolidasi internal untuk konsorsium tersebut," kata Freddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;MYS&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-7520049226201720102?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/7520049226201720102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=7520049226201720102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7520049226201720102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7520049226201720102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/roadmap-migrasi-ke-tv-digital-10-tahun.html' title='Roadmap Migrasi ke TV Digital 10 Tahun'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-1362350111421536400</id><published>2008-12-13T01:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T01:26:12.879-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Pemerintah Sediakan Rp1,2 M untuk Uji Coba TV Digital</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompas Tekno, Jumat, 8 Agustus 2008  23:12 WIB&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, JUMAT - Pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) telah menggangarkan dana untuk memulai uji coba TV digital pada 13 Agustus mendatang di wilayah Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi)."Kita menyediakan Rp1,2 miliar untuk ujicoba siaran digital," kata Menkominfo Muhammad Nuh disela-sela acara Indonesian ICT (Information and Communication Technologies) Award (INAICTA) di JCC Senayan, Jakarta, Kamis. Dana tersebut akan digunakan untuk menyediakan set-top box (semacam decoder yang mengubah sinyal siaran TV digital ke sinyal analog) dalam ujicoba siaran digital yang akan dibuat oleh industri dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyediaan set-top box itu akan ditenderkan dengan spesifikasi yang ditentukan Depkominfo. Ada lima perusahaan yang akan ikut tender, yakni PT Inti (Industri Telekomunikasi Indonesia), PT LEN, PT. Panasonic Gobel, PT Polytron Indonesia dan PT. Panggung Electric Citrabuana Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tender set-top box itu beauty contest dengan spesifikasi dari kita, jadi mana yang paling bagus, murah. Bisa 1.000 sampai 5.000 unit set-top box," jelasnya. Menkominfo mengatakan jumlah set-top box yang dibuat untuk ujicoba siaran digital ini tergantung dari penawaran dari para peserta tender. Depkominfo sendiri memberi spesifikasi set-top box yang mempunyai tiga kemampuan yaitu mengkonversi siaran analog ke digital, untuk Sistem Peringatan Dini Bencana (Early Warning System), dan pendeteksian/monitoring siaran TV yang dilihat pemirsa. Monitoring siaran TV yang dilihat masyarakat melalui set-top box ini berguna bagi pemerintah untuk membuat kebijakan mengenai penyiaran misalnya untuk mengetahui rating suatu acara televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuh mengatakan ujicoba siaran TV digital yang direncanakan diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla akan dilakukan selama setahun baik untuk siaran TV terestrial maupun siaran TV bergerak (mobile). Menkominfo menargetkan siaran digital dapat dilakukan secara penuh di seluruh Indonesia pada 2011 atau 2012.Nuh mengatakan keuntungan menggunakan teknologi siaran digital yaitu penggunaan kanal dan frekuensi yang lebih efisien dan optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada analog, satu kanal hanya untuk satu siaran, dengan digital satu kanal bisa untuk empat siaran tv tergantung multiplexer," kata Nuh. Bila siaran digital telah diimplementasikan, Nuh mengatakan pemerintah akan mengkhususkan satu kanal untuk siaran pendidikan."Kanal ini bisa dimasuki oleh Pustekkom Diknas (Depdiknas) yang mengembangkan konten pendidikan tapi belum bisa berperan lebih karena belum mempunyai slot frekuensi untuk siaran," kata Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depkominfo sendiri telah mengeluarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 07/P/M.KOMINFO/3/2007 tanggal 21 Maret 2007 tentang Standar Penyiaran Digital Terestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia, yaitu ditetapkan bahwa standar Digital Video Broadcasting for Terrestial (DVB-T) sebagai standar penyiaran televisi digital teresterial tidak bergerak di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data saat ini di Indonesia terdapat 11 TV berizin siaran nasional, 97 TV berizin regional, 30 TV berlangganan (60 persen TV kabel, 20 persen satelit dan 20 persen Terestrial) serta ada sekitar 300 izin baru yang tak terlayani karena sudah tak tersedia lagi kanal TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dengan siaran TV digital, setiap satu kanal yang lebarnya 7-8 MHz bisa dipakai oleh enam program siaran TV, sehingga selain terjadi optimasi frekuensi juga optimasi bandwidth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;WAH&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-1362350111421536400?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/1362350111421536400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=1362350111421536400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/1362350111421536400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/1362350111421536400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/pemerintah-sediakan-rp12-m-untuk-uji.html' title='Pemerintah Sediakan Rp1,2 M untuk Uji Coba TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-6913318986786561694</id><published>2008-12-13T01:17:00.000-08:00</published><updated>2009-06-30T21:00:24.928-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IPTV'/><title type='text'>Quality Of Service Pada IPTV</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Broadcast Media, Edisi 07/THN.I/Desember-Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan peradabannya, kebutuhan manusia dalam berinteraksi dengan pesawat televisi telah berevolusi secara cepat dan saat ini memasuki fase baru dimana televisi bukan hanya untuk ditonton namun bisa diajak berinteraksi secara personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV telah memasuki era dimana personality dan interactivity telah disajikan dengan semakin optimal. Pemirsa telah dipermudah untuk dapat meminta TV mengerti kebutuhan dan keinginannya. Interaksi personal dua arah sudah mulai secara mudah dilakukan. Hal ini dapat terjadi tidak lain karena begitu cepatnya perkembangan teknologi televisi digital berbasis Internet Protokol, yaitu IPTV (Internet Protocol Television).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interactivity dan Personality&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi IPTV memungkinkan pemirsa berinteraksi dengan pesawat TV karena kita yang sebelumnya dianggap sebagai penonton, saat ini mulai dianggap sebagai “mitra” yang dikenal secara personal oleh penyelenggara siaran TV. Keberadaan, keinginan, kebutuhan dan rencana kita dapat dicatat, dijadwalkan dan kemudian dipenuhi dengan segera oleh operator IPTV tersebut. Kita dapat dianggap sebagai pribadi special yang memiliki keinginan khusus dan setiap saat dapat dilayani oleh stasiun penyelenggara siaran TV tersebut. Bahkan kita juga dapat melakukan koreksi, pooling, rating dan voting sampai dengan usulan perbaikan program yang kita tonton secara realtime, pada saat acara sedang berlangsung. Begitu tingginya tingkat personality nya memungkinkan IPTV ini menjadi pilihan menarik bagi para penikmat siaran TV di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologinya tidak lepas dari keberhasilan para insinyur dalam merekayasa signal audio dan video yang awalnya berformat analog (linear) menjadi format digital (non linear), yang dikenal dengan digitalisasi. Dalam proses ini dilakukan pemrosesan gambar video menjadi elemen-elemen gambar (picture element) dengan ukuran lebih kecil sebelum diproses lebih lanjut. Hal ini memungkinkan pengolahan gambar dengan lebih sempurna khususnya karena dapat dilakukan proses deteksi dan koreksi kesalahan (error detection and correction) bila terjadi kegagalan dalam proses pengolahan signal, untuk mengembalikan sinyal yang rusak ke bentuk aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Digitalisasi, tidak lain adalah untuk mendapatkan efisiensi dalam banyak hal antara lain efisiensi spectrum frequency, network transmission, transmission power dan consumption power. Disamping itu untuk meingkatkan kualitas dan stabilitas antara lain agar signal bebas interferensi, derau fading, resolusi menjadi lebih tajam, gambar dan suara lebih stabil dan dimungkinkannya recovery terhadap gangguan transmisi (Error correction).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini beberapa bidang kehidupan sedang mengalami proses migrasi ke teknologi digital dengan tujuan untuk mendapatkan efisiensi dan optimalisasi. Antara lain digitalisasi bidang penyiaran dan digitalisasi bidang telekomunikasi. Dalam implementasinya ditandai dengan pemanfaatan Jaringan IP misalnya VoIP (Voice over IP) dan IPTV. Perubahan ini mempengaruhi pola penggunaan open protokol yang selama ini rawan gangguan, menjadi “Virtual Private” dan “Secured” sehingga semakin banyak dapat digunakan dalam berbagai aplikasi khusus misalanya perbankan, militer dan bisnis. Ditandai pula dengan meningkatnya tantangan pada QoS (Quality of Services), Interoperability, User mobility dan Network Management yang merupakan jantung dari keberhasilan system digital tersebut. Disamping itu di bidang regulasi juga ditandai dengan perubahan dari Fully Regulated (PSTN, TV Analog) menjadi Less Regulation (NGN, WiFi, WiMax, IPTV), yang mengharuskan pemerintah harus bertindak extra hati-hati dan bijaksana dalam menerapkan peraturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim regulasi Terpisah yang selama bertahun-tahun belakangan ini dijadikan pegangan, cepat atau lambat akan berubah menjadi regulasi yang konvergensi / terpadu. Begitu pula cara penghitungan tarif yang selama ini dianut misalnya frequency based mulai berubah menjadi bit stream based. Hal ini juga ditandai dengan terjadinya migrasi Layanan menuju Multimedia Broadband Service.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Tertutup dan dan Aman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Internet TV yang menggunakan jaringan internet publik yang bersifat terbuka, dimana setiap orang dapat menjadi bagian dari jaringan internet tersebut tanpa harus diketahui identitas oleh operatornya, IPTV merupakan solusi layanan pengiriman audio, video dan data melalui IP yang bersifat tertutup (closed circuit) dan proprietary (kepemilikan khusus) dan memiliki kemampuan mengirimkan chanel-chanel layanan audio video dan data yang bersifat secured (aman) sebagaimana yang terjadi di layanan cable TV saat ini. Hanya pelanggan yang terdaftar saja yang dapat menikmati layanannya. Distribusi konten pada IPTV ini dikontrol oleh operatornya dengan sangat ketat.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SUmhPV4bzrI/AAAAAAAAACs/INJe9j1xMWo/s1600-h/IPTV+Diagram.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280929323012574898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 194px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SUmhPV4bzrI/AAAAAAAAACs/INJe9j1xMWo/s320/IPTV+Diagram.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Layanan IPTV merupakan layanan yang bersifat inherently resource–intensive, yang memiliki fluktuasi kebutuhan (bandwidth) yang relatif tidak dapat diprediksi dan dalam suatu saat dapat memiliki tingkat concurrency (permintaan program secara bersamaan) yang tinggi. Service provider harus melakukan beberapa asumsi dalam menjalankan layanan, agar tetap dapat menjaga kepuasan pelanggannya. Asumsi tersebut antara lain VOD (Video on Demand) / Unicast Concurrency yaitu karena VOD memiliki direct effect terhadap jumlah traffic yang terjadi pada jaringan transmisi, kenaikan 10% pada VOD misalnya akan mengakibatkan traffic unicast video naik sekitar 20%. Dalam hal ini VOD menjadi major variable pada perencanaan jaringan dan reliable service delivery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi lainnya adalah Broadcast Channel Concurrency yaitu jumlah broadcast channel yang ditonton oleh pelanggan akan sebanding dan mempengaruhi multicast replication pada jaringan. Asumsi HD Content Growth yaitu pertumbuhan jumlah content HD akan dapat menjadi indikasi deferentiation layanannya. Disamping itu asumsi lainnya adalah STB Proliferation, dimana jumlah STB per household dan beberapa features seperti multi channel viewing for PiP dan multi-angle viewing menjadi faktor yang dapat meningkatkan kebutuhan bandwidth. Network-based intelligence dan quality of service (QOS) mechanism seperti hierachical QOS (H-QOS) sangat diperlukan untuk mengantisipasi dynamic real-time traffic change, yaitu perubahan lalulintas aliran data yang dapat berubah setiap saat. Untuk itulah diperlukan fasilitas QoS yang sangat ketat. Dalam aplikasinya, layanan IPTV ini merupakan geographically-bound approach yaitu dibutuhkan pendekatan regulasi khusus yang bersifat geografis, dan diperlukan regulasi dan kebijakan bersifat lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPTV menjadi menarik karena memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki layanan lainnya. Beberapa feature menarik antara lain Personalized e-commerce yang memungkinkan pengiklan (penjual), pelanggan (calon pembeli) dan operator (penyedia layanan iklan) dapat berinteraksi secara personal, terbuka dan relatif tidak terbatas berkenaan dengan product yang ditawarkan dan diperjualbelikan. Feature ini memungkinkan diperolehnya more targeted advertising yang tidak diperoleh dalam layanan lainnya seperti Cable TV, DTH (Direct To The Home), Digital Terrestrial TV dan Mobile TV. Kelebihan lainnya adalah menurunnya peluang bagi theft dan piracy yang merupakan masalah klasik yang sulit dihindari khususnya untuk mengurangi kerugian finansial bagi produser dan content provider.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pelanggan, feature personality dan interactivity merupakan faktor yang paling dominan, yang merupakan superiority layanan ini terhadap layanan multimedia lainnya. Sifat IPTV yang mampu melakukan "Push" dan "Pull" &lt;em&gt;content&lt;/em&gt; memungkinkan pelanggan disamping dapat menikmati program yang sedang disiarkan oleh operator, juga dapat memesan video, musik kesayangannya dan layanan aplikasi khusus lainnya kapan saja setiap saat yang diinginkan, bahkan jauh hari sebelum hari H, kita sudah dapat memprogram keinginan kita untuk memperoleh layanan spesial dari sang operator. Dan bila layanan tersebut kurang memuaskan, maka secara pribadi kita bisa memberi saran, kritikan atau masukan kepada operator yang dengan mudah dapat memenuhinya sesuai keinginan tersebut, hal itu dimungkinkan antara lain karena adanya feature polling, rating dan vote dalam program layanan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak dikenal dua jenis layanan IPTV yaitu SD (standar definision) dan HD (high definision). SD-IPTV menggunakan video compression berbasis MPEG-2, MPEG-4 Pt.10, H.264 AVC (advanced Video Coding) atau VC-1. Data rates yang diperlukan berkisar 1 – 2 Mbps, sehingga dapat disalurkan menggunakan jaringan ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line), ADSL2, FTTP (fiber to the home) dengan feature BPON / GPON (Broadband / Gigabit Passive Optical Networks). Sementara itu HD-IPTV juga menggunakan video compression berbasis MPEG-2, MPEG-4 Pt.10, H.264 AVC atau VC-1, memerlukan data rates relatif lebih tinggi yaitu antara 8 – 20 Mbps, sehingga hanya dapat disalurkan menggunakan ADSL2+ atau VDSL2 (Very High Data Rate Digital Subscriber Line) dan FTTP dengan fasilitas BPON/GPON.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiapan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah dibahas di bagian sebelumnya, dari segi teknologi mungkin bukan merupakan isu yang mengkhawatirkan, karena cepat atau lambat teknologi tersebut akan atau sudah masuk ke peradaban masyarakat kita. Apalagi di Indonesia sudah terdapat jaringan berbasis ADSL yang digelar oleh PT Telkom, yang dikenal dengan nama Telkom Speedy, disamping FTTH yang sudah digelar luas oleh beberapa operator seperti XL, Biznet, Indosat, Lintas arta dll. Yang menjadi persoalan adalah apakah masyarakat kita sudah siap meghadapi perkembangan tersebut? Apakah kemajuan masyarakat kita sudah dapat sebanding dengan kemajuan teknologi tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang akan menjadi ironi bila masyarakat kita belum siap, karena kita yang seharusnya dapat menguasai teknologi, justru akan menjadi dikuasai oleh teknologi. Seperti yang terjadi saat ini, dimana perkembangan teknologi komunikasi seluler begitu merambah masyarakat kita, menohok sampai ke pelosok pedesaan. Kelihatan bahwa masyarakat kita belum siap, skala prioritas kebutuhan penggunaan HP seakan sudah mulai ditempatkan dalam skala yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari kebutuhan akan sandang dan papan sekalipun. Itu yang dapat kita amati dari gaya hidup sebagian masyarakat kita baik di perkotaan dan pinggiran, dimana dengan penghasilan relatif masih rendah namun kemana-mana sudah menenteng HP keluaran terbaru dengan harga dan tingkat penggunaan / percakapan lumayan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi perkembangan teknologi teknologi tersebut, masyarakat harus benar-benar siap agar tidak terjadi peningkatan kejahatan dan atau perilaku negatif lainnya di masyarakat akibat dampak perkembangan teknologi ini. Karena disamping siaran TV para pelanggan IPTV juga dapat menikmati internet, sehingga solusi layanan ini dapat mempengaruhi perilaku masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini peran pemerintah menjadi sangat strategis, untuk melakukan pengawasan dan pengamanan berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi. Seperti yang sedang dilakukan pemerintah (Depkominfo) dalam menyiapkan instrumen regulasinya, yang bertujuan untuk mengamankan dan melindungi kepentingan publik dalam menyelenggarakan layanan bisnis berbasis ICT ini. Dalam bebrbagai diskusi disampaikan bahwa pemerintah telah berencana untuk mematok, agar untuk bisa menjadi operator IPTV paling tidak harus memiliki 3 ijin sekaligus, yaitu ijin LPB (Lembaga Penyiaran Berlangganan), ISP (Internet Service Provider) dan Jartaplok (Jaringan Tetap Lokal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini seperti yang juga telah dilakukan dalam penanggulangan Insiden Keamanan pada Infrastruktur Informasi Indonesia, dengan pembentukan team ID-SIRTII (Indonesia-Security Incident Response Team on Information Infrastructure), yang diketuai oleh DR. Richardus Eko Indrajit, salah satu pakar TI Indonesia, dan beranggotakan oleh beberapa tokoh yang sangat ahli dan berpengalaman di bidang TI, yang bertujuan untuk mengamankan dan melindungi infrastruktur TI demi kepentingan publik, pemerintah, pendidikan dan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang konten, sudah semestinya peran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) lebih tajam dan tegas, dalam mengawasi dan mengamankan industry penyiaran di Indonesia. Apalagi menjelang diimplementasikan IPTV yang berkonsekuensi pada berlipat gandanya jumlah siaran yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Lebih-lebih dimungkinkannya solusi IPTV melalui TV bergerak (Mobile Television) yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan televisi di manapun di sela-sela aktivitas sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi QoS bisa bermakna multi dimensi, baik dari segi kualitas signalnya, kualitas layanan, maupun kualitas isi siarannya. Peran pemerintah sebagai moderator, mediator dan regulator sangat dinantikan agar setiap adanya perkembangan teknologi dapat diminimalisasi dampak negatifnya terhadap masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, Pengamat Konvergensi multimedia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-6913318986786561694?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/6913318986786561694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=6913318986786561694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6913318986786561694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6913318986786561694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/quality-of-service-pada-iptv.html' title='Quality Of Service Pada IPTV'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SUmhPV4bzrI/AAAAAAAAACs/INJe9j1xMWo/s72-c/IPTV+Diagram.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-8563115392312364794</id><published>2008-12-13T01:14:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T01:17:35.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IPTV'/><title type='text'>IPTV Masih Terganjal Regulasi di Indonesia</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompas Tekno, Jumat, 12 Desember 2008  23:21 WIB &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG, JUMAT — Internet protocol television atau IPTV saat ini sudah banyak diaplikasikan di luar negeri. Namun, untuk dipasarkan di Indonesia masih terganjal proses regulasi dan kesiapan infrastruktur. Demikian dikatakan Head of Solution Architect Ericsson Indonesia, Hindra Irawan, dalam demo IPTV di Hotel Mason, Kota Parahyangan, Bandung Barat, Jumat (12/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai saat ini regulasi di Indonesia belum ditetapkan secara jelas oleh pemerintah. Karena dari segi kemampuan IPTV masuk dalam kategori telekomunikasi, untuk konten masuk dalam kategori penyiaran, dan untuk segi teknologi masuk dalam kategori internet. Terserah pemerintah mau mengizinkan di mana," ujar Hindra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, untuk menggelar IPTV memerlukan wire (sambungan) internet sebesar 12 Mbps per channel. Hindra memperkirakan sampai sekarang belum ada respons positif dari operator-operator telekomunikasi untuk menerapkan IPTV dikarenakan mereka masih belum ada regulasi yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengguna IPTV sendiri harus ditunjang oleh sebuah alat yang dinamakan set top box (STB) yang fungsinya sebagai interface antara pelanggan dan sistem. "User bisa menggunakan remote untuk mengontrol sistem yang ada di STB yang menyerupai dekoder," lanjut Hindra. Di set top box-nya sendiri terdapat satu Java Virtual Machine, recorder, internet browser, chatting, serta hard disk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, layanan IPTV berbeda dengan multimedia booth yang terpasang di Bandara Soekarno-Hatta. "Karena IPTV yang ada di Bandara Soekarno-Hatta semata-mata hanya mengirimkan gambar melalui IP dan tidak seperti definisi IPTV Ericsson," ujarnya.&lt;br /&gt;IPTV juga berbeda dengan web TV. Untuk IPTV membutuhkan bandwidth yang besar dengan kualitas gambar mulus dan tidak patah-patah. Sedangkan web TV hanya membutuhkan bandwidth kecil sekitar 128 Kbps dan kualitas gambar lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, IPTV minimal dilengkapi dengan STB yang dilengkapi internet protocol multimedia system (IMS) yang mengombinasikan antara mobile internet dan konten broadcast. Untuk infrastruktur yang direkomendasikan oleh Ericsson, setiap pelanggan harus mendapat akses internet dengan kecepatan minimal 12 Mbps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, di luar negeri tarif pengguna IPTV tidak jauh berbeda dengan TV kabel karena nantinya IPTV juga diharapkan akan bersaing dengan TV kabel. IPTV tidak hanya dapat mengatur kanal yang boleh dilihat atau tidak namun juga dapat memberikan alert kepada pengguna mengenai jadwal televisi melalui ponsel. Pengguna juga dapat mengatur perekaman acara yang diinginkan lebih bebas. "Untuk pembayarannya bisa berupa billing, pascabayar atau bisa juga prepaid/prabayar," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia sampai saat ini sudah ada sekitar 4 juta pemakai IPTV di Amerika, Eropa, dan sebagian Asia. Untuk saat ini, sebenarnya belum ada standardisasi set top box karena sampai sekarang STB masih disesuaikan dengan sistem yang ada di negara yang menyelenggarakan IPTV.&lt;br /&gt;"Karena itu diselenggarakan IPTV forum di mana Ericsson selaku pemrakarsanya. Ke depan semoga ada standardisasi STB sehingga menjadi kompatibel dengan semua sistem," ujarnya. Pembautan STB juga memungkinkan dengan menjalin kerja sama dengan vendor lokal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-8563115392312364794?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/8563115392312364794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=8563115392312364794' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8563115392312364794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/8563115392312364794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/iptv-masih-terganjal-regulasi-di.html' title='IPTV Masih Terganjal Regulasi di Indonesia'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-5916027920618172898</id><published>2008-12-13T01:02:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T01:04:19.117-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Wapres: TV Digital, Teknologi Lebih Baik...</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kompas TV, Rabu, 13 Agustus 2008, 20.35 WIB &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan peluncuran siaran TV digital di stasiun TVRI, Jakarta, Rabu (13/8). Peluncuran siaran TV digital ini merupakan tonggak awal dimulainya sistem penyiaran digital di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem TV digital sendiri memiliki keunggulan diantaranya, memiliki kualitas penerimaan yang lebih baik dan satu kanal frekuensi bisa digunakan untuk menyiarkan lebih dari satu program siaran TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, JK juga menekankan agar stasiun TV dapat memberikan tayangan pendidikan dan hiburan yang sehat. Dengan adanya siaran TV digital diharapkan kedepannya Indonesia bisa semakin maju dalam hal pemberian informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Rep/Kam:Alam  Penulis:Syarif  VO:Maya  Editor Video:Dinda&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-5916027920618172898?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/5916027920618172898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=5916027920618172898' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5916027920618172898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5916027920618172898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/wapres-tv-digital-teknologi-lebih-baik.html' title='Wapres: TV Digital, Teknologi Lebih Baik...'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2223338038298033363</id><published>2008-12-13T00:58:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T01:04:42.020-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soft Launching TV Digital'/><title type='text'>Menkominfo Giatkan TV Digital</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Kompas TV, Kamis, 14 Agustus 2008, 13.48 WIB&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:openWindow();"&gt;&lt;/a&gt;Era TV digital segera dimulai di Indonesia. Dimana, TV digital nantinya akan memberikan kualitas yang menonjol dalam menerima kualitas frekuensi dan kanal dibandingkan dengan TV analog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Komunikasi dan Informasi M. Nuh menyatakan sistem teknologi TV digital memberikan keuntungan dalam penggunaan kanal dan frekuensi yang lebih efesien dan optimal.Pada analog TV, satu kanal hanya untuk satu siaran, dengan TV digital satu kanal bisa untuk empat siaran TV. Dan, bila siaran TV digital telah diimplementasikan, Nuh juga menyatakan pemerintah akan mengkhususkan satu kanal untuk siaran pendidikan, pelayanan publik yang non komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depkominfo sendiri telah mengeluarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 07/P/M.KOMINFO/3/2007 tanggal 21 Maret 2007 tentang Standar Penyiaran Digital Terestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Reporter/Kameramen:Alam l Penulis: Syariful l VO:Maya l Editor Video:Ucup &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2223338038298033363?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2223338038298033363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2223338038298033363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2223338038298033363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2223338038298033363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/menkominfo-giatkan-tv-digital.html' title='Menkominfo Giatkan TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-4681661042508304509</id><published>2008-12-07T19:51:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T17:52:25.333-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Radio Digital'/><title type='text'>Era Radio Digital</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCBtNnpPTI/AAAAAAAAADs/LMjJAylU0H0/s1600-h/Radio+Studio.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309886574419852594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCBtNnpPTI/AAAAAAAAADs/LMjJAylU0H0/s200/Radio+Studio.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Broadcast Media, Edisi 05/THN.I/Oktober-November 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Radio AM maupun FM yang saat ini hanya dapat menyiarkan layanan suara (audio) saja, dalam waktu dekat dapat memberikan layanan lain berupa gambar dan data secara simultan. Hal tersebut dimungkinkan dengan telah lahirnya teknologi digital radio, Layanan tersebut bisa berupa informasi berita, kepadatan lalulintas dan kecelakaan lalu lintas disertai gambar, informasi pemutaran film, informasi kegiatan, laporan cuaca, layanan games, dan lain sebagainya. Hal ini memungkinkan radio benar-benar menjadi sebuah ”perangkat pribadi” dengan segala fasilitas infotainment di dalamnya. Disamping diperoleh layanan audio dengan kualitas yang jauh lebih tinggi, juga dapat diperoleh tambahan berbagai pilihan dan pengaturan layanan secara individual dan mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Digitalisasi radio lebih jauh adalah untuk memperoleh efisiensi Spectrum Frequency, Network Transmission, Transmission Power dan Consumption Power. Serta untuk memperoleh peningkatan kualitas dan stabilitas signal sehingga bebas interferensi, derau dan fading, resolusi audio menjadi lebih tajam, suara menjadi lebih stabil, dimungkinkan recovery terhadap gangguan transmisi (error correction) serta peningkatan kompatibilitas berupa signal Interoperability dan pengembangan ubiquitous device sebagai pesawat penerimanya disamping diperolehnya peningkatan skalabilitas dari Mono, Stereo menjadi AES-EBU dan bahkan menjadi HD (high definition) Radio.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/STybZgWvh2I/AAAAAAAAACM/UDS9QKUCo_A/s1600-h/DAB+Spectrum.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277263725855737698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 251px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/STybZgWvh2I/AAAAAAAAACM/UDS9QKUCo_A/s400/DAB+Spectrum.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa yang pernah ditulis oleh Albert Einstein : ”Everything should be made as simple as possible, but not simpler” seakan menjadi kenyataan, radio ternyata dapat menjadi media yang lebih powerful dari sekedar pengirim suara biasa. Dan seperti apapun bentuk informasi baik suara, gambar dan data menjadi lebih mudah untuk dipancar kirimkan secara cepat dan akurat dari satu tempat ke tempat lainnya melalui media yang sudah sangat dikenal dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini beberapa Broadcaster di Indonesia khususnya yang menggeluti bisnis radio AM dan FM sudah mulai mempersiapkan pengembangan radio berbasis teknologi digital ini. Hal itu berkaitan dengan dapat diperolehnya suatu nilai tambah apabila digunakan teknologi digital tersebut. Betapa tidak, hanya dengan menambah sedikit investasi, sudah bisa menyandang predikat ”Radio Digital Modern” dengan segala kemewahannya yang berkonsekuensi logis pada peningkatan kesetiaan pendengarnya serta tambahan pundi-pundi income nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tidak seperti industri TV dimana migrasi ke digital merupakan suatu urgensi dan bahkan suatu kewajiban, di industri Radio, migrasi ke digital ini merupakan satu pilihan, karena diyakini teknologi FM merupakan teknologi yang sangat mature dan relatif sempurna dilihat dari kualitas signal audio yang dipancarkan dan harga perangkat penerimanya yang sangat murah.&lt;br /&gt;Urgensi pengembangan radio digital ini lebih banyak dilatarbelakangi oleh terjadinya kepadatan penggunaan frekuensi di jalur FM, yang dipicu oleh euforia otonomi daerah dan tumpang tindihnya kewenangan pemerintah pusat (Depkominfo), Pemerintah Daerah (Dinas Perhubungan) dan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) / KPID (KPI-Daerah). Hal ini mengakibatkan beberapa radio AM dan FM baru, dapat dengan mudah bersiaran hanya dengan mengantongi ijin dari Dinas Perhubungan tanpa harus mengantongi ijin dari Depkominfo, sehingga sangat berpeluang menimbulkan penyimpangan alokasi frequency sebagaimana yang sudah direncanakan dalam Masterplan Frequency oleh Depkominfo. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di era Radio Digital, efisiensi penggunaan kanal frekuensi akan menjadi jauh lebih tinggi karena satu kanal frekuensi dengan lebar yang sama dengan satu kanal radio analog, dapat menampung program siaran yang lebih banyak. Disamping itu penerapan sistem penyiaran digital akan sangat mendukung terjadinya era konvergensi multimedia, dimana penyelenggara siaran radio tidak perlu lagi menyiapkan dan membangun infrastruktur jaringan transmisi sendiri seperti FM transmitter, menara pemancar, saluran transmisi dan antenna, karena dengan mudah dan murah dapat mengirimkan program siarannya melalui lembaga penyedia jaringan transmisi (Network Provider) yang nantinya dapat berupa Telecom Operator, ISP (Internet Service Provider), Television Network Provider maupun Radio Network Provider. Dari sisi pelanggan, diperoleh manfaat dapat diterimanya siaran radio melalui portable device seperti handphone, PDA (Personal Digital Assistance) dan dalam waktu dekat akan muncul perangakat baru bernama ubiquity device dimana dengan pesawat tersebut, kita dapat menerima dan menggunakan segala macam layanan multimedia seperti radio, TV, Internet, Cellular communication kapan saja dan dimana saja.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/STybmsFiUdI/AAAAAAAAACU/3wFq5885Ta0/s1600-h/DAB+Network.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277263952343093714" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 356px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/STybmsFiUdI/AAAAAAAAACU/3wFq5885Ta0/s400/DAB+Network.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa standar digital radio yang sudah diperkenalkan, yaitu DAB (Digital Audio Broadcasting), DAB+, DRM (Digital Radio Mondiale) yang keduanya merupakan standar yang mengacu pada teknologi yang berasal dari Eropa, sedangkan DRM+, IBOC (In-Band On-Channel) dari Amerika Serikat dan ISDB-TSB (Integrated Services Digital Broadcasting – Terrestrial Sound Broadcasting) merupak standar radio digital dari Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi DAB yang juga dikenal dengan Eureka 147, telah dikembangan sejak awal tahun 1980 an, yang awalnya diadopsi oleh beberapa negara di Eropa, saat ini sudah diadopsi oleh lebih dari 40 negara di dunia. Pesawat penerima DAB sudah tersedia di pasar sejak pertengahan 1998 dan saat ini harganya sudah menjadi sangat rendah yaitu di bawah USD25 (sekitar Rp. 230.000,-). Teknologi berbasis MPEG-1 Audio Layer II audio codec ini dikembangkan dan dikoordinasikan oleh WorldDMB. Dalam perkembangannya pada November tahun 2006 dikembangan teknologi DAB+ yang lebih sempurna yang berbasis HE-AACv2 audio codec, yang juga dikenal sebagai eAAC+. Dilengkapi dengan MPEG Surround format, dan memiliki error correction coding yang lebih kuat bernama Reed-Solomon coding. Walaupun DAB dan DAB+ tidak bisa dipergunakan dalam aplikasi mobile TV karena tidak dilengkapi video codecs, namun teknologi ini menjadi dasar bagi pengembangan DMB Digital Multimedia Broadcasting dan DAB-IP, keduanya dikembangakan di Korea, yang dapat dipergunakan sebagai mobile radio dan mobile TV, karena dilengkapi dengan teknologi video codec yaitu MPEG 4 AVC untuk DMB dan WMV9 untuk DAB-IP. DMB video sub-channel dapat dengan mudah ditambahkan kepada setiap DAB transmission. &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/STybIhy5qkI/AAAAAAAAACE/scX8hJRUveM/s1600-h/Digsoundbroadcasting.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277263434184501826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 208px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/STybIhy5qkI/AAAAAAAAACE/scX8hJRUveM/s400/Digsoundbroadcasting.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi DAB dapat bekerja pada frequency Band III VHF (Very High Frequency) 174-216MHz yang saat ini dipergunakan oleh siaran TVRI dan beberapa TV swasta khususnya di kawasan Indonesia timur. Satu kanal VHF setara dengan kanal yang dipergunakan satu program TVRI saat ini, dapat dibagi menjadi 4 sub kanal berlebar pita 1.536 MHz, yang masing-masing dapat diisi sampai 10-16 program siaran radio, sehingga total satu kanal VHF dapat menampung sekitar 40 - 64 program radio. Penambahan Multimedia Processor berteknologi DMB pada jaringan DAB ini, akan membuat operator mampu mengirim signal Video yang akan memungkinkan diterimanya signal Televisi penerimaan bergerak pada sisi pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan bagi penyedia layanan dan pemasang iklan, antara lain akan memperoleh alternatif format isi dan jenis iklan yang lebih inovatif, variatif, flexible, informatif dan dapat mengoptimalkan koneksi dan komunikasi kepada pendengarnya. Sehingga fungsi radio sebagai media ‘komunikasi massa’ menjadi lebih kental dan optimal. Lalu, dapatkah dominasi radio FM digantikan oleh radio Digital? Mari kita tunggu dan kita nilai bersama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, Pengamat konvergensi teknologi dan Multimedia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-4681661042508304509?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/4681661042508304509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=4681661042508304509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4681661042508304509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/4681661042508304509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/era-radio-digital.html' title='Era Radio Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SbCBtNnpPTI/AAAAAAAAADs/LMjJAylU0H0/s72-c/Radio+Studio.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-6210256047255228638</id><published>2008-12-07T02:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-07T03:12:43.005-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Mengenal TV Digital</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Restituta Ajeng Arjanti, wawancara dengan Prof. Ir. Gamantyo Hendrantoro, MEng, PhD,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kantor berita Antara, 27 Mei lalu, melansir berita bahwa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mempersiapkan migrasi pemancar siaran dan perangkat televisi analog ke digital. Targetnya, proses tersebut bakal rampung pada tahun 2015, untuk seluruh Indonesia. Gaung tentang televisi digital sudah sering diperdengarkan. Teknologinya pun bukan hal baru. Meski begitu, masih banyak orang yang belum paham tentangnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Standar TV DigitalAda beberapa standar teknologi TV digital yang dikenal saat ini. Saat dihubungi QBHeadlines.com Kamis (19/6) lalu, Gamantyo Hendrantoro, Kepala Lab Antena dan Propagasi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), membagi pengetahuannya seputar teknologi TV digital.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menurut Gamantyo, pada dasarnya ada tiga standar utama TV digital, yakni Advanced Television Systems Committee (ATSC) yang berasal dari Amerika, Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T) dari Eropa, dan Integrated Service Digital Broadcasting Terrestrial (ISDB-T) dari Jepang. Tapi kemudian, muncul beberapa varian standar dari Korea dan China. Masing-masing standar memiliki sistem transmisi yang berbeda.“Pemerintah baru memutuskan untuk menggunakan standar penerima yang fixed, tidak bergerak, yakni DVB-T,” tutur Gamantyo saat ditanya tentang standar TV digital yang rencananya akan diimplementasikan di Indonesia. “Belum ada keputusan tentang penggunaan teknologi TV digital yang bergerak,” katanya. Menurutnya, standar tersebut dipilih dengan alasan teknis, karena sudah diterapkan oleh banyak negara. Jika ada kesulitan dalam implementasinya, akan lebih mudah untuk diatasi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat ini, sudah ada banyak layanan TV berlangganan. Apakah siaran TV semacam itu bisa dikatakan sebagai siaran TV digital? “Jika siaran TV berlangganannya menggunakan sinyal yang berasal dari satelit, itu bisa disebut sebagai TV digital,” kata Gamantyo. “Standar yang digunakan untuk siaran TV satelit itu berbeda dengan DVB-T. Namanya DVB-S (Digital Video Broadcasting-Satellite)”, jelasnya.Kelebihan TV DigitalDibandingkan dengan TV analog, penerapan TV digital menawarkan lebih banyak kelebihan. “TV digital lebih hemat spektrum frekuensi. Pada TV analog, satu frekuensi hanya bisa dipakai untuk satu program TV. Sementara, pada TV digital, satu kanal frekuensi bisa dipakai untuk lebih dari satu program, malah bisa lima program acara,” kata Gamantyo.Selain itu, dituturkan olehnya panjang lebar, kualitas sinyal pemancar TV digital lebih baik ketimbang TV analog, untuk kondisi lingkungan yang sama. Contohnya begini. Pada TV analog, tampilan gambar akan rusak atau tampak seperti dobel dan berbayang jika TV terkena pantulan sinar matahari. Pada TV digital, masalah seperti itu tidak akan ditemukan.Dari sisi non teknis, TV digital juga menguntungkan. “Bisnis TV digital memungkinkan munculnya banyak stasiun dan kanal TV baru,” kata Gamantyo. “Ini akan membuka lebih banyak lowongan kerja karena akan mendorong munculnya suplai kanal TV baru.”Keuntungan lain bisa dilihat dari sisi kualitas gambar. “Jika kita menggunakan TV analog, di mobil yang bergerak ngebut, misalnya, gambarnya akan terganggu. Pada TV digital, terutama yang menggunakan standar penerima bergerak, gambar akan terlihat stabil karena penerimaannya bagus,” dia menjelaskan. Beralih ke TV DigitalApa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menerima siaran TV digital? “Yang pasti, pesawat TV harus mendukung standar TV digital―apakah ATSC, DVB-T, atau ISDB-T,” jawab Gamantyo.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kendati demikian, tidak berarti kita harus membeli perangkat TV baru untuk bisa menikmati siaran TV digital. “Masyarakat ekonomi menengah ke bawah tak perlu mengganti TV lamanya dengan yang baru. Mereka cukup membeli perangkat receiver, semacam decoder untuk mengubah sinyal digital yang mereka terima ke televisinya menjadi sinyal analog, agar bisa ditampilkan pada TV biasa,” kata Gamantyo.Asal Anda tahu, nama alat itu adalah “set-top box”. Rupanya kotak kecil dan diletakkan di atas TV set.Tentang uji coba TV digital, Gamantyo menyampaikan baru pernah dilakukan di Jakarta saja, belum secara nasional. Uji coba tersebut pun baru dilakukan untuk mengukur kualitas sinyal digital dan menghitung kebutuhan daya pancar oleh pihak operator TV digital.Apakah kebutuhan untuk beralih ke TV digital sudah mendesak di Indonesia? Ditanya begitu, Gamantyo menjawab, “Dibilang mendesak tidak juga, tapi makin cepat makin baik karena keuntungannya ada banyak. Coba saja bayangkan. Jika dengan TV digital, satu kanal frekuensi bisa dipakai untuk lima program TV, itu sama artinya TV digital bisa membuka lapangan kerja lima kali lebih banyak daripada analog.”Menurutnya, Indonesia bisa dibilang ketinggalan dibandingkan dengan negara lain yang telah lebih dulu mengimplementasikan TV digital, atau punya target implementasi yang lebih cepat. Saat ini, kata Gamantyo, di Indonesia belum ada pemancar TV digital yang diumumkan. Kalaupun ada, itu masih sebatas uji coba.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sosialisasi&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mensosialisasikan sesuatu pada masyarakat bukanlah hal yang mudah. Kendati demikian, Gamantyo optimis tak akan sulit mensosialisasikan TV digital pada masyarakat. “Saya rasa tidak sulit karena akan ada masa transisi di mana TV digital akan dioperasikan bersama dengan TV analog, atau secara multicast. Sambil menunggu produksi set-top box semakin banyak dan masyarakat sudah siap untuk menggunakan TV digital, maka barulah siaran analog dimatikan semua agar pindah ke digital,” tuturnya.Selain sosialisasi, masih ada banyak proses yang harus dilakukan untuk mewujudkan TV digital di Tanah Air. Mulai dari persiapan infrastruktur dan teknologi, pengaturan frekuensi, sampai regulasinya. Semua aspek tentu harus dipikirkan dengan matang, apalagi jika ada banyak kepentingan terlibat di dalamnya, bukan hanya konsumen.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-6210256047255228638?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/6210256047255228638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=6210256047255228638' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6210256047255228638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/6210256047255228638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/12/mengenal-tv-digital.html' title='Mengenal TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-7151684508150383035</id><published>2008-10-26T22:30:00.000-07:00</published><updated>2009-01-02T19:30:27.455-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Menyikapi Lahirnya Era Penyiaran Digital</title><content type='html'>Kamis, 23 Oktober 2008 16:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/10/23/1600400/menyikapi.lahirnya.era.penyiaran.tv.digital"&gt;http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/10/23/1600400/menyikapi.lahirnya.era.penyiaran.tv.digital&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;MESKI tak diwarnai dengan perayaan yang gegap-gempita, pada 13 Agustus 2008 Indonesia telah menapak ke pintu teknologi penyiaran televisi digital. Peristiwa itu berupa soft launching siaran TV digital oleh TVRI. Langkah ini jelas akan menjadi lokomotif bagi perubahan yang bakal cukup radikal di bidang penyiaran televisi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan atau penyesuaian itu tak hanya di sisi penyedia konten dan infrastruktur penyiaran, tetapi juga di masyarakat. Sudah jamak diketahui bahwa masyarakat makin mengandalkan televisi sebagai media informasi sekaligus hiburan, yang ditandai kian tahun kian meningkat peredaran jumlah pesawat televisi. Saat ini ada sekitar 40 juta unit televisi yang ditonton lebih dari 200 juta orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah awal perubahan ini bakal menjadi era baru bagi dunia industri televisi nasional, menggantikan era penyiaran televisi analog yang dimulai pada 17 Agustus 1962 berupa siaran percobaan TVRI dalam acara HUT Proklamasi Kemerdekaan XVII Indonesia dari halaman Istana Merdeka Jakarta. Pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara pertama kalinya dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teknologi TV digital dipilih karena punya banyak kelebihan dibandingkan dengan analog. Teknologi ini punya ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang rusak akibat proses pengiriman/transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu. Kelebihan lainnya adalah efisiensi di banyak hal, antara lain pada spektrum frekuensi (efisiensi bandwidth), efisiensi dalam network transmission, transmission power, maupun consumption power.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, TV digital menyajikan gambar dan suara yang jauh lebih stabil dan resolusi lebih tajam ketimbang analog. Hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak (multipath). Pada sistem analog, efek lintasan jamak menimbulkan echo yang berakibat munculnya gambar ganda (seakan ada bayangan). &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lainnya adalah ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile), misalnya di kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar DVB-T dan DAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah telah memutuskan sistem Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) sebagai standar nasional Indonesia karena dari hasil uji coba yang dilakukan oleh Tim Nasional Migrasi TV dan Radio dari Analog ke Digital, teknologi DVB-T lebih unggul dan memiliki manfaat lebih dibandingkan dengan teknologi penyiaran digital lainnya. &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SQVToLNRBXI/AAAAAAAAABk/BA7vxxMjKGo/s1600-h/TV+digital+jepang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261703689320596850" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 297px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SQVToLNRBXI/AAAAAAAAABk/BA7vxxMjKGo/s400/TV+digital+jepang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Teknologi ini mampu memultipleks beberapa program sekaligus, di mana enam program siaran dapat ”dimasukkan” ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas jauh lebih baik. Ibarat satu lahan, yang semula hanya dapat dimanfaatkan untuk satu rumah, dengan teknologi ini mampu dibangun enam rumah dengan kualitas bangunan jauh lebih baik dan kapasitas ruangan lebih banyak. Di samping itu, penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam program siaran lagi untuk penerimaan bergerak (mobile). Hal ini sangat memungkinkan bagi penambahan siaran-siaran TV baru. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Seorang tenaga ahli dari Jepang sedang menunjukkan beberapa fitur dan aplikasi dalam siaran TV digital di negeri itu kepada delegasi Indonesia yang sedang melakukan studi banding berkait dengan rencana migrasi TV analog ke digital di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi industri radio, secara logis akan ditentukan penggunaan teknologi DAB (Digital Audio Broadcasting) yang dikembangkan sebagai penyeimbang teknologi DVB-T sebagaimana sudah diimplementasikan di lebih dari 40 negara, khususnya negara-negara Eropa. Teknologi DAB bila dikembangkan menggunakan teknologi Digital Multimedia Broadcasting (DMB), yaitu dengan menambahkan DMB multimedia prosesor, akan mampu menyiarkan konten gambar bergerak sebagaimana siaran TV. Hal ini telah menstimulasi para pelaku industri radio untuk mengembangkan bisnisnya dengan menambah konten berupa gambar bergerak, seperti informasi cuaca, peta jalan, video clip, dan film, sebagaimana yang terjadi di industri televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan industri TV yang harus secara total bermigrasi ke digital karena tuntutan perkembangan teknologi, migrasi digital dalam industri radio hanya sebuah pilihan karena teknologi radio FM dianggap sudah cukup memiliki kualitas dan efisiensi yang baik. Apalagi belum lama ini pemerintah baru selesai menata ulang alokasi frekuensi radio FM yang berkonsekuensi pada perpindahan frekuensi bagi sebagian besar operator radio dan timbulnya biaya investasi tambahan bagi operator radio tersebut. Teknologi radio FM tetap akan bertahan sampai belasan tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan migrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi sistem TV digital di Eropa, Amerika, dan Jepang sudah dimulai beberapa tahun lalu. Di Jerman, proyek ini telah dimulai sejak tahun 2003 untuk kota Berlin dan tahun 2005 untuk Muenchen dan saat ini hampir semua kota besar di Jerman sudah bersiaran TV digital. Belanda telah memutuskan untuk melakukan switch off (penghentian total) siaran TV analognya sejak akhir 2007. Perancis akan menerapkan hal sama pada tahun 2010. Inggris sejak akhir 2005 telah melakukan uji coba mematikan beberapa siaran analog untuk menguji penghentian total sistem analog bisa dilakukan pada tahun 2012. Kongres Amerika Serikat telah memberikan mandat untuk menghentikan siaran TV analog secara total pada 2009, begitu pula Jepang pada 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara di kawasan Asia juga sudah mulai melakukan migrasi total. Di Singapura, TV digital diluncurkan sejak Agustus 2004 dan saat ini telah dinikmati lebih kurang 250.000 rumah. Di Malaysia, uji coba siaran TV digital juga sudah dirintis sejak 1998 dengan dukungan dana sangat besar dari pemerintah dan saat ini siarannya sudah bisa dinikmati lebih dari 2 juta rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan pemerintah atas penggunaan DVB-T sebagai standar TV digital terestrial akan menjadi lokomotif terjadinya migrasi dari era penyiaran analog menuju era penyiaran digital di Indonesia. Pilihan ini membuka peluang ketersediaan saluran siaran yang lebih banyak, yang berimplikasi dalam banyak aspek. Untuk itu, peran pemerintah menjadi sangat strategis dalam mempersiapkan pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengisi dan menjadi pelaku industri penyiaran digital. Momentum penyiaran digital ini diharapkan dapat menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya kemandirian bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika memang terlihat cukup besar. Banyak hal yang telah dilakukan, antara lain pembentukan tiga working group (WG), yaitu WG Regulasi TV Digital, WG Master Plan Frequency, dan WG Teknologi Peralatan untuk Persiapan Implementasi TV Digital. Selain itu, telah dilakukan pembentukan konsorsium uji coba TV digital, pembagian set-top box (STB) kepada perwakilan masyarakat, sampai dengan kegiatan sosialisasi ke berbagai daerah yang melibatkan beragam unsur masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi aktif pemerintah dalam implementasi teknologi TV digital ini menjadi penting karena migrasi ini akan menimbulkan revolusi di bidang penyiaran. Tulisan Bambang Heru Tjahjono, ketua WG Teknologi Peralatan Depkominfo di Kompas (12/9), dengan jelas mengajak pentingnya keberpihakan pemerintah dalam pengembangan industri nasional dalam implementasi TV digital ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak potensi industri nasional yang perlu dikembangkan dan dilibatkan untuk berpartisipasi dalam implementasi TV digital ini, seperti PT INTI, Polytron, Panggung, dan Xirka Chipset yang sudah siap dalam industri STB nasional. Begitu pula PT LEN yang telah memfokuskan diri dalam produksi perangkat transmisi. Di samping itu, ada beberapa production house (PH) yang telah siap dalam memproduksi konten berteknologi digital. Peran aktif mereka perlu disambut dan bahkan dipacu agar dapat memberikan kontribusi yang semakin konvergen menuju implementasi teknologi TV digital ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah perlu memberikan semacam insentif bagi industri nasional yang ingin berpartisipasi dalam produksi perangkat TV digital agar tidak kalah bersaing dengan pelaku industri dari negara lain yang secara agresif telah masuk ke Indonesia, seperti China dan Korea. Apalagi beberapa industri nasional kita sudah siap untuk melakukan customized produknya agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, seperti penambahan fitur Electronic Program Guide (EPG) versi Indonesia, Early Warning System (EWS), fitur Interactivity yang lebih baik, dan tidak kalah penting fitur Peoples Meter yang dapat memberikan fungsi viewer rating dan Polling System yang merupakan komponen penting dalam industri siaran TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitur terakhir ini sangat penting agar industri TV kita tidak berada dalam kondisi ”terjajah” dan sangat bergantung kepada lembaga survei asing, yang akurasi hasil rating-nya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Pemerhati Konvergensi Teknologi &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-7151684508150383035?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/7151684508150383035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=7151684508150383035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7151684508150383035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7151684508150383035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/menyikapi-lahirnya-era-penyiaran.html' title='Menyikapi Lahirnya Era Penyiaran Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SQVToLNRBXI/AAAAAAAAABk/BA7vxxMjKGo/s72-c/TV+digital+jepang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-3954083056291894756</id><published>2008-10-26T22:16:00.000-07:00</published><updated>2008-12-15T22:42:59.137-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Kenapa Memilih MPEG-2</title><content type='html'>Jumat, 12 September 2008 03:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/12/01250275/kenapa.memilih.mpeg-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sukemi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Dalam uji coba migrasi televisi analog ke digital yang dilakukan soft launching 13 Agustus lalu telah ditentukan teknologi yang digunakan dalam migrasi tersebut, menggunakan standar broadcast DVB-T dengan alat penerima atau codec standar MPEG-2.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Diakui, sejak lahirnya era multimedia, tayangan video memungkinkan dibuat dalam format digital. File ini memiliki ukuran tertentu yang dinamakan resolusi (dinyatakan dalam panjang x lebar), seperti 320 x 240 pixel, 640 x 480 pixel, dan lainnya. Makin besar resolusi video, maka ukuran bidang gambar yang dapat ditampilkan makin besar pula, demikian juga dengan ukuran file video yang juga makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain resolusi, faktor bit rate atau bandwidth juga memegang peran, di mana nilai ini menentukan seberapa banyak data yang dibutuhkan untuk memainkan file video tersebut per detik. Makin besar bit rate-nya, maka makin tinggi kualitas video digital tersebut. Resolusi yang besar ditambah bit rate yang juga tinggi membuat sebuah file video ”mentah” memiliki ukuran sangat besar. Untuk itu, ada faktor yang tidak kalah penting dalam urusan video digital, yakni teknik kompresi video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik ini merupakan proses matematis rumit yang bertujuan memperkecil ukuran video, tetapi memberi hasil yang sebisa mungkin sama baiknya seperti video ”mentah” yang tidak terkompresi. Idealnya, kompresi yang baik mampu memberi hasil sebaik mungkin dengan ukuran sekecil mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan proses kompresi video, banyak pihak telah turut memberi sumbangsih dengan merancang codec. Sebagai codec standar dunia dalam bidang video digital, selama ini kita kenal MPEG, yang dalam pelaksanaannya kini telah mencapai generasi atau versi 4. Meski demikian, codec standar MPEG-2 yang dibuat pada 1994 tetap masih dipergunakan secara luas, baik untuk urusan video pada keping DVD maupun standar broadcast DVB. MPEG-2 mampu memberikan hasil video yang baik berkat teknik kompresi yang efektif dengan memanipulasi frame pada Group-Of-Picture (GOP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, pada format DVD yang beresolusi 720 ×x 576 pixel memakai kompresi MPEG-2 memiliki bit rate sekitar 10 megabit per detik. Proses penyempurnaan codec MPEG ini telah melahirkan generasi MPEG-4 pada 1999 dan menjadi pelengkap MPEG-2 untuk bidang multimedia berbasis internet dan perangkat genggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MP4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan selanjutnya dari MPEG-4 ini telah mencapai tahap ke-10 dan menjadi standar baru yang dinamai MPEG-4 Advanced Video Coding (AVC) atau juga dikenal sebagai teknologi kompresi H.264 pada 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada kelebihan dari MPEG-4 AVC, di antaranya, pertama, mampu memberi kualitas yang sama baiknya seperti MPEG-2 dengan bit rate yang jauh lebih kecil daripada MPEG-2. Efisiensi tinggi ini didapat berkat teknologi scalable video coding. Dengan bit rate yang kecil, berarti file size-nya menjadi kecil hingga sebuah file video yang dibuat memakai MPEG-4 AVC hanya memiliki file size seperempat dari video yang dibuat memakai MPEG-2 sehingga sekeping DVD dapat menampung beberapa film yang dikompres memakai format MPEG-4 AVC dengan kualitas tetap baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, MPEG-4 AVC menghasilkan gambar lebih baik daripada MPEG-2 pada pemakaian bit rate rendah. Pada kompresi MPEG-2, kualitas gambar hanya dapat dipertahankan bila kita memakai pilihan bit rate tinggi, dan begitu nilai bit rate diturunkan, maka kualitas turun. Namun, MPEG-4 AVC mampu memberi kualitas gambar lebih baik pada bit rate rendah sehingga cocok untuk ruang simpan yang terbatas seperti pada peranti genggam.&lt;br /&gt;Secara umum, MPEG-4 AVC dapat memberikan kualitas gambar yang lebih baik dan mampu mengurangi artefak atau noise akibat proses kompresi. Teknik-teknik baru diperkenalkan dalam teknologi MPEG-4 untuk memperbaiki kualitas gambar, seperti multi-picture inter-picture prediction, lossless macroblock coding, increased precision in motion estimation, dan deblocking filter baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, MPEG-4 AVC dapat diimplementasikan pada bermacam perangkat dengan berbagai format dari streaming melalui jaringan 3G beresolusi QCIF dengan 15 fps hingga full high definition video beresolusi 1920 x 1080 dengan 60 fps. Oleh karena itu, format ini akan dapat dinikmati oleh pemakai telepon genggam, internet, set-top box, hingga HD-DVD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengganti HDTV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat keunggulan format MPEG-4 AVC ini, bisa diprediksi, format ini akan menjadi pengganti MPEG-2 dalam HDTV digital. Ini karena pada jaringan terestrial (DVB-T) ataupun kabel, bandwidth yang tersedia tidak memadai untuk menyiarkan HDTV. Untuk tiap siaran hanya tersedia sekitar 4 Mbps. Padahal, MPEG-2 dalam resolusi high-definition membutuhkan 15 Mbps. Bagi MPEG-4 AVC yang efisien, bandwidth selebar 4 Mbpas sudah mencukupi untuk memberi tayangan kualitas HD. Operator DVB akan dihadapkan pada pilihan apakah akan memakai bandwidth yang ada untuk tetap menayangkan video digital beresolusi standar dengan format MPEG-2 ataukah video digital HD dengan format MPEG-4 AVC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, kenapa dari sekian banyak keuntungan dari teknologi MPEG-4, kita malah memilih menggunakan MPEG-2? Padahal, teknologi MPEG sudah ada versi 4, di mana terbukti secara teknologi jauh lebih baik dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya, tentu lebih pada pertimbangan ekonomis karena kenyatannya MPEG-2 memang jauh lebih murah. Ini penting dijelaskan agar masyarakat mengetahui benar terhadap alasan kenapa pemerintah memilih teknologi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipahami, jika alat penerima atau codec standar MPEG-4 yang digunakan, masyarakat akan merasa keberatan karena harga alat penerima itu jauh lebih mahal ketimbang harga pesawat televisi analog yang kini dimiliki. Pada titik ini, tentu niat pemerintah untuk memberi batas akhir penggunaan teknologi analog sampai tahun 2018 akan menemui kendala. Murahnya teknologi MPEG-2 karena memang royaltinya akan habis pada tahun 2010, sementara MPEG-4 relatif masih mahal karena royaltinya akan habis pada tahun 2013.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain memilih MPEG-2 karena teknologi ini sudah dipakai oleh banyak negara, termasuk negara-negara ASEAN. Sekadar menyebutkan beberapa contoh, negara-negara seperti AS, Jepang, sebagian besar Eropa, Vietnam, Kamboja, Korea, dan India saat ini menggunakan teknologi MPEG-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sukemi, &lt;em&gt;Staf Khusus Menkominfo Bidang Komunikasi Media&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-3954083056291894756?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/3954083056291894756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=3954083056291894756' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3954083056291894756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3954083056291894756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/kenapa-memilih-mpeg-2.html' title='Kenapa Memilih MPEG-2'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-3856135385668132027</id><published>2008-10-26T22:00:00.000-07:00</published><updated>2008-12-07T02:37:19.246-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Alasan Migrasi Penyiaran Analog ke Digital</title><content type='html'>Jumat, 29 Agustus 2008 01:59 WIB&lt;br /&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/29/01594937/alasan.migrasi.penyiaran.analog.ke.digital"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/29/01594937/alasan.migrasi.penyiaran.analog.ke.digital&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Alasan Migrasi Penyiaran Analog ke Digital&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Oleh Sukemi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menjelang peringatan HUT Ke-63 RI, dunia penyiaran (baca: televisi dan radio) menoreh sejarah baru. Sekalipun awal migrasi penyiaran analog ke digital ini baru berupa soft launching, ini merupakan ”hadiah” ulang tahun yang cukup monumental.&lt;br /&gt;Tentu semua ini bukan sekadar gagah-gagahan supaya terlihat sama dengan negara-negara lainnya, melainkan kesempatan ini merupakan sebuah momentum untuk sekaligus membenahi dunia penyiaran negeri ini. Yang penting dari semua itu juga adalah bagaimana perubahan ini juga dapat mendorong pertumbuhan perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya ada enam alasan kenapa harus bermigrasi dari teknologi analog ke digital. Pertama tentu tidak lepas dari tuntutan perkembangan global agar bangsa ini tidak ”keterasingan”. Belum lagi berkait dengan hubungan dagang dan industri serta penanaman modal, yang mau tidak mau harus mengikuti tren perkembangan global itu.&lt;br /&gt;Tuntutan global ini terkait dengan harmonisasi frekuensi di daerah perbatasan dengan negara tetangga. Ini merupakan alasan kedua yang juga menjadi persoalan tersendiri karena memang ranah frekuensi di daerah perbatasan tidak bisa diselesaikan hanya sebatas pada aturan setiap negara. Karena gelombang radio tidak bisa dibatasi oleh batas wilayah geografis, maka antara satu negara dan negara lain memang harus dilakukan harmonisasi. Artinya, jika negara tetangga memang sudah bermigrasi dari analog ke digital, suka atau tidak suka kita pun harus mengikutinya.&lt;br /&gt;Ketiga, mengatasi keterbatasan kanal frekuensi menggunakan teknologi analog. Ini persoalan lain yang kini menjadi perhatian Departemen Komunikasi dan Informatika berkait dengan keterbatasan kanal frekuensi. Seperti diketahui dengan teknologi analog, satu kanal frekuensi hanya digunakan oleh satu program siaran, sedangkan pada teknologi digital, satu kanal dapat digunakan sampai enam program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat masyarakat yang memanfaatkan kanal frekuensi begitu besar. Pada 2007 saja, ada 2.205 permohonan izin penyelenggaraan penyiaran (IPP), terdiri atas 2.020 (radio) dan 185 (televisi). Dengan keterbatasan teknologi analog yang menyebabkan keterbatasan kanal frekuensi, sudah barang tentu permohonan itu sulit direalisasikan. Dengan teknologi digital, peluang bagi yang ingin memanfaatkan bandwidth bertambah dan pemanfaatan spektrum frekuensi lebih efisien.&lt;br /&gt;Aspek lain yang akan diciptakan adalah efisiensi penggunaan infrastruktur (penggunaan tower bersama). Ini merupakan alasan keempat, di mana nantinya dalam penyiaran digital akan dipisahkan antara penyelenggara atau penyedia konten (content provider) dan penyelenggara jaringan (network provider).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan lain dengan digital menjadi alasan kelima, yaitu kualitas gambar dan suara jauh lebih baik, tidak ada noise dan ghost pada tayangan. Pada siaran TV analog, noise bisa menyebabkan menurunnya kualitas audio dan gambar (video) sebelum sinyal mencapai rumah pemirsa.&lt;br /&gt;Sering kali bayangan gambar yang muncul pada teknologi analog akibat adanya sinyal yang datang menyusul, akibat pantulan sinyal dari gedung-gedung sekitarnya. Dengan teknologi baru itu diharapkan tidak ada lagi gambar kabur, gambar ganda (ada bayangan/efek hantu), gambar buram, dan suara berisik. Gambar dan suara dari sebuah TV digital sangat jernih dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi transmisi digital meminimalkan terjadinya gangguan-gangguan itu karena sinyal digital memungkinkan untuk menghindari adanya duplikasi sinyal atau sinyal liar yang mengakibatkan timbulnya noise. Karena itu, tidak akan ada lagi gambar ganda atau bayangan pada tayangannya dan tidak akan ada lagi suara berisik pada speaker. Untuk teknologi transmisinya, Indonesia memilih standar broadcast DVB-T dengan alat penerima atau codec standar MPEG-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan keenam adalah menggali potensi pendapatan negara dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dari tahun ke tahun diharapkan meningkat. Selama ini, dengan teknologi analog, praktis PNBP dihasilkan dari pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi dari stasiun stasiun radio dan televisi yang hanya beberapa kanal.&lt;br /&gt;Dengan teknologi digital, PNBP dapat diperoleh bukan hanya dari penyelenggara network provider, melainkan juga bisa dari penyedia content provider. Tentu saja alasan keenam atau terakhir ini bukan semata-mata yang diharapkan oleh pemerintah karena hal yang paling utama adalah bagaimana menjadikan momentum migrasi dari analog ke digital di dalam menata lembaga penyiaran. Artinya, tujuannya lebih pada bagaimana mengutamakan kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses migrasi terbagi dalam tiga tahap, pertama mulai 2008-2012 meliputi tahap uji coba; penghentian izin lisensi baru untuk TV analog setelah beroperasinya penyelenggara infrastruktur TV digital; dimulai lisensi baru untuk penyelenggara infrastruktur TV digital; pemetaan lokasi dimulainya siaran digital dan dihentikannya siaran analog; mendorong industri elektronik dalam negeri dalam penyediaan peralatan penerima TV digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap kedua, ditargetkan mulai tahun 2013-2017 dengan kegiatan meliputi penghentian siaran TV analog di kota-kota besar dilanjutkan dengan daerah regional lain; serta intensifikasi penerbitan izin bagi mux operator yang awalnya beroperasi analog ke digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap ketiga merupakan periode di mana seluruh siaran TV analog dihentikan, siaran TV digital beroperasi penuh pada band IV dan V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukemi, &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Staf Khusus Menkominfo Bidang Komunikasi Media&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-3856135385668132027?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/3856135385668132027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=3856135385668132027' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3856135385668132027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/3856135385668132027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/alasan-migrasi-penyiaran-analog-ke.html' title='Alasan Migrasi Penyiaran Analog ke Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-516019618250940430</id><published>2008-10-26T21:53:00.000-07:00</published><updated>2008-12-15T22:41:21.496-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Bisakah Era TV Digital Mulai 2009</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kompas, Jumat, 8 Agustus 2008 18:36 WIB&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;AW Subarkah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENTAH kehadiran penyiaran televisi secara digital merupakan hal yang ditunggu-tunggu atau malah sebaliknya. Bukan hanya bisnis media televisi yang akan mengalami perombakan total, tetapi jutaan pesawat televisi pun sekarang harus menggunakan alat khusus untuk menerima siaran digital.Peristiwa ini akan menjadi tikungan tajam bagi para pengusaha. Jika tidak siap, mereka akan disalip kompetitor yang ada di belakangnya. Tetapi situasi peralihan ini juga menjadi peluang bagi yang sekarang tertinggal, atau bahkan baru mulai sama sekali, untuk bisa menjadi pemain papan atas.Negara-negara besar yang sudah memulai migrasi ke digital dilakukan secara bertahap sampai akhirnya penyiaran analog seperti sekarang dihapuskan. Bisa saja negeri ini tinggal meniru langkah mereka, tetapi harus diingat negeri ini masih memiliki persoalan kemiskinan yang jauh lebih hebat dari negara-negara maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dirumuskan cara migrasi yang bijaksana, terutama menyangkut masyarakat kecil yang merupakan mayoritas pemirsa televisi analog sekarang. Bagaimana cara memberikan bantuan kepada masyarakat agar mereka tetap bisa menikmati layanan televisi menggunakan perangkat yang mereka miliki saat ini.Jika tidak hati-hati, persoalan ini bisa dipolitisasi, apalagi tahun 2009 ada hajat besar di republik ini untuk memilih pemimpin terbaik. Masalah teknis ini bisa-bisa menjadi komoditas politik yang bisa memanaskan situasi menjelang Pemilu 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) telah melakukan berbagai persiapan. Mereka, antara lain, menetapkan penggunaan standar TV digital yang digunakan, yakni teknologi DVB-T (Digital Video Broadcast–Terrestrial), sedangkan standar radio digital masih dalam pengkajian."Depkominfo juga tengah menyiapkan regulasi untuk standardisasi perangkat, sedangkan pemetaan kanal frekuensi untuk penyelenggaraan TV siaran digital terestrial, baik TV siaran dengan penerimaan free-to-air maupun TV siaran digital bergerak (mobile TV), telah dilaksanakan," kata Menkominfo Mohammad Nuh dalam sebuah rapat kerja di Jakarta bersama para anggota Komisi I DPR pada 26 Juni 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alokasi kanal frekuensi untuk layanan TV digital untuk penerimaan tetap free-to-air DVB-T pada band IV dan V UHF, yaitu pada kanal 28-45 (total 18 kanal). Di setiap wilayah layanan diberikan jatah enam kanal, dengan setiap kanal dapat diisi enam sampai delapan program siaran. Diharapkan pada tahun 2008 atau selambat-lambatnya tahun 2009 dapat dimulai era penyiaran digital di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu dekat akan dilakukan uji coba siaran (field trial) TV digital. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui aspek teknis dan nonteknis untuk dijadikan model bisnis, prediksi kinerja perangkat, dan layanan siaran yang diharapkan oleh masyarakat dan industri penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moratorium perizinanMenghadapi rencana perubahan ini, setidaknya Depkominfo juga mengambil langkah menghentikan sementara waktu (moratorium) permohonan perizinan bagi penyiaran televisi dan radio. Hal ini mengingat akan banyaknya permohonan perizinan baru dan penundaan ini berlaku sampai era penyiaran digital (digital broadcasting)."Kami juga berkeinginan dalam menjaga dan mengembangkan pertumbuhan industri penyiaran yang sehat perlu diciptakan keseimbangan antara jumlah penyelenggara penyiaran dan jumlah iklan yang ada," kata mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini jumlah permohonan izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) ada 2.425 permohonan. Untuk jasa penyiaran radio terdapat 2.167 perizinan, dengan rincian Lembaga Penyiaran Publik (LPP) 109, Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) 1.707, Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK) 351. Adapun untuk jasa penyiaran televisi sebanyak 258, dengan rincian LPP 12, LPS 179, LPK 13, dan Lembaga Penyiaran Berbayar (LPB) sebanyak 54.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teknologi penyiaran digital slot untuk kanal frekuensi akan menjadi lebih banyak dan pemanfaatan alokasi frekuensi juga lebih efisien. Selain itu, kemungkinan membuat program yang interaktif dengan melibatkan semua pemirsanya akan lebih mudah.Momentum penyiaran digital dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat untuk meningkatkan kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan aplikasi audio, video, multimedia, industri sinetron, film, hiburan, komedi, dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menkominfo menyebutkan, masyarakat juga memiliki kesempatan lebih banyak untuk menjadi pemasok barang dan jasa bidang radio dan televisi digital, menjadi penyedia jasa pemasangan instalasi perangkat radio dan TV digital, membuat program aplikasi, dan kesempatan usaha lainnya.Dalam penyelenggaraan penyiaran digital, Depkominfo saat ini sedang mengkaji penyelenggaraan penyiaran yang terdiri atas penyedia jaringan dan penyedia konten. Kajian ini untuk melihat kemungkinan penyelenggaraan penyedia jaringan yang jumlahnya tidak banyak tetapi membutuhkan investasi yang besar sehingga dalam penyelenggaraannya dapat dilakukan oleh konsorsium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;AW Subarkah,&lt;em&gt; Wartawan Kompas&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-516019618250940430?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/516019618250940430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=516019618250940430' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/516019618250940430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/516019618250940430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/bisakah-era-tv-digital-mulai-2009.html' title='Bisakah Era TV Digital Mulai 2009'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-7282907881827209880</id><published>2008-10-26T21:49:00.000-07:00</published><updated>2009-01-04T22:12:26.387-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>TV Digital di Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/03/tekno/3735730.htm"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/03/tekno/3735730.htm&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini populasi pesawat televisi tidak kurang dari 40 juta unit, dengan pemirsa lebih dari 200 juta orang, jauh lebih banyak dibandingkan dengan komputer, misalnya, yang hanya sekitar 6 juta unit. Perkembangan teknologinya telah memungkinkan terjadinya era konvergensi multimedia, dimana infrastruktur TV, Telekomunikasi dan IT telah menyatu sehingga memungkinkan TV dapat menjangkau pemirsa lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, rencana migrasi teknologi analog ke digital merupakan hal yang harus dipertimbangkan masak-masak agar tidak memberatkan konsumen dan dapat dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk memperoleh kepentingan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi perjalanan panjang industri televisi di Indonesia ini sudah dimulai sejak tahun 1962 dan sampai saat ini teknologinya tidak berubah. Sejarah ini dimulai dengan pengiriman teleks dari Presiden Soekarno yang sedang berada di Wina pada 23 Oktober 1961 kepada Menpen Maladi, waktu itu, untuk segera menyiapkan proyek televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak lanjutnya adalah siaran percobaan TVRI yang dilakukan 17 Agustus 1962, dalam acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia XVII dari halaman Istana Merdeka Jakarta, dengan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt. Pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara pertama kalinya dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berikutnya mulailah dirintis pembangunan stasiun daerah; dimulai dengan stasiun Yogyakarta, yang mulai siaran pada akhir tahun 1964, dan berturut-turut Stasiun Medan, Surabaya, Makassar, Manado, serta Denpasar yang berfungsi sebagai stasiun penyiaran. Yang kemudian mulai tahun 1977, secara bertahap, dibentuklah stasiun-stasiun produksi keliling atau SPK, yang berfungsi sebagai perwakilan di daerah, bertugas memproduksi dan merekam paket acara untuk dikirim dan disiarkan melalui TVRI Stasiun Pusat Jakarta di beberapa ibu kota provinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep inilah yang kemudian mulai tahun 90-an diadopsi oleh beberapa stasiun TV swasta berjaringan (TV swasta nasional), mulai dari RCTI, SCTV, Indosiar, antv, dan TPI, yang dalam perkembangan selanjutnya juga diikuti oleh Trans TV, Metro TV, Global TV, Lativi, dan Trans7. Kecuali TVRI yang juga bersiaran di kanal VHF (very high frequency), dalam siarannya mereka menggunakan kanal UHF (ultra high frequency) dengan lebar pita (bandwidth) untuk satu program siaran sebesar 8 megahertz (MHz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini TV broadcaster di Indonesia juga sedang mendapat "warning" dengan rencana kedatangan teknologi DTV. Sejak tiga tahun lalu, tim nasional migrasi televisi dan radio dari analog ke digital telah melakukan beberapa kajian terhadap implementasi DTV di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian diskusi, seminar, workshop, dan lokakarya yang melibatkan tenaga ahli di bidang DTV dari beberapa penjuru dunia telah dilakukan. Bahkan, uji coba siaran digital TV telah dilakukan sejak pertengahan tahun 2006 menggunakan channel 34 UHF untuk standar DVB-T dan ch 27 UHF untuk standar T-DMB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi DVB-T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil uji coba siaran digital TV, mereka menilai teknologi DVB-T mampu memultipleks beberapa program sekaligus, di mana enam program siaran dapat "dimasukkan" sekaligus ke dalam satu kanal TV berlebar pita 8 MHz, dengan kualitas cukup baik. Di samping itu, penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam program siaran lagi, khususnya untuk penerimaan bergerak (mobile). Hal ini sangat memungkinkan bagi penambahan siaran-siaran TV baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ada beberapa standar yang dapat dirujuk di dunia, yaitu ATSC (Advanced Television Systems Committee) yang telah mengembangkan standar single carrier 8-VSB (8-level vestigial side-band) yang telah dikembangkan dan dipergunakan secara luas di Amerika, Kanada dan Argentina; Standar ISDB-T (integrated serviced digital broadcasting), yang menetapkan metoda modulasi multicarrier BST-OFDM (bandwidth segmented transmission-Orthogonal Frequency Division Multiplex) yang dikembangkan dan dipergunakan di Jepang dan kemudian diikuti oleh Brasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain juga teknologi T-DMB (terrestrial digital mobile broadcasting) dari Korea dan DMB-T (digital mobile broadcasting terrestrial) dari China, serta tentu saja DVB-T (digital video broadcasting-terrestrial) dari Eropa, yang saat ini dipergunakan secara luas di Eropa, Australia, dan Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem ATSC 8-VSB yang pada awalnya dikembangkan di AS untuk mengirim layanan audio video berkualitas tinggi (high quality audio video/HDTV) dan ancillary data, menggunakan arsitektur "layered digital system" yang terdiri atas empat layer, yaitu picture layer yang dapat mendukung sejumlah format video yang berbeda, compression layer yang mengubah contoh sinyal video dan audio ke dalam satu bit stream yang dikodekan (coded bit stream), transport layer yang memaketkan data, dan RF transmission layer yang memodulasi sebuah serial bit stream ke dalam sinyal dengan metode trellis-coding dengan 8 discrete levels signal amplitude yang dapat ditransmisikan melalui channel TV selebar 6 MHz (sampai 8 MHz) dengan data rate 19,4 Mbps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan teknologi berbasis single carrier frequency yang menggunakan modulasi vestigial side-band (VSB) yang mirip dengan yang digunakan dalam televisi analog konvensional. Suatu pilot tone disediakan untuk memfasilitasi akuisisi sinyal berkecepatan tinggi di setiap pesawat penerima (receivers). Complex coding techniques dan adaptive equalization digunakan agar tahan terhadap gangguan pelemahan propagasi (propagation impairments), seperti multipath, noise, dan interference .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sistem OFDM yang digunakan dalam standard DVB-T, ISDB, DMB-T dan T-DMB adalah suatu multicarrier technology yang memecah sebuah single data stream ke dalam paralel, lower rate data streams. OFDM kemudian menggunakan beberapa subcarriers untuk mentransmisikan lower rate streams dari data tersebut secara simultan. Untuk menjamin bahwa masing-masing subcarriers tidak saling interferens satu sama lainnya, spasi frequency di antara subcarriers dipilih secara hati-hati sehingga setiap subcarrier adalah ortogonal terhadap yang lainnya. Teknologi ini juga telah lebih jauh dipergunakan operator seluler untuk mengirimkan paket data telekomunikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap individual subcarriers kemudian dimodulasi secara quadrature amplitude modulation (QAM) atau bisa juga quadrature phase shift keying (QPSK). Teknik pengodean ("C" di dalam COFDM) dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan sistem. Desain multicarrier dari COFDM ini membuatnya tahan terhadap gangguan transmisi, seperti multipath propagation, narrowband interference, dan frequency selective fading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aplikasinya, dibandingkan dengan COFDM, ATSC 8-VSB diyakini oleh banyak pihak memiliki beberapa kelebihan, antara lain data rate nya lebih tinggi, spectrum efficiency lebih tinggi, carrier to noise ratio (C/N) treshold yang lebih tinggi dan kebutuhan daya listrik transmiternya lebih kecil untuk jangkauan yang sama. Namun, diyakini pula bahwa COFDM lebih tahan terhadap gangguan dinamis dan high level static multipath sehingga lebih cocok diaplikasikan dalam mobile reception operation (model 2k dan model 4k) dan SFN/single frequency networks reception operation (8k mode). DVB-T juga mampu memberikan solusi efisiensi bandwidth dengan teknologi multiplexing.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFiYyc-VYI/AAAAAAAAADc/tk9jEbRN8jg/s1600-h/Digital+TV+Diagram.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287615615509353858" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 167px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFiYyc-VYI/AAAAAAAAADc/tk9jEbRN8jg/s320/Digital+TV+Diagram.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terjadinya migrasi dari era penyiaran analog menuju era penyiaran digital, yang memiliki konsekuensi tersedianya saluran siaran yang lebih banyak, akan membuka peluang lebih luas bagi para pelaku penyiaran dalam menjalankan fungsinya dan dapat memberikan peluang lebih banyak bagi masyarakat luas untuk terlibat dalam industri penyiaran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, peran pemerintah menjadi sangat strategis dalam mempersiapkan pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengisi dan menjadi pelaku industri penyiaran digital agar momentum penyiaran digital ini dapat menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya kemandirian bangsa. Pemerintah sudah semestinya dapat memfasilitasi dan ikut berpartisipasi secara aktif dalam implementasi teknologi DTV ini karena migrasi ini akan menimbulkan revolusi di bidang penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun pada era penyiaran digital telah terjadi konvergensi antarteknologi penyiaran (broadcasting), teknologi komunikasi (telepon), dan teknologi internet (IT). Dalam era penyiaran digital, ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu media transmisi. Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh ataupun menyampaikan informasi menjadi semakin mudah dan terbuka. Disamping itu para stakholder yang terlibat dalam industri ini juga semakin luas.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFhQuWZhjI/AAAAAAAAADU/enrDir8nlMg/s1600-h/convergensi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287614377457452594" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 207px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFhQuWZhjI/AAAAAAAAADU/enrDir8nlMg/s320/convergensi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Untuk itu, peran pemerintah menjadi sangat strategis dalam mempersiapkan pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengisi dan menjadi pelaku industri penyiaran digital agar momentum penyiaran digital ini dapat menjadi pemicu tumbuh dan berkembangnya kemandirian bangsa. Pemerintah sudah semestinya dapat memfasilitasi dan ikut berpartisipasi secara aktif dalam implementasi teknologi DTV ini karena migrasi ini akan menimbulkan revolusi di bidang penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VAS dalam Konvergensi Telekomunikasi IT dan Penyiaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun pada era penyiaran digital telah terjadi konvergensi antarteknologi penyiaran (broadcasting), teknologi komunikasi (telepon), dan teknologi internet (IT). Dalam era penyiaran digital, ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu media transmisi. Operator seluler yang selama ini hanya mampu mengirim content berupa voice (suara), data (tek SMS, pesan multimedia, gambar) dan video beresolusi rendah, dalam era TV digital ini akan mampu berperan sebagai network provider yaitu penyedia saluran transmisi bagi industri penyiaran TV, baik TV siaran terrestrial, TV berlangganan (pay TV) maupun IPTV (Internet Protocol TV), yang mampu menyediakan saluran transmisi bagi siaran video beresolusi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat karakter masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan dengan tingkat pendidikan yang sangat beragam, diperlukan tuntunan kepada masyarakat bagaimana memilih program yang benar. Untuk itu, diperlukan broadcaster yang bertanggung jawab dan adanya lembaga pengawas konten yang berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum penyiaran digital dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri senetron, film, hiburan, komedi dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan layanan VAS (Value Added Srvices) berupa multimedia content inilah yang dapat menjadi nilai tambah bisnis Telekomunikasi dan IT untuk berkompetisi lebih jauh untuk memperoleh tambahan income bisnisnya . Diyakini, semakin besar pipa saluran data dapat disediakan, semakin besar pula peluang memberikan layanan multimedia yang semakin murah, variatif dan interaktif kepada pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyediaan jaringan berbasis PDH (Plesiochronous Digital Hierarchy) seperti E1 (2 Mbps), E2 (8 Mbps), E3 (34 Mbps), E4 (140 Mbps) dan SDH (Synchronous Digital Hierarchy) seperti STM-1 (155 Mbps), STM-4 (622 Mbps), STM-8 (1.2 Gbps), STM-16 (2.4 Gbps), merupakan jaringan tulang punggung telekomunikasi yang biasa dipergunakan untuk jaringan transmisi utama telepon (telephone trunk transmission). Dan juga penyediaan jaringan VPN (Virtual Privat Network) seperti MPLS (Multi Protocol Label Switching) dan sejenisnya dapat menjadi saluran yang cocok bagi siaran TV Digital. Solusi lain yang lebih ideal adalah yang mampu menyediakan transport dan agregasi yang lebih cost effective dari beberapa generasi teknologi dan layanan wireless melalui jaringan mobile backhaul berbasis paket berkapasitas tinggi (high-capacity, packet-based mobile backhaul network), yang mampu memberikan solusi transport dengan bandwidth yang efisien untuk layanan berbasis 2G (TDM), 3G (ATM) dan 3G/4G (IP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh ataupun menyampaikan informasi menjadi semakin mudah dan terbuka. Konvergensi ini akan memberikan keuntungan kepada masyarakat penggunanya, lebih jauh lagi tentu akan bermuara pada meningkatnya peluang masyarakat memperoleh akses informasi dan peningkatan tingkat kehidupan ekonomi. Masyarakat akan lebih mudah melakukan aktivitas ekonomi berskala lokal, regional maupun global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat karakter masyarakat Indonesia yang sangat majemuk dan dengan tingkat pendidikan yang sangat beragam, diperlukan tuntunan kepada masyarakat bagaimana memilih program yang benar. Untuk itu, diperlukan broadcaster yang bertanggung jawab dan adanya lembaga pengawas konten yang berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum penyiaran digital dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri senetron, film, hiburan, komedi dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi masyarakat.&lt;br /&gt;Sebagaimana yang sudah terjadi di negara-negara maju, suatu saat akan datang teknologi multimedia home platform (MHP), di mana segala macam aktivitas kehidupan modern, seperti perbankan, bisnis, entertainment, sport, permainan, video on demand, digital pay TV, movie on street, internet TV, laporan cuaca, pembelajaran jarak jauh, doa interaktif dan lain-lain. dll, dapat dilakukan di rumah dan di mana saja dengan memanfaatkan teknologi DTV ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bernardus Satriyo Dharmanto, &lt;em&gt;Pemerhati Penyiaran dan Konvergensi Teknologi&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-7282907881827209880?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/7282907881827209880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=7282907881827209880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7282907881827209880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/7282907881827209880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/perlunya-tv-digital-di-indonesia.html' title='TV Digital di Indonesia'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_asnYEOf-d8A/SWFiYyc-VYI/AAAAAAAAADc/tk9jEbRN8jg/s72-c/Digital+TV+Diagram.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-1701227565102627767</id><published>2008-10-26T21:37:00.000-07:00</published><updated>2008-12-15T22:40:06.739-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Ditolak, Sistem Siaran TV Digital dari Jepang</title><content type='html'>Audio Visual. Kamis, 07 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/07/Audio/3574908.htm"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/07/Audio/3574908.htm&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bambang Heru Tjahjono&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu peristiwa menarik yang terjadi belum lama ini berkaitan dengan rencana implementasi siaran TV digital di Indonesia. Tim Nasional Migrasi Sistem Penyiaran dari Analog ke Digital menolak tawaran teknologi sistem siaran televisi digital dari Jepang yang telah didemokan di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, pada 28 Februari 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dilansir beberapa media, alasannya adalah karena keterlambatan Jepang dalam menawarkan teknologi ISDB-T buatan mereka setelah sebelumnya Tim Nasional sepakat merekomendasikan teknologi Eropa DVB-T sebagai standar sistem siaran TV digital untuk pelanggan tetap di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ini, proses implementasi siaran TV digital di Indonesia terasa kurang terdengar gaungnya di media massa. Padahal, Tim Nasional telah bekerja keras sejak awal 2005 untuk mempersiapkan jalan migrasi dari siaran TV analog ke digital. Sistem siaran TV digital dengan berbagai keunggulannya memang menjanjikan berbagai keuntungan pada masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penonton jadi lebih nyaman menonton siaran TV dengan kualitas gambar lebih tinggi serta terintegrasi dengan fitur layanan multimedia lainnya, termasuk yang bersifat interaktif. Semakin tingginya tingkat layanan dan jenis fitur yang dapat disediakan dengan sistem baru ini juga menjadi daya tarik bagi operator TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, tren teknologi siaran TV di mancanegara pun sedikit demi sedikit telah bergeser dari analog ke digital. Maka, mau tak mau sudah waktunya pula Indonesia memikirkan mekanisme migrasi dari siaran TV analog ke digital. Mekanisme ini harus terencana baik agar tidak memberatkan masyarakat sebagai konsumen maupun operator TV dan penyedia konten, serta memudahkan penyusunan dan pengawasan regulasi oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka persiapan migrasi inilah Departemen Komunikasi dan Informatika pada bulan Januari 2005 membentuk Tim Nasional Migrasi Sistem Penyiaran dari Analog ke Digital. Tim ini beranggotakan sejumlah pejabat, akademisi, dan para pakar dari berbagai instansi, antara lain Ditjen Postel, Ditjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi, Departemen Perindustrian, Departemen Keuangan, BPPT, Bappenas, TVRI, RRI, ATVSI, PRSSNI, PT LEN, dan PT Elektrindo Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran radio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini yang dipelajari bukan hanya migrasi siaran TV, tetapi juga siaran radio dari analog ke digital. Tugas utama Tim Nasional adalah mempelajari berbagai aspek dalam rangka migrasi, di antaranya mempelajari kesiapan regulasi, kesiapan penyelenggara siaran, kesiapan industri dalam kaitan dengan set-top box dan pesawat TV, kesiapan masyarakat baik dari segi teknis maupun sosial, budaya, dan ekonomi, serta pertimbangan aspek politis berkaitan dengan negara tetangga. Mereka juga ditugaskan merencanakan transisi digital ke analog yang diawali oleh masa simulcast di mana sistem analog dan digital dipancarkan bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Migrasi dari sistem TV analog ke sistem TV digital bagi Indonesia memang tidak dapat dihindari. Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar dengan kebudayaan beragam, variasi program-program siaran TV merupakan kebutuhan mutlak. Namun, keterbatasan alokasi frekuensi menyebabkan keterbatasan dalam pemberian izin operasi bagi operator-operator TV baru sehingga kompetisi program menjadi rendah dan masyarakat tidak mempunyai pilihan dalam menyaksikan program-program berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain banyak negara di dunia sudah memulai migrasi dari siaran TV analog ke sistem digital sehingga jika Indonesia tetap bertahan pada siaran TV analog, akan muncul permasalahan di kemudian hari. Maka, peralihan tersebut mau tak mau harus dilakukan, tetapi dengan perencanaan matang dan hati-hati agar tidak merugikan secara ekonomi, tidak terlampau membebani masyarakat, dan tidak menimbulkan kesenjangan baru bagi masyarakat dalam mengakses siaran-siaran televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang ini, cukup wajarlah jika Tim Nasional menolak tawaran teknologi ISDB-T dari Jepang karena berbagai pengkajian dan persiapan menuju implementasi sistem TV digital untuk penerima tetap, yakni untuk pelanggan rumah tangga, memang telah cukup lama mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian timbul pemikiran di kalangan Tim Nasional untuk membentuk tim kecil riset dan pengembangan industri elektronika nasional di bidang siaran digital. Tujuan utamanya adalah untuk menghimpun kekuatan nasional dari semua pemangku kepentingan di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan multimedia, baik dari industri, akademisi, maupun regulator, untuk melakukan riset bersama dalam mengembangkan konten lokal menuju standar nasional siaran digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Set-top box"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah set-top box (STB) perlu mendapat perhatian besar karena perangkat inilah yang akan menjadi jembatan bagi masyarakat untuk menyeberang dari sistem analog ke digital dengan cepat dan mudah. Dengan sendirinya ketersediaan perangkat ini dengan harga semurah mungkin akan ikut menentukan kesuksesan migrasi. Untuk itu, tim kecil industri STB bermaksud mengupayakan agar industri elektronika nasional dapat mengambil momentum ini dengan memproduksi STB Nasional yang khusus dimanfaatkan bagi pasar dalam negeri agar tidak dibanjiri produk STB impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria STB yang hendak dikembangkan ini di antaranya memiliki harga terjangkau, menghasilkan penerimaan berkualitas tinggi baik untuk fixed maupun di kendaraan sesuai kondisi lingkungan Indonesia, memiliki menu berbahasa Indonesia, memanfaatkan kaidah-kaidah yang dipersyaratkan Standar Nasional Indonesia (SNI), sebanyak mungkin melibatkan SDM nasional baik dari lingkungan akademisi, lembaga ristek, maupun industri lokal, serta memiliki fitur Early Warning System.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka persiapan migrasi, Tim Nasional telah melakukan uji coba siaran yang dimulai akhir Januari 2006. Pelaksanaan uji coba untuk siaran televisi digital berlokasi di TVRI, sedangkan untuk siaran radio digital akan berlokasi di Radio Delta Insani Jakarta dan Radio Suara Sangkakala Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun alokasi kanal yang telah disiapkan Ditjen Postel dalam rangka uji coba untuk siaran televisi digital adalah kanal 27 (519.25 MHz) dan kanal 34 (575.25 MHz). Sementara itu, untuk siaran radio digital akan menggunakan frekuensi yang saat ini telah digunakan Radio Delta Insani Jakarta (99.1 MHz) dan Radio Suara Sangkakala Surabaya (106 MHz).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ir. Bambang Heru Tjahjono, MSc, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Staf Senior BPPT dan Anggota Tim Nasional Migrasi Sistem Penyiaran dari Analog ke Digital&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-1701227565102627767?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/1701227565102627767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=1701227565102627767' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/1701227565102627767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/1701227565102627767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/ditolak-sistem-siaran-tv-digital-dari.html' title='Ditolak, Sistem Siaran TV Digital dari Jepang'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-5297135637344298456</id><published>2008-10-26T21:33:00.000-07:00</published><updated>2008-12-15T22:39:28.119-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Ragam Standar Siaran TV Digital</title><content type='html'>Telekomunikasi. Kamis, 15 Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/15/telkom/3385500.htm"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/15/telkom/3385500.htm&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gamantyo Hendrantoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Teknologi penyiaran TV digital telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Keunggulan sistem TV digital dibandingkan dengan analog terletak pada kualitas penerimaan yang lebih baik, kebutuhan daya pancar yang lebih kecil, ketahanan terhadap interferensi dan kondisi lintasan radio yang berubah-ubah terhadap waktu (seperti yang terjadi jika penerima TV berada di atas mobil yang berjalan cepat), serta penggunaan bandwidth yang lebih efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, sistem TV digital memungkinkan pengiriman gambar beresolusi tinggi dengan format high-definition television (HDTV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paruh dekade terakhir, sejumlah standar TV digital untuk siaran terrestrial mencuat dari sentra-sentra kekuatan teknologi modern. Secara kronologis menurut kemunculannya, standar-standar tersebut adalah Advanced Television Systems Committee (ATSC) dari Amerika Serikat, Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T) dari Eropa, Integrated service Digital Broadcasting Terrestrial (ISDB-T) dari Jepang, Terrestrial Digital Multimedia Broadcasting (T-DMB) dari Korea Selatan, Digital Multimedia Broadcasting Terrestrial (DMB-T) dari China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga yang disebut terdahulu sudah cukup sering diperbandingkan oleh para peneliti, baik secara teoretis maupun dengan uji coba di lapangan. Dua yang terakhir baru muncul dan merupakan modifikasi dari sistem-sistem terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem ATSC mengirimkan sinyal TV digital dengan teknik modulasi amplitudo digital yang dipadu dengan pemfilteran VSB untuk membatasi bandwidth. ATSC dipandang lebih sesuai untuk penerima TV yang tidak bergerak dan sejak semula memang dirancang untuk mampu menghantarkan sinyal HDTV. Namun, DVB-T dan ISDB-T yang berbasis teknik OFDM (orthogonal frequency division multiplexing) yang dikombinasikan dengan interleaving memiliki kelebihan dalam kemampuannya untuk menjangkau pelanggan TV yang bergerak, bahkan yang berada di atas mobil berkecepatan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik OFDM membagi aliran informasi TV digital yang berlaju tinggi ke dalam sejumlah sub-aliran dengan laju rendah yang masing-masing akan memodulasi gelombang pembawa yang saling orthogonal. Teknik ini mampu memberikan imunitas terhadap efek lintasan jamak. Sedangkan interleaving—pengubahan urutan simbol-simbol yang ditransmisikan untuk kemudian ditata kembali pada penerima—akan memberikan kekebalan terhadap gangguan kanal yang berupa fading maupun derau impuls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipadu dengan dua lapis teknik pengodean untuk koreksi sinyal, maka sistem DVB-T memiliki ketahanan tinggi terhadap berbagai gangguan akibat kondisi kanal yang buruk dengan adanya derau, lintasan jamak, dan variasi daya terima karena fading. DVB-T juga dapat diimplementasikan dalam mode SFN (single frequency network) di mana suatu operator dapat memasang beberapa pemancar dengan frekuensi yang sama tersebar pada suatu area dengan tujuan untuk memperluas dan memperbaiki kualitas cakupan tanpa perlu menambah frekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004, badan standar Eropa (ETSI) merilis standar baru sebagai pengembangan DVB-T, yaitu DVB-H (H = handheld) yang diperuntukkan bagi pelanggan bergerak dengan pesawat penerima bertenaga baterai seperti PDA atau handphone. Penggunaan tenaga baterai secara hemat untuk penerimaan sinyal TV dalam waktu yang lama dimungkinkan oleh pengiriman sinyal secara tak kontinu. Sinyal TV digital dibagi-bagi ke dalam sejumlah blok yang masing-masing dikirimkan berurutan namun dipisahkan oleh interval waktu kosong sedemikian sehingga terminal penerima dapat menjadi non-aktif selama waktu jeda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem ISDB-T digunakan BST-OFDM (Band Segmented Transmission-OFDM) sebagai sistem transmisi. Satu kanal TV selebar 6 MHz dibagi ke dalam 13 segmen yang masing-masing dimodulasi secara OFDM. Sedangkan sistem T-DMB yang dikembangkan di Korea merupakan modifikasi aplikasi sistem radio Digital Audio Broadcasting (DAB) pada band VHF. DAB dipilih karena sudah teruji keandalannya, efisien dalam penggunaan frekuensi, dan memiliki laju bit yang cukup untuk siaran TV Digital. Satu kanal VHF (di Korea selebar 6 MHz) dibagi ke dalam 3 blok, masing-masing bisa digunakan untuk satu program siaran TV mobile DMB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siaran terrestrial, standar yang dirilis paling akhir adalah DMB-T yang dikembangkan oleh Tsinghua University China yang merupakan modifikasi dari DVB-T. Seperti halnya DVB-T, DMB-T menerapkan dua lapis pengodean dan dua lapisan interleaving untuk mendapatkan ketahanan terhadap derau, interferensi, dan perubahan kondisi lintasan radio terhadap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan DMB-T disebabkan oleh sistem OFDM yang dilengkapi sinkronisasi pada domain waktu (TDS-OFDM). Sinyal sinkronisasi dikirim secara terpisah dari sinyal TV dengan menggunakan teknologi spread spectrum sehingga memberikan ketahanan lebih tinggi bagi sinyal sinkronisasi terhadap derau dan interferensi sehingga proses deteksi OFDM yang membawa sinyal TV menjadi lebih baik pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji coba di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal 2006 Tim Nasional telah melakukan uji coba siaran dengan pemancar televisi digital yang berlokasi di TVRI. Standar TV digital yang diuji meliputi sistem DMB-T, DVB-T, dan DVB-IP. Ditjen Postel telah mengalokasikan kanal 27 (519,25 MHz) dan 34 (575,25 MHz) untuk keperluan uji coba ini. Tim gabungan BPPT dan ITS telah melakukan pengukuran daya sinyal terima di berbagai titik di sekitar pemancar DVB-T yang terpasang pada ketinggian sekitar 100 meter di menara TVRI Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, sistem TV digital memberikan kualitas penerimaan gambar yang lebih baik, bebas dari echo, lebih tahan terhadap pelemahan daya dan gangguan derau (lihat gambar). Analisis dari hasil pengukuran menunjukkan bahwa dengan konfigurasi sistem transmisi yang digunakan saat itu serta dengan daya pancar efektif 400 watt, diprediksi hanya sekitar 60 persen wilayah yang terliput dengan kondisi quasi-error free (QEF) jika diasumsikan radius 4 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih rinci, penerima yang dapat melihat langsung ke pemancar tanpa halangan—biasa disebut line of sight (LOS)—memiliki kualitas cakupan yang sangat baik dengan peluang 95 persen untuk mencapai status QEF. Namun untuk kondisi terhalang, hanya lokasi pada jarak cukup dekat saja yang memiliki peluang serupa, sedangkan lokasi pada jarak menengah dan jauh, antara 2 kilometer sampai 5 kilometer dari pemancar, memiliki kualitas cakupan yang buruk dengan peluang sekitar 10 persen saja untuk mencapai QEF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada gedung bertingkat sampai jarak 5-6 kilometer, sekalipun masih dapat diperoleh kualitas penerimaan yang cukup baik pada lantai yang tinggi, seperti yang telah dicoba pada gedung BPPT. Sebagai catatan, status QEF tidaklah mutlak diperlukan untuk mendapatkan gambar dengan kualitas yang memadai untuk ditonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentunya kondisi terukur di atas masih dapat ditingkatkan dengan berbagai cara, di antaranya dengan mengubah parameter transmisi, seperti jenis modulasi, pengodean, ataupun daya pancar, atau menerapkan SFN. Sebagai contoh, diperkirakan proporsi wilayah cakupan dengan status QEF dapat meningkat sampai 90 persen jika daya pancar efektif dinaikkan sepuluh kali lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji coba sederhana menyusur suatu jalur pengukuran sepanjang 100 meter mengindikasikan bahwa pesawat penerima yang bergerak di atas kendaraan dengan laju 40 kilometer per jam di area seputar Jakarta Pusat dapat mengalami pelebaran spektrum karena efek Doppler sampai sebesar 4 Hz. Pelebaran spektrum ini meningkat sampai 10 Hz jika kendaraan melaju dengan kecepatan 100 kilometer per jam, hal yang bisa terjadi pada jalan bebas hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pengukuran pada sejumlah titik juga menunjukkan kemungkinan munculnya lintasan jamak atau echo dengan beda waktu lebih dari 50 mikrodetik, yaitu jarak waktu terjauh datangnya sinyal duplikat yang masih bisa tertangani oleh sistem OFDM dengan konfigurasi yang digunakan saat ini. Walaupun masih belum konklusif karena keterbatasan sampel, temuan-temuan di atas menunjukkan perlu dipertimbangkannya kondisi lingkungan dan karakteristik perambatan gelombang radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi lebih lanjut masih diperlukan sebelum implementasi siaran TV digital di Indonesia benar-benar dilakukan. Kehati-hatian ini adalah syarat mutlak agar implementasi siaran TV digital dapat memuaskan kepentingan semua komponen yang terlibat, termasuk konsumen, operator, penyedia konten, dan pemerintah selaku regulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Prof. Dr. Ir. Gamantyo Hendrantoro,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Kepala Lab Propagasi dan Radiasi Elektromagnetik, Jurusan Teknik Elektro ITS&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-5297135637344298456?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/5297135637344298456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=5297135637344298456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5297135637344298456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/5297135637344298456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/tv-digital_26.html' title='Ragam Standar Siaran TV Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2436204269347293383</id><published>2008-10-26T21:29:00.000-07:00</published><updated>2008-12-15T22:32:09.443-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TV Digital'/><title type='text'>Mengapa Harus Ada Migrasi dari Analog ke Digital</title><content type='html'>Audio Visual. Kamis, 07 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/07/Audio/3574895.htm"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/07/Audio/3574895.htm&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hary Budiarto&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Migrasi menuju siaran TV digital bukan berarti harus berpindah menggunakan pesawat TV baru yang bisa menerima siaran secara digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sinyal yang dikirimkan dari stasiun pemancar berupa sinyal digital, pesawat TV berpenala (tuner) analog bisa ditambahkan perangkat bernama set-top box untuk dapat menerima sinyal TV digital ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan sinyal digital dibandingkan dengan analog adalah ketahanannya terhadap derau dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di bagian penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code). Keuntungan lainnya adalah konsumsi bandwidth yang lebih efisien dan efek interferensi yang lebih rendah. Pada beberapa standar, hal ini dimungkinkan oleh penggunaan sistem OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem analog, efek lintasan jamak ini akan menimbulkan echo yang berakibat munculnya gambar ganda yang sangat mengganggu kenikmatan menonton. Sinyal digital juga bisa dioperasikan dengan daya yang lebih rendah serta menghasilkan kualitas gambar dan warna yang jauh lebih bagus daripada TV analog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara rinci keunggulan sistem siaran TV digital dibandingkan dengan sistem siaran TV analog meliputi ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang memiliki lintasan jamak serta ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena pergerakan pesawat penerima, misalnya di atas kendaraan yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah kualitasnya seperti pada TV analog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sistem TV digital mampu beroperasi dengan menggunakan mode Single Frequency Network (SFN), di mana stasiun TV yang sama dapat memasang sejumlah pemancar dengan frekuensi yang sama dan tersebar pada wilayah layanan yang luas, sehingga dapat meningkatkan cakupan bagi pelanggannya tanpa memerlukan lebih dari satu kanal frekuensi. Hal ini dapat dicapai jika sistem siaran TV digital tersebut mampu menolerir duplikasi sinyal TV yang sampai pada penerima secara tak bersamaan. Pada beberapa sistem, terdapat pula kemampuan mengirim sinyal televisi digital definisi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas penerimaan sinyal pada mobile terminal (misal telepon genggam atau pesawat penerima di atas kendaraan bergerak) pun saat ini bisa terjaga dengan menerapkan space diversity yang memanfaatkan lebih dari satu antena penerima yang dikombinasikan dengan cara tertentu, serta dengan menerapkan sistem adaptasi perubahan kanal yang cepat dan akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, efek fluktuasi pelemahan sinyal karena lintasan jamak dan efek Doppler dapat dikurangi. Bahkan, varian teknologi siaran TV digital baru seperti DVB-H dan DMB-T memungkinkan penerima bergerak dapat menikmati siaran hanya dengan perangkat penerima sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi layanan, sistem TV digital mampu meningkatkan kualitas siaran di samping memberikan lebih banyak pilihan program kepada pemirsa, serta memungkinkan konvergensi dengan media dan aplikasi lainnya, seperti media internet, aplikasi handphone, dan komputer. Di sisi aplikasi, siaran TV digital memberikan fleksibilitas aplikasi interaktif sehingga akan sangat mendukung kebutuhan interaksi antara suatu enteprise dengan penggunanya baik yang bersifat komersial, nonprofit seperti interactive advertisement, tele-news, tele-banking, tele-shopping, maupun nonkomersial seperti tele-education, tele-working, dan tele-traffic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai standar yang tersedia, memang cukup banyak. Dalam sistem siaran TV digital terrestrial terdapat dua bagian standardisasi, yaitu bagian I, standar untuk kompresi dan multiplexing, serta bagian II untuk kode koreksi kesalahan dan sistem transmisi. Standar untuk bagian I sebagian besar menggunakan Moving Pictures Experts Group-2 (MPEG-2) untuk kompresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bagian II terdapat sejumlah standar TV digital untuk siaran terrestrial yang berkembang, yaitu Digital Video Broadcasting for Terrestial (DVB-T) dari Eropa, Integrated Service Digital Broadcasting Terrestial (ISDB-T) dari Jepang, Advanced Television Systems Committee (ATSC) dari Amerika Serikat, Terrestial Digital Multimedia Broadcasting (T-DMB) dari Korea, Digital Multimedia Broadcasting Terrestial (DMB-T) dari China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing standar dan beberapa variannya telah diadopsi sejumlah negara. DVB diadopsi seluruh Eropa dan sejumlah negara di Asia dan Australia, sedangkan ATSC oleh Amerika Utara dan sejumlah negara di Amerika Selatan dan Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang adalah kalau migrasi memang sudah menjadi niat, standar TV digital mana yang harus kita pilih? Bagaimana pula mengatur perpindahan secara mulus dari sistem analog ke digital tanpa membebani masyarakat untuk membeli perangkat TV baru ataupun set- top box yang mahal? Mencari jawaban isu-isu ini adalah tugas Tim Nasional Migrasi Siaran Analog ke Digital yang dibentuk Menkominfo sejak 2005. Mungkin dengan melirik apa yang terjadi di negara lain, kita bisa mengambil pelajaran berharga dalam kaitannya dengan migrasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi sistem TV digital di Eropa, Amerika, dan Jepang sudah dimulai beberapa tahun lalu. Di Jerman, proyek ini telah dimulai sejak tahun 2003 untuk kota Berlin dan tahun 2005 untuk Muenchen. Sedangkan negara-negara lain baru berencana mulai tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2010, Perancis juga akan menerapkan hal sama. Di Inggris, akhir tahun 2005 dilakukan uji coba mematikan beberapa siaran analog untuk menguji bahwa penghentian total sistem analog memang bisa dilakukan pada tahun 2012. Bahkan, di Amerika, Kongres telah memberikan mandat untuk menghentikan siaran TV analog secara total (switched off) pada 2009, begitu pula Jepang pada 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara di kawasan Asia juga akan mengikuti migrasi total dari sistem analog ke digital. Di Singapura, TV digital telah diluncurkan sejak Agustus 2004 dan saat ini telah dinikmati lebih kurang 250.000 rumah. Di Malaysia, siaran TV digital juga sudah dirintis sejak 1998 dan saat ini diharapkan bisa dinikmati 1,8 juta rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses migrasi sebenarnya juga memiliki beberapa tantangan, di antaranya adalah penyediaan pesawat penerima siaran TV digital dengan harga terjangkau bagi masyarakat, atau penyediaan set-top box yang semurah mungkin. Implementasi siaran TV digital di AS sebenarnya tidaklah mulus begitu saja. Tantangan terutama datang dari para produsen TV, meski mereka tetap konsisten untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut National Association of Broadcasters (NAB), di AS saat ini terdapat sekitar 1.500 dari 1.700 stasiun lokal yang memancarkan sinyal digital HDTV (televisi berdefinisi tinggi). Namun, hanya 5 persen rumah tangga yang memiliki TV yang bisa menerima konten digital dan sedikitnya 73 juta pesawat belum bisa menangkap sinyal digital. Karena itu, diperlukan regulasi untuk memberikan subsidi bagi konsumen yang akan membeli konverter digital ke analog atau TV baru, agar seluruh pemancar di AS akan mengudara dengan hanya sinyal televisi digital pada akhir tahun 2006 atau ketika 85 persen pemirsa sudah bisa menangkap sinyal digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, siaran digital sebenarnya sudah dimulai sejak 1997 dalam format TV digital satelit dengan jumlah pelanggan saat ini melebihi 200.000. Sedangkan kandidat konsumen siaran TV digital terrestrial yang cukup menjanjikan adalah para pengguna telepon seluler dan peranti PDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan daya kecil (baterai) secara irit juga harus menjadi pertimbangan. Segmen lain yang juga menjanjikan adalah rumah tangga pemilik pesawat TV. Jumlah pemilik TV saat ini sebanyak 40 sampai 50 juta rumah merupakan pasar yang sangat potensial bagi industri konten atau aplikasi siaran TV di Indonesia. Dalam hal ini, kemampuan mengirimkan gambar yang beresolusi tinggi lebih menjadi prioritas dibandingkan dengan ketahanan terhadap perubahan kondisi karena pergerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam keinginan dan harapan dari berbagai komponen masyarakat perlu diakomodasi dalam proses migrasi ke siaran TV digital. Operator stasiun televisi tentunya menginginkan sistem siaran TV digital yang mampu memberikan kualitas penerimaan sinyal yang tinggi dengan daya pemancar yang serendah-rendahnya. Fitur lain yang dikehendaki operator adalah SFN yang memungkinkan perluasan area cakupan dengan stasiun pemancar yang tersebar namun semua beroperasi pada kanal frekuensi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah sebagai regulator menginginkan sistem siaran TV digital dengan efisiensi spektrum yang tinggi, mampu mengakomodasi stasiun TV sebanyak-banyaknya dalam spektrum frekuensi yang dialokasikan untuk siaran TV. Di samping itu, siaran TV digital tersebut harus dapat menunjang terjadinya transisi yang mulus dari analog ke digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DR. Hary Budiarto, MSi, Kepala Divisi Teknologi Komunikasi dan Komputasi BPPT&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2436204269347293383?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2436204269347293383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2436204269347293383' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2436204269347293383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2436204269347293383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/tv-digital.html' title='Mengapa Harus Ada Migrasi dari Analog ke Digital'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1076745601698183406.post-2014022997522403490</id><published>2008-10-11T22:04:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T19:30:19.679-07:00</updated><title type='text'>Selamat Datang, Welcome</title><content type='html'>Selamat Datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman, Blog ini dipersiapkan bagi anda yang ingin berbagi informasi terkait dengan perkembangan TV Digital di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui, layanan TV Digital telah diluncurkan di Indonesia sejak 13 Agustus 2008 lalu, melalui Soft Launching Siaran TV Digital di Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah, melalui Depkominfo yang dimotori oleh Konsorsium TV Digital Nasional beranggotakan TVRI, RRI dan PT. Telkom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala macam informasi terkait dengan perkembangan TV digital di Indonesia dapat diperoleh di dalam Blog Ini. Sumbang saran berupa materi, usulan, kritikan dapat disampaikan melalui e-mail &lt;a href="mailto:digitaltvindonesia@gmail.com"&gt;digitaltvindonesia@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap Blog ini dapat menjadi referensi yang berharga bagi perkembangan TV Digital di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Moderator Blog.&lt;br /&gt;Satriyo Dharmanto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1076745601698183406-2014022997522403490?l=digitaltv4indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/feeds/2014022997522403490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1076745601698183406&amp;postID=2014022997522403490' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2014022997522403490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1076745601698183406/posts/default/2014022997522403490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://digitaltv4indonesia.blogspot.com/2008/10/selamat-datang-welcome.html' title='Selamat Datang, Welcome'/><author><name>DigitalTV4Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07647868011035332824</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
